
"Tolong jangan usik nyonya muda, apalagi sampai bertindak kasar padanya," pinta Farhan dengan tegas.
Raisa menatap tajam Farhan dan Nirmala secara bergantian. "Awas saja kalian semua." Raisa meninggalkan mereka berdua dan berjalan cepat ke dalam rumah.
Sepeninggalan Riasa, Nirmala diam saja. Farhan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Nyonya Muda, tolong jangan dengarkan ucapan dari nyonya besar."
Nirmala mengangguk dan tersenyum tipis. Mau bagaimanapun juga, semua ucapan Raisa sudah masuk ke dalam telinganya dan sudah tertampung di otaknya. Sulit untuk melupakan ucapan kasar dari ibu mertuanya itu.
"Apa benar tuan muda Vano yang memerintahkan Anda menjaga saya? Bukankah Anda adalah sekertaris tuan muda dan harus selalu bersamanya?" tanya Nirmala.
Farhan mengangguk. "Ya, seharusnya saya selalu bersama tuan muda. Akan tetapi, sambil menunggu tuan muda mendapatkan pelayanan pribadi untuk Anda, tuan muda memerintahkan saya untuk menjaga Nyonya Muda. Tuan muda Vano sangat tahu watak dari nyonya besar, maka dari itu tuan muda berusaha menjaga Anda dari nyonya besar."
Nirmala mengangguk, jika suaminya itu sudah memerintah, mana mungkin ia bisa menolak.
"Terima kasih."
* * * *
Hari ini Vano pulang lebih awal dari biasanya. Saat selesai rapat perusahaan, ia mendapatkan kabar dari Farhan bahwa Raisa mencoba menyakiti fisik Nirmala dengan tangannya. Sekarang ia berencana untuk pulang dan menegur ibunya itu.
"Lebih cepat," perintah Vano pada sopir pribadinya.
"Baik, Tuan Muda."
Semua yang bekerja dibawah Vano dituntut untuk sempurna, maka tidak heran jika sopir pribadi kali ini juga memiliki kinerja yang bagus. Jarak yang seharusnya membutuhkan waktu 1 jam, kini dapat ditempuh hanya dengan setengah jam. Dan yang hebatnya lagi, Vano yang berada di kursi belakang tidak terombang-ambing ke sana kemari.
Setelah masuk ke pekarangan rumah, dua pria berseragam hitam langsung membukakan pintu. Vano melangkah masuk ke rumah tanpa menoleh ataupun mengucapkan sepatah kata pun.
"Ada apa dengan tuan muda? Tumben sekali beliau pulang dijam ini." tanya pria itu pada sang sopir.
Sang sopir hanya menggedikkan bahu tanpa berbicara.
__ADS_1
Pria yang tadi berlalu sambil berdecak kesal. "Aku heran, tidak tuannya tidak sopirnya, semuanya sama saja."
Pria satu lagi menanggapi. "Mungkin dia sudah dilatih oleh tuan muda untuk irit bicara. Sudahlah jangan kita usik sopir pribadi itu, nanti kita ditegur tuan Farhan."
Pelayan memberikan hormat dengan membungkukkan badan ketika Vano lewat. Tidak seperti biasanya yang langsung masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, kali ini Vano masuk ke dalam lift menuju lantai tiga, di mana kamar ibunya berada.
Para pelayan langsung saling pandang, ini adalah kejadian langka.
"Apakah nyonya besar sedang sakit? Aku rasa tidak," seorang pelayan mulai bergosip.
Pelayan yang lain langsung menutup mulut pelayan yang baru saja berbicara. "Syut, jangan bergosip jika tidak ingin dipotong gaji."
'Tok-tok-tok'
Raisa yang sedang menyisir rambut menoleh ke arah pintu. Jarang sekali ada orang yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
"Masuk," perintahnya yang tidak tahu orang yang ada di balik pintu.
"Selamat siang menjelang sore, Nyonya Besar."
Vano masuk tanpa menutup pintu kamar. Ia berjalan dengan langkah yang santai namun lebar.
"Silahkan duduk." Raisa mempersilahkan.
"Tidak perlu," jawab Vano singkat.
