Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 24 (S2)


__ADS_3

Keesokan harinya, hari ini adalah hari Minggu. Vano tidak berangkat ke kantor, akan tetapi ia tetap bekerja di ruang kerjanya. Seharusnya hari ini ia menikmati hari libur, akan tetapi karena ada kerja sama baru, maka ia pun harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum tanda tangan proyek dilaksanakan. Ia juga mengundang Farhan untuk membantunya menyelesaikan pemeriksaan laporan.


Sedangkan hari ini Nirmala ingin pergi berbelanja. Ia sudah meminta izin pada Vano. Vano mengizinkannya tapi dengan syarat Ara tidak boleh lengah dan meninggalkan Nirmala walaupun hanya sedetik. Dan Reno yang harus mengantarkan Nirmala.


Tentu saja semuanya sudah direncanakan oleh Ara dan juga Nirmala. Mereka tidak akan pernah menyerah sampai hari Reno benar-benar melunak.


Semua pelayan serta petugas berdiri berjajar di depan teras. Mereka menunda pekerjaan demi mengantar nyonya besarnya ke teras rumah. Nirmala memberikan senyum pada semua pelayan. Sedangkan Ara dan Reno memasang wajah datar, mereka berdua sama-sama tidak suka menebar senyum.


Reno masih berdiri di depan pintu mobil, menunggu Nirmala dan Ara masuk ke dalam mobil.


"Semoga perjalanan Anda menyenangkan, Nyonya Besar," ucap kepala pelayan dengan sopan.


Nirmala mengangguk. "Terima kasih."


"Sopir, kau juga hati-hati," ucap Lia sambil mengedipkan matanya.


Reno ingin sekali mengekspresikan rasa gelinya dengan bergidik ngeri dan jijik. Namun ia sama seperti Vano, tidak suka dan tidak pandai mengekspresikan diri. Ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil di saat dua wanita menertawainya.


"Lia, dia langsung masuk ke dalam mobil. Mungkin dia merasa malu dan tersentuh," ucap Nirmala mengompori.


Reno menatap Nirmala dari dalam mobil. "Entah apa maunya nyonyaku yang satu ini." Reno berdecak kesal.


Ara membuka pintu sendiri, sedangkan Nirmala dibukakan pintu oleh pekerja yang biasanya.


"Jalan," perintah Ara pada Reno.


Di samping Ara, Nirmala sedang menahan tawa sambil memasang sabuk pengaman.


Reno melirik tajam ke arah kaca spion depan. "Berani kau memerintah ku? Kau bukan nyonyaku."


Ara melipat tangan sambil mengambil nafas santai. "Sepertinya kau lebih memilih wajahmu menjadi tatapan lezat untuk mata para pelayan."


Reno tahu sekarang Ara sedang mengancamnya dengan rekaman video yang menampakkan wajahnya dengan jelas. Seandainya malam itu ia tidak terkejut oleh ciuman Ara, mungkin ini tidak akan terjadi.


Sambil mencengkram setir dengan kuat, Reno menginjak pedal gas. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah besar keluarga Ravaldi.


Nirmala memilih belanja di mall terdekat. Ia tidak ingin pergi terlalu jauh karena khawatir akan kelelahan dan itu tidak akan baik untuk kandungannya. Reno memarkirkan mobilnya di parkiran mall. Setelah mesin mobil dimatikan, Reno membuka pengunci pintu mobil.


"Apakah Anda yakin akan berbelanja di mall yang kecil ini?" tanya Reno.


Sebenarnya bukan masalah mall kecil atau besar, akan tetapi keamanan mall kecil lebih minim, ia khawatir ada bahaya yang mengintai sedangkan mereka tidak pergi bersama bantuan bodyguard.


Nirmala mengangguk. Sambil melepas sabuk pengaman, ia menjawab, " Tidak masalah. Untuk ku sama saja."


Ara juga melakukan hal yang sama seperti Nirmala. Akan tetapi ia tidak berhasil membuka sabuk pengaman. Kunciannya terlalu kuat untuk dibuka. Ara mengeluarkan tenaganya akan tetapi ia tidak bisa juga.

__ADS_1


Ara menatap tajam ke arah Reno yang sedang menatap ke depan, seolah tidak melakukan apapun. "Buka sekarang," perintah Ara.


Reno diam seperti tidak tahu bahwa Ara sedang berbicara dengan nya.


"Apakah kau tuli?" ucap Ara dengan ketus.


Reno melirik ke arah kaca spion depan. "Kau berbicara dengan ku?" tanya Reno masih pura-pura tidak tahu.


"Kau pikir aku berbicara dengan siapa lagi? Apakah kau pikir aku akan berani berbicara seperti itu pada nyonya besar?" Ara mulai kesal.


Reno memperbaiki posisi topinya. "Ada apa?"


"Bukakan sabuk pengaman ini," perintah Ara dengan tegas.


Reno melirik ke arah spion lagi. "Sabuk pengaman ini sama seperti sabuk pengaman pada umumnya. Mengapa kau tidak bisa membukanya? Apakah kau tidak pernah naik mobil?"


Ara semakin kesal. Bisa-bisanya pria itu menjahilinya di saat ia memiliki sesuatu yang bisa mengancamnya. Akhirnya Ara kehabisan kesabaran. "Jangan salahkan aku."


'Drak!'


Sabuk pengaman rusak karena ditarik sekuat tenaga oleh Ara. Nirmala dan Reno terkejut mendengar dan melihat nya. Akan tetapi Reno tidak mengekspresikan keterkejutannya.


