Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 26


__ADS_3

"Buka pintu."


Sang sopir yang semalaman tidak tidur langsung berdiri. Sedangkan Nirmala masih tidur di atas tempat tidur. Sang sopir melirik sekilas pada Nirmala, kemudian ia membuka pintu.


"Selamat pag--"


Vano langsung menerobos masuk. Sang sopir berbalik menatap punggung Vano yang tengah melihat ke arah tempat tidur. Ia melihat tangan Vano mengepal kuat hingga memucat diujung kukunya. Ia tahu bahwa ia harus bersiap-siap menerima bogeman mentah.


Vano berbalik dan ... 'Buk!' pukulan itu tepat mengenai wajah kiri sang sopir. Topi yang ia kenakan hampir terlepas, namun segera ia memperbaiki posisi topinya.


"Kau ingin mati?" Tatapan membunuh terpancar dari mata Vano.


Semua orang sangat terkejut dengan kejadian itu. Bagaimana tidak, seorang supir pribadi milik Vano berani membawa sang nyonya muda ke kamarnya. Farhan sampai menggelengkan kepala. Ia tidak tahu nasib apa yang akan sopir itu hadapi.


Sopir itu menunduk karena mengaku salah. "Maafkan, saya Tuan Muda. Akan tetapi saya memiliki alasan. Lagi pula saya tidak menyentuh kulit nyonya muda sedikit pun."


Baru menyelesaikan ucapannya, sang sopir mendapatkan pukulan lagi. Akan tetapi sang sopir tetap diam tanpa membalas ataupun menjelaskan sesuatu karena belum diperintahkan untuk menjelaskan.


Vano mencengkram kerah kemeja sopir itu. "Kau ingin mati? Hah? Alasan? Alasan apa yang kau miliki? Berani-beraninya kau membawa istriku ke dalam kamarmu. Dasar manusia tidak tahu diri! Aku sudah menolong hidupmu dan ini balasanmu! Bodoh!"


'Buk!' Sekali lagi Vano menghajar sopir itu.


Saat akan menghajar lagi, Farhan masuk dan memegangi tangan Vano. "Maaf Tuan Muda, sebaiknya Anda mengendalikan emosi Anda."


Mata tajam Vano beralih pada Farhan. "Dia harus diberi pelajaran karena berani menyentuh milikku."


"Sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan dari sopir Anda, Tuan Muda."


Farhan berjalan untuk menutup pintu. Ia tidak ingin Raisa ikut campur, yang ada nyonya besar itu akan menambah kericuhan.


Raisa tersenyum senang. "Kau lihat Braksa, adikmu itu sungguh wanita murahan. Dia mau saja dibawa ke kamar sopir dan ditidur--"


"Cukup Nyonya Besar! Jika Anda tidak tutup mulut, saya tidak segan-segan menghajar Anda." Walaupun ia mata duitan dan terkesan tidak peduli pada adiknya, akan tetapi ia tetap tidak terima jika adiknya dihina. Setelah itu mereka pergi meninggalkan pintu kamar.


Kembali di dalam kamar. Vano dan sang sopir berdiri sangat berjauhan. Di tengah-tengah ada Farhan yang berjaga-jaga jika tuan mudanya menyerang sopir sekali lagi.


"Jelaskan," perintah Farhan.

__ADS_1


Sopir itu menunduk, membuat topinya menutupi rahang dan bibir dari pandangan Farhan dan Vano.


"Tadi malam saya sedang lewat di depan kamar pengantin. Saat itu saya mendengar suara nyonya muda meminta tolong. Saya pikir mungkin tuan muda akan menyakiti nyonya muda dalam kondisi mabuk."


"Karena pintu tidak dikunci, saya langsung masuk dan melihat tuan muda akan memp*rkos* nyonya muda. Saya tahu tuan muda tidak pernah bertindak kasar pada wanita. Jika itu terjadi, saya yakin tuan muda akan menyesal. Dan nyonya muda akan trauma. Maka dari itu saya nekad memukul tuan muda dan membawa nyonya muda pergi."


Farhan mengangguk. Ia mengerti bahwa sopir pribadi ini sangat peduli pada tuan muda. Ia lebih mementingkan keselamatan tuannya dari pada keselamatan dirinya sendiri. Maka dari itu tidak mungkin pemuda itu berkhianat.


Vano diam saja dengan wajah dinginnya.


"Lalu, apakah kau ada hak untuk membawanya tidur di kamar ini?" tanya Farhan.


"Saya tahu saya salah. Saya hanya ingin memastikan nyonya muda aman." Sang sopir menegakkan kepalanya sebentar lalu menunduk lagi. "Maafkan saya tuan muda. Saya tidak akan pernah lancang lagi."


Tanpa siapapun yang menyangka, Vano malah berucap terima kasih. "Terima kasih."


Farhan mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti.


"Kau benar. Nyonya muda pasti akan trauma jika aku memperlakukannya dengan buruk." Vano berjalan beberapa langkah kemudian menepuk bahu sang sopir. "Kau memang selalu mengambil keputusan dan tindakan yang tepat."


