
"Iya, anakmu. Apakah mereka tidak memberitahumu?" tanya Raisa memprovokasi.
Tangan Rafan mengepal. Sejujurnya ia bahagia, sangat bahagia. Namun yang membuatnya marah adalah Vano tidak memberitahunya.
"Apa maksud Vano? Yang dikandung Nirmala adalah anakku, mengapa dia tidak memberitahuku? Apakah dia akan mengingkari janjinya."
Lama-kelamaan wajah Rafan berubah menjadi merah.
"Ehkm, tapi wajar saja mereka tidak memberitahumu. Beberapa hari terakhir ini, aku memperhatikan Nirmala. Sepertinya dia mulai nyaman bersama Vano. Jika ada apa-apa, dia akan melapor pada Vano."
Rafan hanya diam saat mendengarkan Raisa yang mulai terus berbicara. Matanya kosong, tapi pendengarannya terus mendengarkan ucapan Raisa.
"Oh ya, aku lupa memberitahumu. Eh bukan aku, maksudku apakah Vano pernah memberi tahu mu? Kemarin, sebelum kami tahu Nirmala sedang hamil, sebenarnya Vano akan mengembalikan Nirmala padamu. Dia bilang tidak tega melihat Nirmala bersedih. Tapi Nirmala malah menolak, dia bilang ingin tetap menjadi istri Vano."
Kali ini arah mata Rafan yang memerah beralih pada Raisa. "Jangan berbohong, Nyonya Besar. Tidak mungkin itu terjadi. Nirmala sangat ingin kembali padaku."
Raisa membuat ekspresi tak acuh. "Ya terserah padamu jika kau tidak percaya. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, sisanya terserah padamu." Raisa tersenyum tipis.
"Wanita mana sih yang tidak mau bersama Vano. Harta melimpah, diperlakukan seperti ratu, dan tidak pernah kekurangan apapun. Bisa saja Nirm--"
"Sudah cukup. Jika hanya itu saja ingin Anda ucapkan, lebih baik Anda ke luar sekarang."
Raisa tertawa kecut. "Oh, jadi ini sikapmu setelah aku memberitahukan berita yang sangat penting?" Raisa berpangku tangan lalu menyilangkan kaki. "Tidak tahu sopan-santun sama sekali."
Rafan menarik nafas panjang dan dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Maaf, saya terbawa emosi."
Rafan memang selalu bisa mengendalikan diri, ia juga selalu mengalah apabila situasi mulai menegang. Itulah alasan mengapa ia bisa menjadi teman Vano, bahkan ia merupakan satu-satunya teman yang Vano miliki.
"Sesuai yang kau pinta, aku akan pergi. Tapi ini akan menjadi terakhir kalinya aku memberitahumu." Raisa mengambil tasnya.
Dengan langkah cepat dan hentakan kaki yang kuat, ia pergi meninggalkan ruangan Rafan.
"Sial!"
Meja kaca terbaik dan kacanya pecah. Nafas Rafan tidak beraturan karena emosi yang terus meningkat.
* * * *
"Bagaimana dengan rapat di hari itu, Tuan Muda?" tanya Farhan.
__ADS_1
Karena hari sudah mulai sore, Vano pulang lebih awal. Kini Vano dan Farhan sedang berbincang di dalam mobil pribadi Vano. Entah ada apa dengan mobil itu, belum ada satupun orang yang pernah diizinkan oleh Vano untuk menaiki mobilnya. Hanya Farhan dan sang sopir, dan terakhir kali adalah Nirmala.
Vano hanya menatap keluar jendela.
Dengan diamnya Vano, Farhan tahu bahwa di dalam hati Vano mengatakan 'pertanyaan konyol macam apa itu? Tentu saja kau yang harus mengurus jadwalnya'.
Farhan diam lagi. Berbicara dengan tuan mudanya sama saja seperti membuang energi mulut. Sampai busa berbuih karena banyak bicara pun, tuan mudanya itu hanya akan menjawab singkat, bahkan terkadang hanya diam.
"Berhenti."
Perintah Vano bagaikan rem mendadak. Sang sopir refleks menginjak pedal rem begitu Vano mengatakan berhenti.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Farhan heran. Menurutnya tidak ada yang mencurigakan di jalan itu. Hanya ada ruko, gedung-gedung tinggi dan satu mall besar.
"Tunggulah di sini, aku akan turun."
Perintah Vano memang tidak bisa dibantah. Farhan hanya bisa menurut. Pertanyaannya saja belum dijawab, Vano malah memberikan perintah.
