
Sain yang baru kembali dari lantai bawah sangat marah ketika melihat gadisnya sudah terlepas. Terlebih orang yang melepaskannya adalah anak buahnya sendiri.
"Danu sialan!" teriak Sain.
Sebelum Sain berjalan masuk ke dalam kamar, Danu menarik tangan Ara untuk ikut melompat dari jendela. Akan tetapi Ara malah menolak dan menarik tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Ayo pergi." Danu menjadi bingung dan panik. Apalagi Sain sudah melangkah mendekat.
"Apa kau ingin mati dengan loncat dari lantai atas?" Ara menoleh ke arah Sain. "Biar aku yang membereskan pria busuk ini."
Ara berlari ke arah Sain. Tentu saja Sain kebingungan pada awalnya, akan tetapi setelah melihat tangan gadis itu sudah dalam posisi siap melayangkan tinju, Sain langsung mempersiapkan diri untuk menangkis serangan.
Akan tetapi siapa yang akan menyangka, ketika dua langkah lagi pada Sain, kaki kanan Ara menekan lantai sebagai tumpuan untuk melompat. Ketika ia berada di udara, Ara memutar badan dan melayangkan tendangan samping yang sangat kuat. Tendangan itu berhasil mengenai kepala bagian kiri Sain.
"Apa yang aku katakan tadi memang terbukti benar. Kau adalah penguasa yang tidak berguna," ledek Ara ketika Sain sudah tersungkur ke lantai.
Danu terkejut melihat Ara dengan mudahnya menghajar tuan mudanya. Akan tetapi ia tahu bahwa sebentar lagi semua penjaga akan datang karena ia melihat Sain mengeluarkan remote kecil dari saku celananya.
"Kita tidak memiliki banyak waktu. Cepat pergi sebelum mereka semua datang."
Danu langsung menarik tangan Ara dan mereka pun kabur bersama.
"Sialan! Aku akan menemukanmu bagaimanapun caranya!" Sain sangat-sangat murka.
Karena Ara bukan gadis seperti pada umumnya, ia bisa lari lebih cepat dari pada Danu, sebab itulah mereka berdua bisa lolos dari dalam rumah besar Sain dengan cukup mudah. Akan tetapi semuanya belum selesai karena masih ada beberapa anak buah Sain yang mengejar di belakang mereka.
Cukup jauh mereka berlari, akhirnya mereka sampai di jalan besar. Akan tetapi di sana tidak ada kendaraan umum apapun. Bahkan jarang sekali kendaraan yang lewat. Sampai akhirnya Ara menemukan titik di mana ia merasa lelah. Kakinya yang sudah panas dan lemas membuat ia tidak bisa seimbang dalam berlari.
"Aku tidak sanggup lagi untuk berlari." Ara berhenti berlari sambil mengatur napas.
"Tidak, kita masih harus berlari. Jalan ini masih jauh dari lalu lintas utama. Jika kita tidak lari, mereka akan menangkap kita lagi," ucap Danu yang sama-sama ngos-ngosan.
Baru beberapa detik berhenti, terdengar derap langkah kaki yang semakin dekat.
"Hei, itu mereka! Cepat tangkap!"
Ara dan Danu menoleh ke belakang. "Biar aku yang hadapi mereka," ucap Ara.
__ADS_1
Saat sudah berhadapan, Ara dan anak buah Sain mulai bergulat. Pertarungan kali ini terlihat tidak begitu menguntungkan untuk Ara karena kaki Ara yang sudah lemas. Dan sialnya seseorang memukul pundaknya dengan kuat hingga ia tersungkur ke aspal.
"Hahaha, akhirnya kita berhasil melumpuhkan gadis ini tanpa harus menggunakan bius," ucap salah satu anak buah Sain.
"Ayo kita bawa kembali dia dan si pengkhianat ini," ucap yang lainnya sambil menunjuk Danu yang sudah babak belur.
Mereka mulai dibawa paksa kembali ke rumah Sain. Akan tetapi terdengar suara derung mobil sport yang menyita perhatian mereka. Mereka menoleh ke belakang.
Mobil sport berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. Beberapa menit kemudian atap mobil itu terbuka. Seketika itu Ara membulatkan matanya karena terkejut namun dari lubuk hatinya merasa lega.
"Sopir?" Ara mengenali pria bertopi itu.
"Siapa kau?" tanya pria botak dengan galak.
Reno melihat ke arah si botak lalu melihat ke arah Ara. "Lepaskan mereka," ucap Reno dengan nada dingin.