Vano memang sering mengakui kinerja sang sopir, tapi baru kali ini memujinya secara langsung.


Mendengar perintah dari Vano, Farhan dan sang sopir. Langsung pergi dari sana. Mereka percaya tuan mudanya tidak akan menyakiti nyonya muda. Vano bukanlah pria kejam. Hanya saja sifat dingin dan tatapan tajam akan membuat orang berpikir bahwa Vano adalah tuan muda kejam.


Setelah Fahan menutup pintu, Vano berbalik. Ia menatap Nirmala yang masih belum bangun walaupun ada keributan. Ia berjalan dan duduk di tepi tempat tidur.


"Apakah benar aku harus memperjuangkan cinta ini?"


Ia sendiri tidak tahu kapan getaran cinta itu muncul. Rasa yang pertama muncul hanya kasihan, kemudian berubah ingin melindungi, kemudian berubah lagi menjadi nyaman, dan kemudian menjadi ingin membahagiakan, dan terakhir takut kehilangan dan ingin memiliki.


"Kau cantik, baik, dan manis. Walaupun aku tidak tahu sifat aslimu, aku sangat ingin membuatmu nyaman bersamaku."


Tangan Vano terulur untuk mengusap kepala Nirmala. "Maafkan kelakuanku tadi malam. Pasti kau merasa takut."


Ia tidak sadar bahwa ia sedang bersikap lembut. Cinta memang ajaib, mampu mengubah sifat manusia dalam sekejap.


Akan tetapi tak lama kemudian Vano menarik tangannya kembali.

__ADS_1


"Aku masih belum yakin dengan ini. Aku tidak boleh gegabah."


Ia memutuskan untuk keras kepala. Ia tetap ingin mempertahankan Nirmala akan tetapi ia tidak ingin ada cinta yang tumbuh di hatinya. Aneh sekali bukan? Ya, begitulah Vano.


Tak lama kemudian ia menghentikan gerakan tangannya karena menyadari sesuatu. "Panas?" Vano kembali memeriksa suhu tubuh Nirmala. "Dia demam."


Vano membangunkan Nirmala, akan tetapi istrinya itu tidak membuka mata. Ternyata ia tidak bangun walaupun mendengarkan keributan itu karena pingsan. Vano menyingkap selimut yang dikenakan oleh Nirmala. Baru kali ini wajahnya terlihat panik.


"Darah?"


Vano merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. "Cepat siapkan mobil." Setelah itu ia menutup telepon kembali.


* * * *


"Nyonya Muda mengalami tekanan pikiran yang berlebihan. Dan saya rasa nyonya muda juga mengalami ketakutan yang membuat kondisi tubuhnya langsung drop," ucap dokter pria itu.


"Walaupun mengalami pendarahan, untung saja kandungannya bisa diselamatkan. Tapi untuk saat ini kondisi nyonya muda dan janinnya masih sangat lemah."


Vano yang duduk di depan dokter hanya diam saja. Tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun, Vano langsung berdiri dan pergi dari sana.


Dokter itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia sudah tahu watak tuan muda yang satu itu. Maka dari itu ia sudah sangat maklum.


Vano telah duduk di samping ranjang Nirmala. Istrinya tengah berbaring tak berdaya di sana. Sampai saat ini Nirmala belum membuka matanya. Sebenarnya Vano merasa sangat menyesal dan merasa bersalah.


Seharusnya ia tidak membuat Nirmala seperti ini. Seharusnya ia berusaha membahagiakan Nirmala, bukan malah bertarung dengan hatinya sendiri dan mengakibatkan ia hilang kendali.


"Maafkan aku." Vano mengusap lembut kepala Nirmala.


Vano melamun.


"Cinta itu kebahagiaan. Yang menghancurkan hidup adalah nafsu. Yang menghancurkan hidup adalah ego. Cinta selalu datang bersamaan dengan nafsu dan ego. Maka dari itu, untuk bahagia, kau harus menjaga cinta dari nafsu dan ego. Kau harus bisa mengendalikan nafsu dan egomu."


Perkataan bayangan ibunya kembali ia ingat.


"Jika Anda mencintai nyonya muda, maka pertahankanlah. Anda terlihat terikat dengan masa lalu, Anda terlalu mengambil contoh dari masa lalu. Tuan Muda, banyak orang di luar sana yang berbahagia karena cinta. Kisah pahit antara nyonya besar dan tuan besar adalah takdir, bukan karena rasa cinta."


Perkataan Farhan kemarin pun ia ingat kembali.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan oleh mereka benar? Apa aku harus melupakan kejadian yang menyakitkan itu? Apa aku harus mempertahankan cinta ini?"


Matanya menatap Nirmala. Sekarang, setiap kali ia melihat Nirmala, hatinya bergetar. Ya, ia ingin wanita itu selalu ada disampingnya, selamanya.


__ADS_2