Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 21 (S2)


__ADS_3

Reno menutup pintu mobil dengan santai. Dua pria yang biasanya bertugas membukakan pintu mobil hanya diam di tempat. Percuma saja mereka membukakan pintu untuk sopir pribadi Vano, pria itu pasti akan membuka pintu sendiri.


Dari balik topinya ia melirik sekilas ke arah dua orang itu. Sebelum melangkah ke teras rumah, Reno memperbaiki posisi topinya terlebih dahulu untuk memastikan wajahnya tidak terlihat dari depan. Setelah selesai, barulah ia berjalan dengan langkah yang lebar.


Belum sempat tangannya membuka pintu utama, dua pelayan sudah membukakan dan menyambutnya sambil menyuguhkan senyuman maut. Sebenarnya sudah biasa jika ada pelayan yang menyambut nya demi mendapat perhatian. Akan tetapi ada hal yang tidak biasa hari ini, biasanya pelayan tidak ada yang bermake-up, mereka hanya menggunakan bedak tipis serta lipstik yang natural. Tapi hari ini mereka benar-benar merias wajah mereka semaksimal mungkin.


Bibir merah menyala, eyeliner dengan buntut panjang, alis dibentuk seperti garis katulistiwa, eyeshadow palette dengan warna menyala, blush on yang disapukan tebal. Mereka juga membentuk tampilan ilusi wajah dengan countur agar wajah mereka terlihat proporsional.


"Ada apa dengan mereka? Apakah mereka mau pergi ke pesta? Atau mau ikut main topeng monyet?" Reno mengerutkan keningnya.


"Selamat datang. Silahkan masuk." Dua pelayan itu berkata selembut mungkin dan memamerkan senyuman semanis mungkin.


Jujur, wajah mereka tidak seburuk topeng monyet. Hanya saja mereka tidak bisa menyesuaikan riasan wajah mereka dengan bentuk wajah. Bukannya terpikat, Reno malah merasa risih.


Tanpa berbicara sepatah katapun, Reno berjalan melewati dua pelayan yang sedang berdiri di dua sisi pintu. Reno meneruskan langkah sambil mengatur nafas. Ia mulai merasakan aura-aura yang aneh di dalam rumah.


Jika dilihat dari posisi ruangan dan perabotan, tidak ada hal yang aneh. Tapi jika dilihat dari mata para pelayan yang berjejer di ruang tengah, maka terasa lah aura berbahaya.


"Sopir pribadi, apakah kau lelah?" Seorang pelayan yang berstatus janda datang menghampiri dengan segelas jus di tangannya.


Reno mengerutkan keningnya, ia menggeleng sambil mengangkat tangan sebagai isyarat agar pelayan tersebut menyingkir dari jalannya.


"Apakah kau lapar?" Datang lagi satu pelayan membawakan nasi dan lauk-pauk di atas nampan.


"Apakah kau ingin camilan?" Winda datang membawa makanan ringan di piring.


Reno mengedarkan pandangannya ke segala sisi. "Apa-apaan ini? Mengapa para pelayan mengumpul di sini. Mereka semua berdandan dan masing-masing ingin mendapatkan perhatianku." Reno mulai merasa risih.


"Sopir, apakah kau ingin aku pijit?"


"Apakah kau ingin mandi air hangat?"


"Aku membuatkan kue yang sangat enak, coba kau makan?"


"Kau pasti lelah, biar aku siapkan kamar agar kau bisa beristirahat."


"Apa ...."

__ADS_1


"Pasti ...."


"Sopir ...."


"Diam!" Reno membentak semua pelayan. Tangannya mengepal kuat. Sedari tadi ia sudah menahan rasa jijik dan risih. "Jika kalian masih mendekati ku, aku tidak segan-segan memberikan pelajaran pada kalian," ancam Reno dengan nada dinginnya.


Semua pelayan menjerit, tapi bukan jeritan terkejut ataupun takut, tapi mereka menjerit senang. "Akhirnya dia mau berbicara juga," ucap salah satu pelayan.


"Iya, suaranya merdu sekali, aku sampai meleleh," sahut yang lainnya.


"Aku mau dong diberi pelajaran," ucap Winda sambil mengedipkan sebelah matanya.


Reno langsung merinding melihat semua mata pelayan berbinar layaknya macan yang melihat daging segar, belum lagi wajah mereka yang mulai terlihat mesum.


"Pelayan di sini jadi berbahaya. Mereka semua sudah gila." Reno menyingkirkan tangan pelayan yang menghalangi jalan ke lantai dua.


"Aaa! Sopir pribadi tuan Vano menyentuh tanganku!" Pelayan tersebut berjingkrak senang.


