Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 29


__ADS_3

"Mari kita bina rumah tangga yang sesungguhnya."


Nirmala tercengang dengan ajakan Vano. Hatinya sangat tersentuh. Air mata tak terasa telah jatuh. "Apakah dia baru saja melamarku?"


"Vano, a-a-aku ...."


Nirmala kesulitan menjawab ucapan Vano. Debaran di jantungnya sangat-sangat cepat hingga mulut, lidah dan bibirnya sulit untuk digerakkan. Karena istrinya hanya diam, Vano pikir Nirmala masih belum siap.


"Aku tidak memaksamu." Vano melepaskan pelukannya. "Kau harus memikirkan Semuanya baik-baik. Aku tidak ingin kau menyesal dikemudian hari."


Nirmala berbalik dan langsung memeluk pria yang paling berkuasa di keluarga besar Ravaldi. "Aku mau."


Hening setelah Nirmala menjawab ajakan Vano. Nirmala masih memeluk Vano, sedangkan pria yang ia peluk masih mematung. Mungkin suaminya itu masih belum percaya dengan jawaban yang ia dapatkan.


Beberapa detik kemudian, Vano membalas pelukan Nirmala. Walaupun suasana di kamar itu sepi, tapi dua insan yang akan saling mencintai itu merasakan kehangatan di hati mereka.


"Terima kasih," ucap Vano.


Nirmala menggeleng. "Bukan dirimu yang harus mengucapkan terima kasih, tapi aku. Terima kasih karena sedari awal telah menerima diriku dengan baik."


Ya dari awal Nirmala sudah merasakan perlakuan Vano sudah sangat baik padanya. Hanya saja pria itu terlalu dingin untuk mengekspresikan rasa pedulinya lewat ekspresi dan kata-kata. Dan sekarang ia merasa Vano sudah mulai menunjukkan perubahan. Ternyata yang diucapkan oleh Farhan memang benar adanya.


Vano melepaskan pelukannya. "Bagaimana Nyonya Vano, apakah sudah siap menjadi istri yang sesungguhnya?"


Nirmala tersenyum malu, baru kali ini Vano berbicara dengan sedikit candaan. "Belum," jawab Nirmala sambil tertawa kecil.


Vano menarik kepala Nirmala dan mengecup kening istrinya itu. "Aku paham. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap. Sekarang beristirahatlah, aku harus mengurus beberapa urusan."


Nirmala mengangguk. "Baiklah."


Vano menuntun Nirmala duduk di tepi ranjang. Tidak hanya membantu istrinya duduk, ia juga membantu Nirmala mengangkat kaki ke atas tempat tidur. Setelah itu ia menyelimuti Nirmala.


"Jangan lupa minum obat dan vitamin yang diberikan oleh dokter."


Nirmala mengangguk. Sekarang Vano sudah mulai banyak bicara. "Baiklah, aku tidak akan lupa untuk meminum obatnya."


Sebelum pergi, Vano mengecup kening Nirmala lagi. "Jika ada butuh sesuatu, panggil saja pelayan."

__ADS_1


Nirmala mengangguk lagi. Padahal suaminya ini hanya akan pergi ke ruang kerja, tapi pesannya sudah menyamai orang yang akan pergi merantau.


"Iya." Nirmala tersenyum dan menahan tawa.


* * * *


Sebuah ruangan sudah acak-acakan dan tidak karuan sejak beberapa hari yang lalu. Tidak hanya isi ruangan saja yang acak-acakan tak karuan, akan tetapi manusia yang mengisi ruangan itupun tengah merasakan hatinya diacak-acak.


Sudah beberapa hari ini ia tidak berangkat ke kantor. Ia hanya menghabiskan waktu untuk memecahkan semua barang yang ada di rumahnya.


"Nirmala! Mengapa kau meninggalkanku?"


Rafan merosot ke lantai. Tangannya sudah dipenuhi oleh darah. Ia tidak peduli sudah berapa ratus juta total harga barang yang ia hancurkan. Bahkan lukanya sudah berhari-hari tidak diobati. Luka lama yang hampir mengering berulang kali berdarah kembali karena ia terus menghancurkan barang-barang yang ada di rumahnya.


Kini ia tidak peduli dengan apapun. Yang ada di kepalanya hanya Nirmala, wanita yang sudah 5 tahun mengisi hatinya dan sudah 2 tahun menjabat sebagai istrinya.


"Nirmala, bertahun-tahun aku mempertahankan cinta kita, tapi mengapa dalam hitungan bulan semuanya hancur?" Rafan terisak. "Aku tahu aku salah. Apakah kau tidak bisa memberikan diriku kesempatan kedua? Aku berjanji akan membangun semuanya dari awal, walaupun tanpa harta."