Setelah Vano keluar dari dalam mobil, Farhan segera mengaktifkan earpiece dan mulai berbicara. "Kawal tuan muda ke dalam mall itu. Jika ada apa-apa dengannya, kepala kalian yang harus membayar kelalaian kalian."
Tak butuh waktu terlalu lama, Farhan melihat Vano keluar dari mall dengan dua paper bag di tangan. Selang beberapa detik Vano keluar, tak terlalu jauh dari Vano ada dua pria tegap berbaju hitam yang matanya selalu terlihat waspada.
Salah satu dari dua pria itu terlihat memegang telinganya. "Aman, Tuan."
Vano membuka pintu dan masuk. Wajahnya yang tadi terlihat sangat dingin, kini terlihat sedikit menghangat. "Jalan."
* * * *
Di dalam kamar Vano, Nirmala tengah membaca buku. Ia meminta pelayan membelikannya buku bacaan karena ia sudah sangat bosan berada di kamar.
Walaupun bosan, ia tidak ingin keluar dari kamar. Jika ia turun dan bertemu dengan sang ibu mertua, maka akan ada keributan diantara Vano dan ibunya.
Matanya berhenti menyapu halaman buku ketika mendengar suara ketukan di pintu. Mata Nirmala beralih pada pintu. Ia menunggu pelayan bertanya 'boleh masuk?' tapi sepertinya tidak ada suara apapun.
"Masuk," perintah Nirmala pada akhirnya.
Mata Nirmala sedikit membulat ketika yang masuk bukan pelayan, melainkan suaminya, tuan muda Vano. Seorang tuan muda Vano mengetuk pintu kamarnya? Suatu kejadian yang langka.
"Sudah pulang?" tanya Nirmala sembari meletakkan buku di atas meja.
__ADS_1
Vano hanya mengangguk.
"Mengapa mengetuk pintu dulu? Kau bisa langsung masuk," ucap Nirmala mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan mengenai perbuatan Vano tadi.
"Apa kau ingin aku masuk begitu saja saat kau baru selesai mandi?" Vano malah balik bertanya.
Nirmala langsung menunduk. Ia masih ingat dengan kejadian hari itu.
"Minumlah secukupnya." Vano mengeluarkan susu untuk ibu hamil dari dalam paper bag. Dan sisinya ia biarkan di dalam paper bag.
"Bacalah buku yang kau mau." Vano meletakkan dua paper bag di samping kardus susu bubuk itu.
Mulut Nirmala sulit berbicara. Ia tidak menyangka Vano akan membelikan semua ini dengan tangannya sendiri.
"Dari mana kau tahu aku sedang ingin membaca buku?" tanya Nirmala.
Menurutnya tidak mungkin pelayan menelepon Vano di kantor hanya untuk mengatakan apa yang Nirmala inginkan.
Dengan santai Vano menggerakkan matanya ke pojok langit-langit kamar. Tentu saja Nirmala refleks mengikuti arah mata Vano. Saat berbalik, ia melihat benda bulat sebesar genggaman tangan yang menempel.
"Apa?" Nirmala terkejut, ia baru menyadari bahwa ada CCTV di kamar Vano.
Ya, saat di kantor dan pada jam istirahat, Vano iseng-iseng menyalahkan CCTV melalui ponselnya. Layar ponselnya menampakkan Nirmala tersenyum sendiri saat sedang membaca buku. Maka dari itu, sepulang dari kantor ia langsung membelikan buku cerita yang banyak untuk Nirmala.
Pipi Nirmala bersemu merah karena malu. Ia ingat tadi siang ia selesai mandi, ia lupa membawa handuk. Ia juga tidak dapat memanggil pelayan. Akhirnya ia lari dari kamar mandi ke ruang ganti tanpa memakai apapun.
"Apakah kau melihat ...."
"Aku melihatnya," jawab Vano singkat.
"Apa? Kau sengaja tidak mematikan cctv untuk mengintipku ya."
Nirmala mendatangi Vano lalu melayangkan banyak pukulan. Vano berusaha menghindar, akan tetapi gerak tangan Nirmala sangat lincah. Walaupun terkena banyak pukulan, Vano hanya merasa dipukul dengan kapas, tidak sakit sama sekali.
"Oke-oke, aku tidak melihatnya. Aku hanya bercanda." Ada sedikit tawa yang terdengar dari mulut Vano di sela-sela serangan Nirmala.
"Bercanda kau bilang? Itu bukan candaan, sama sekali tidak lucu. Rasakan ini." Nirmala sama sekali tidak menghentikan pukulannya.
Karena istrinya tidak berhenti, Vano menarik pinggang Nirmala dan .... 'Cup'
__ADS_1