"Gadis ini memiliki tulang besi dan otot baja." Reno bergumam dalam hati.


"Kau berani merusak mobil super mahal tuan besar?" tanya Reno.


Nirmala menahan tawa, ia hanya bisa tersenyum sambil membuka pintu. "Lain kali jangan pancing amarah singa betina."


Reno tidak menjawab, ia memilih segera keluar dari mobil mengikuti Nirmala yang sudah mulai melangkah ke mall.


Selama Nirmala berbelanja, Reno dan Ara mengikuti dari belakang. Mereka berjalan berdampingan bak pasangan kekasih, akan tetapi tidak dengan ekspresinya. Mereka berdua sama-sama memasang wajah serius, dan mata mereka selalu mengawasi setiap sudut mall.


"Wah, kalian baru menikah ya?" Tiba-tiba terdengar sapaan dari samping mereka.


Nirmala menoleh ke belakang lalu tersenyum pada Ara.


Reno melihat Ara dan ibu-ibu itu secara bergantian. Sedangkan Ara tersenyum manis.


Tiba-tiba Ara melingkarkan tangannya di lengan kekar Reno. Tidak lupa ia menyandarkan kepalanya di lengan itu juga. "Benar, kami baru seminggu menikah," jawab Ara.


Reno ingin sekali menghempaskan Ara pada saat itu juga. Akan tetapi ia juga tidak ingin gadis itu dipermalukan di depan umum. Akhirnya Reno memilih menekan emosinya di dalam hati.


"Semoga cepat-cepat diberi momongan ya," lanjut ibu itu lagi.


Ara mengangguk, mendongak melihat wajah Reno dari bawah topi. "Amin, kami memang sedang berusaha."

__ADS_1


Nirmala hampir tidak sanggup menahan tawanya. Reno benar-benar tidak pernah berurusan dengan wanita. Jika ia punya pengalaman, pasti ia akan malu setengah mati dengan ucapan Ara yang terakhir. Ya, sepertinya Reno tidak peka.


"Ooh, baguslah. Sering dan teratur itu bisa mempercepat loh. Saya senang, pasangan muda zaman sekarang terlihat lebih romantis daripada saat zaman saya dulu. Kami kaku pada pasangan," ucap ibu itu lagi.


"Hahaha, mungkin jika dengan pria lain, saya tidak akan bisa bermanja seperti ini. Suamiku ini sangat lembut dan perhatian. Dia manis dan juga sangat tampan." Ara mencubit pipi Reno. "Dan dia sangat pandai dalam memanjakan saya."


Ibu itu tersenyum lebih lebar. "Manja dalam hal apa? Jangan-jangan setiap malam--"


"Sepertinya kita harus segera pergi." Reno menarik tangan Ara dan berjalan cepat meninggalkan ibu yang menyapa tadi. Bahkan Nirmala pun ditinggal di sana.


Reno terus menarik tangan Ara sampai mereka berada di tempat yang sepi. Reno mendorong Ara ke dinding lalu mengurungnya di antara kedua tangan. Ia menatap Ara dengan tatapan tajam.


"Beraninya kau berbicara sesuka hatimu. Ingin mati?" Reno benar-benar tidak sedang bercanda.


Ara tersenyum lebar, tidak takut sama sekali. "Ingin aku sebarkan video tadi malam? Ingin para pelayan semakin tergila-gila padamu?" Ia balas mengancam Reno.


'Bukk!'


Reno meninju tembok tepat di samping wajah Ara. Ia tidak bisa berbicara apapun karena ia tidak ingin video itu tersebar.


Reno menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Masih dengan posisi yang sama, Reno bertanya pada Ara, kali ini dengan nada yang sedikit santai namun tetap tidak mengurangi tekanan. "Lalu apa maumu?"


Ara tersenyum semakin lebar.


"Sial, kenapa sekarang jantungku berdetak kencang seperti ini saat melihat dia tersenyum." Reno mengumpat dalam hati.


"Anggap lunas semua hutangku, turuti semua perintahku, dan penuhi semua keinginanku. Mudahkan?" ucap Ara masih dengan senyumannya.


Cukup lama dalam keheningan, akhirnya terdengar sedikit suara dari Reno.


"Hm." Reno setuju walaupun dalam hati ia sama sekali tidak sudi.


Di lain tempat, tepatnya di rumah di ruang kerja Vano, Vano sedang melihat layar ponselnya. Ia tidak henti-hentinya tersenyum. Ia melihat bagaimana adiknya sedang mengurung Ara di antara dan tubuhnya.


"Bagaimana?" Terdengar suara berbisik dari seberang panggilan video.


Vano tertawa kecil. "Aku tahu, Reno mulai berubah walaupun sangat sedikit. Lanjutkanlah, aku akan selalu mendukung semua rencanamu, Sayang."


"Terima kasih, Sayang. Baiklah, aku akan turun sambungan teleponnya sekarang sebelum mereka mengetahui bahwa aku sedang memperhatikan mereka," ucap Nirmala dari seberang telepon.


Vano mengangguk. "Baiklah, hati-hati dan jangan sampai kelelahan."


Nirmala membalik kamera. "Tentu."


Setelah sambungan telepon dimatikan, Vano menarik nafas panjang kemudian tersenyum. Farhan yang sedang serius memeriksa laporan tidak bertanya apapun. Jika sudah melihat tuannya tersenyum seperti itu, lebih baik tidak usah diganggu.

__ADS_1


Janji sudah Sely penuhi ya🤗


__ADS_2