Sekarang Rafan benar-benar hancur. Tidak ada cahaya kehidupan di dalam dirinya. Ia begitu menyesali apa yang telah terjadi. Kini ia sangat merindukan Nirmala, sangat ingin mantan istrinya kembali padanya.


"Aku merindukanmu, Sayang."


Walaupun tersenyum, Rafan tidak bisa menghentikan air bening yang mengalir dari matanya. Ia cium layar ponsel tersebut, kemudian memeluknya. "Aku sangat-sangat merindukan mu, Nirmala."


Rasanya ia ingin semua yang ia lakukan barusan menjadi kenyataan. Tiba-tiba bayangan masa-masa indah kembali ia ingat.


Saat sedang melamun, tiba-tiba sebuah kepala boneka kuda poni menyentuh pipinya. Nirmala menoleh ke belakang. Rafan tersenyum lebar dan menyapanya.


"Selamat sore, Sayang."


Nirmala tersenyum lebar kemudian kembali menghadap ke depan, memandangi langit sore yang menambah keindahan taman.


"Kau sudah terlambat dua menit." Nirmala pura-pura cemberut.


Rafan duduk di samping Nirmala. Ia ikut memandang langit sore. "Maaf." Kemudian ia menoleh pada Nirmala. "Aku terlambat karena baru selesai menyelesaikan sesuatu." Ia tersenyum.


Nirmala menoleh pada Rafan. "Sesuatu apa?" tanya Nirmala.

__ADS_1


Rafan berdiri lalu mengulurkan tangan. "Ayo ikut aku."


Karena penasaran, Nirmala menerima tangan kekasihnya dan mengikuti ke manapun langkah Rafan. Sebelum sampai ke tempat tujuan, Rafan memintanya menutup mata. Ia pun menurut saja. Setelah berjalan dituntun Rafan, akhirnya Rafan memintanya untuk berhenti.


"Sekarang buka matamu."


Nirmala membuka matanya secara perlahan. Matanya langsung membulat serta berbinar. Bagaimana tidak, dihadapannya ada balon-balon berbentuk hati, ada kelopak mawar yang ditata menyerupai kata 'I Love You, Nirmala'.


Ia menoleh pada Rafan, dilihatnya pria itu sudah bertekuk di sampingnya. Pria itu membuka kotak cincin.


"Will you marry me?"


Nirmala menutup mulutnya dengan telapak tangan karena begitu tersanjung.


"Mari hidup berbahagia dengan ku. Mari kita bangun rumah tangga bersama. Mari kita susah senang bersama. Mari kita membesarkan anak-anak kita bersama. Mari menua bersama. Mari saling mencintai sampai kita menutup mata."


Mendengar ajakan Rafan yang sangat menyentuh hati, Nirmala tak kuasa menahan air mata.


"Ya, aku mau."


Riuh tepuk tangan terdengar. Dari balik pohon-pohon keluar rekan-rekan kerja Rafan. Mereka ikut berbahagia atas lamaran yang sukses. Rafan memasangkan cincin di jari manis Nirmala. Ia berdiri lalu memeluk Nirmala.


"Terima kasih. I love you."


"I love you too."


Rafan melepas ponsel dari pelukannya. Ia sadar, semuanya hanya tinggal kenangan. Nirmala sudah tidak ada di sampingnya. Janji yang ia ucapkan sudah tidak dapat dipenuhi lagi.


"Nirmala, aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi. Kau tau?" Rafan menunjuk dadanya. "Selamanya kau akan ada di sini. Walaupun kau tidak lagi mencintaiku, walaupun kau sudah membenciku, walaupun kau tidak lagi merindukan diriku, aku akan tetap mencintaimu, menyayangimu dan merindukan dirimu."


Rafan berbaring menyamping. Ia kembali memandangi foto Nirmala. "Aku mencintaimu, aku merindukanmu. Selamat malam, selamat tidur. Semoga di sana kau tidur dengan nyenyak, dan semoga mimpi indah, Sayang."


Akhir-akhir ini itulah yang ia lakukan setiap malam. Tidak peduli tidur di kasur maupun di lantai, yang penting sebelum tidur ia bisa memandang wajah Nirmala walaupun hanya lewat foto. Ia akan mengucapkan selamat malam seperti yang ia lakukan ketika masih bersama Nirmala.


Walaupun ia tahu yang ia hadapi adalah kenyataan, tapi ia masih berharap semua hanya mimpi buruk. Ia berharap esok pagi ketika membuka mata Nirmala ada di sampingnya dan mengucapkan selamat pagi.


"Aku mencintaimu, Nirmala." Rafan bergumam ketika matanya mulai terpejam.

__ADS_1


__ADS_2