Pria botak itu tertawa lepas. "Kau pikir kau ini siapa? Berani-beraninya meminta ku untuk melepaskan merek--"
Belum sempat pria botak itu menyelesaikan kalimatnya, pria itu langsung gemetar ketika melihat lencana polisi di tangannya.
"Lepaskan mereka," ucap Reno sekali lagi.
Reno kembali pada mobilnya. Dari dalam mobil ia mengambil sebuah amplop tebal kemudian menunjukkannya pada enam anak buah Sain.
"Ini uang 400 juta. Semuanya bisa menjadi milik kalian jika kalian melepaskan mereka."
Mata enam anak buah Sain itu langsung berbinar bak berlian berkilauan. Kapan lagi mereka bisa mendapatkan uang 400 juta dalam beberapa jam sehari.
"Bos, itu uang. Lalu ...."
"Baiklah, aku setuju." Si botak melepaskan Ara dan Danu.
Reno tersenyum miring namun sangat tipis. Ia melemparkan uang tersebut pada pria botak itu. "Jangan sampai tuan kalian tahu bahwa aku yang membawa gadis ini."
Pria botak dan anak buahnya mengangguk. "Tentu saja. Kami juga tidak ingin kehilangan muka di depan tuan muda kami. Kami akan mengatakan bahwa gadis ini diselamatkan oleh warga sini."
Setelah sepakat, para anak buah Sain langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah Sain. Sedangkan Danu dan Ara masih diam di sana. Sesekali Ara melirik ke arah Reno. Ia ingin mengucapkan terima kasih akan tetapi ia merasa lidahnya kaku.
__ADS_1
"Mobilku hanya cukup untuk dua orang." Reno menunjuk Ara. "Kau ikut denganku. Sedangkan pria ini, biarkan dia mencari tumpangan lain."
Mau tidak mau Ara harus menuruti perintah Reno. Ia mengikuti Reno masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, mobil sport hitam itu meninggalkan jalanan yang sepi menuju jalan utama.
Selama perjalanan, tidak ada yang berbicara. Ya tentu saja jangan pernah berharap Reno akan berbicara. Pria itu tetap fokus pada jalan raya yang padat.
Sedangkan Ara, dia bingung harus berbicara apa. Terakhir kali ia bertemu dengan sopir pribadi Vano satu tahun yang lalu, ia meninggalkan kesan yang buruk. Dulu ia tidak mengucapkan terima kasih dan malah memukul Reno saat pria itu mengantarkan ibunya pulang ke rumah.
"Hmm, aku--"
"Tidak perlu berterima kasih. Kau tidak menghajarku saat diselamatkan saja sudah cukup," ucap Reno dengan dingin dan tanpa melihat lawan bicara.
"Pria ini tahu isi hatiku? Dari mana dia tahu aku akan mengucapkan terima kasih?"
Ara memperbaiki posisi duduknya. "Ehkm, aku tidak ingin berterima kasih. Aku hanya ingin bertanya, mengapa kau mau menyelamatkan aku?"
"Apa? Gadis ini tidak berniat berterima kasih? Hmh, lihat saja." Reno menginjak pedal gas lebih kuat.
"Hanya kebetulan lewat," jawab Reno singkat.
Ara terkejut dan takut ketika mobil melaju di atas kecepatan rata-rata. Ia memejamkan mata kemudian memegang jok mobil dengan sangat erat.
"Kau mencari mati?! Jika kau ingin mati, setidaknya jangan mengajak aku!"
Reno tersenyum sinis melihat Ara dari ujung matanya. Tanpa ingin menjawab, Reno semakin menambah kecepatan.
Karena tidak tahan menahan takut, Ara memegang lengan Reno dengan erat. Tentu saja Reno keberatan saat tangannya di sentuh sembarangan. Ia menepis tangan Ara dengan kuat. Akan tetapi hal tak terduga terjadi. Ara malah berpindah menjadi memeluknya dengan erat.
"Hei!" Reno terkejut.
Karena Ara memeluknya dengan sangat erat, Reno kesulitan untuk mengendalikan setir. Segera ia menginjak pedal rem dan menepikan mobilnya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu sehingga ia memilih untuk berhenti.
"Hei, lepaskan aku!" bentak Reno sambil berusaha melepaskan Ara yang lengket padanya.
Ara masih memejamkan mata dan ketakutan. Setelah mobil berhenti, barulah terdengar gumaman Ara yang sedari tadi ia ucapkan.
"Aku masih muda, aku belum mau mati. Aku masih muda, aku belum mau mati. Aku masih--"
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan memeluk ku?"