Reno berjalan menggunakan jurus kaki seribu dan menaiki anak tangga. Ia mendengar banyak langkah di belakangnya. Sepertinya para pelayan mengikuti dari belakang. Tapi tak lama kemudian suara itu berhenti.


"Hei! Kalian jangan mengganggu ketenangan sopir pribadi tuan Vano!"


"Hufft, ternyata dia ada gunanya juga," ucap Reno dalam hati.


Lia melirik ke arah Reno yang sedang menatap ke arahnya. "Kalian jangan mengganggu dia lagi. Dia adalah kekasihku."


Reno memutar bola matanya lalu menatap ke lantai dua dan meneruskan langkahnya. "Ternyata sama-sama gila."


Di saat lantai satu mengalami kehebohan, di lantai dua, tepatnya di kamar Nirmala dan Vano, ada dua wanita yang tengah heboh tertawa sambil menonton layar laptop. Ara dan Nirmala tertawa terbahak-bahak sampai-sampai perut mereka sakit. Ara tidak henti-hentinya memegang perut sambil tertawa.


"Hahaha, lihat betapa repotnya dia menghadapi beberapa pelayan saja. Hahahaha, aku yakin dia sedang pusing tujuh keliling," ucap Ara sambil tertawa keras.


"Hahahah, sudah-sudah. Cepat matikan laptopnya. Dia akan datang." Nirmala mengingatkan Ara bahwa sebentar lagi Reno akan datang ke kamar itu.


Segera Ara mematikan laptopnya. Tidak lupa ia mengelap air mata kebahagiaan yang keluar saat ia tertawa tadi.


'Tok-tok-tok'

__ADS_1


Nirmala menekan tombol yang ada di samping nakas. Pintu kamar terbuka secara otomatis. Tampaklah Reno yang sedang merapikan kemejanya.


Reno segera menunduk memberi hormat. "Selamat pagi, Nyonya Besar."


Nirmala tersenyum. "Selamat pagi juga. Ada apa?" tanya Nirmala.


Reno tidak langsung menjawab, matanya langsung beralih pada Ara yang sedang pura-pura tidak melihat keberadaan Reno. Dari balik topi, Reno menatap lekat pada gadis imut itu.


"Ada apa, sopir pribadi?" tanya Nirmala sekali lagi. Ia bertanya seolah-olah ia tidak mengerti apa-apa.


Sambil masih melihat wajah Ara, Reno menyatakan apa yang sedang ia pikirkan. "Saya rasa ada yang tidak beres di rumah ini."


Ara masih tidak melihat ke arah Reno.


"Dan saya rasa ini semua ada sangkut pautnya dengan Anda dan juga pengawal pribadi Anda," lanjut Reno.


Ara langsung menoleh ke arah Reno. Ia memasang wajah tidak berdosa. Tidak tanggung-tanggung, ia sudah latihan untuk mengeluarkan ekspresi yang meyakinkan.


"Aku?" Ara menunjuk wajahnya sendiri.


Nirmala melihat wajah Ara. Ia yakin dengan ekspresi seperti sekarang, Reno pasti akan percaya pada Ara.


Reno tersenyum sinis. "Aku yakin kau berlatih akting dari sinetron. Asal kau tahu, aku tahu bahwa kau sedang berakting menjadi tokoh polos yang tidak tahu apa-apa," ucap Reno dengan nada mengejek.


Ara berdiri, berjalan cepat ke arah Reno, menarik tangan pria itu, mendorong Reno ke dinding kamar, lalu mengurung Reno dengan kedua tangannya. Ia menatap dalam ke mata Reno. Dari bawah topi, ia bisa menatap Reno dengan leluasa.


Nirmala membulatkan matanya, tidak percaya Ara bisa melakukan hal itu.


Ara mendekatkan wajahnya pada Reno yang masih terbengong-bengong mendapatkan serangkai gerakan mendadak.


Nirmala menutup matanya dan juga menutup perutnya, berharap yang ia tutupi adalah mata calon bayinya. Ia pikir Ara akan mencium Reno, sehingga ia harus menjaga matanya serta mata calon bayinya agar tidak ternodai.


"Asal kau tahu, aku sedang tidak berpura-pura. Lihat mataku." Ara semakin memperdalam tatapannya. Mungkin saat ini tatapannya sudah sampai di depan hati Reno. "Aku sedang tidak berbohong. Bisakah kau tahu itu?"


Reno diam, tidak berbicara maupun bergerak. Entah mengapa otaknya berhenti bekerja untuk sesaat.


"Apakah kau percaya padaku sekarang?" tanya Ara sambil berbisik.

__ADS_1


Reno menelan salivanya dan ....


Dan apa hayo...🤭😁


__ADS_2