"Ada apa, Vano?" tanya Raisa sambil meletakkan sisir di atas meja rias.
Vano menatap ibunya tanpa langsung berbicara. Tentu saja hal itu semakin membuat Raisa bingung. Ekspresi wajah Vano dari dulu memang sulit ditebak. Apakah sedang merah, datar, atau senang. Tidak, seumur hidupnya Vano belum pernah terlihat senang. Jangankan tertawa, senyum saja sudah sangat langka. Jikapun tersenyum, hal itu hanya sekedar formalitas ketika menghadapi tamu.
"Vano, kau mau berbicara atau tidak?" tanya Raisa karena Vano tidak kunjung berbicara.
"Pikirkan oleh Anda sendiri. Lebih baik Anda mengakui kesalahan Anda sebelum saya yang menjelaskan," ucap Vano dengan nada datar dan dinginnya.
__ADS_1
"Farhan, aku yakin Farhan atau Nirmala pasti sudah mengadu. Dasar wanita murahan, belum apa-apa saja dia sudah bisa mengadu pada Vano. Apalagi jika Vano sudah mencintainya, bisa saja dia semakin melunjak."
"Ya, aku tahu pasti kau mendengar cerita dari Farhan ataupun Nirmala. Tapi kau harus tahu, aku melakukan itu untuk memberi Nirmala peringatan," jawab Raisa yang memilih jujur sendiri.
"Untuk apa peringatan itu?" tanya Vano.
"Vano, kau tahu dia tidak mencintaimu, tapi mengapa saat kau akan mengembalikannya pada suami pertamanya dan melunasi hutang-hutangnya, mengapa dia tidak mau? Bukankah itu sangat menguntungkan untuk dirinya? Tentu saja alasannya bertahan adalah ingin menjadi nyonya besar di sini, merebut hartamu."
Vano memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Tentu saja dia memilih untuk mengikuti perjanjian pertama karena dia tidak ingin berhutang budi padaku, tidak ingin mengambil keuntungan sendiri. Dia tidak seperti Anda, Nyonya Besar. Yang hanya memikirkan keuntungan sendiri."
Raisa merasa panas dihatinya. Bisa-bisanya Vano menyindirnya dan membandingkannya dengan seorang Nirmala, gadis yang ia pandang dengan wanita rendahan.
"Mengapa kau bisa berbicara seperti itu pada ibumu sendiri?" tanya Raisa.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, tanyakan pada wanita yang sudah merebut suami sahabatnya, dan rela menjadi istri simpanan suami sahabatnya."
Kembali sindiran pedas terlontar dari kalimat Vano yang bernada dingin dan menusuk.
"Saya peringatkan pada Anda sekali lagi, Nyonya Besar. Jangan usik Nirmala, jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Dia ingin merebut hartaku atau tidak, itu sama sekali bukan urusan Anda."
Setelah itu Vano pergi meninggalkan Raisa mematung dengan hati yang sangat panas. "Govano Ravaldi, seharusnya sedari dulu aku buat kau gila dan bunuh diri, sama seperti caraku menyingkirkan ibumu." Tangan Raisa terkepal kuat.
Nirmala baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk diatas lutut. Karena ia berpikir bahwa Vano masih berada di kantor, maka ia memutuskan untuk memakai pakaian di kamar saja. Saat mengangkat kepala, jantungnya hampir copot.
Vano sedang duduk santai di tepi tempat tidur dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang. Matanya yang tadi dingin, kini pupil matanya terlihat membesar. Vano terlihat cukup terkejut meskipun ekspresi wajahnya terlihat biasa saja.
"Ehkm." Vano berdeham untuk menetralkan kecanggungan. "Cepat pakai pakaianmu di dalam." Vano menunjuk ruang ganti pakaian dengan gerakan matanya.
Nirmala mengangguk, sungguh pipinya sudah merona karena malu. Nirmala berjalan cepat menuju ruang ganti pakaian tanpa ingin melirik sedikitpun pada Vano. Setelah itu ia menutup pintu dengan sangat rapat.
Di kamar, Vano memejamkan matanya sambil menggeleng, ia berusaha melupakan apa yang ia lihat barusan. Sungguh seperti penampakan bidadari.
"Tidak Vano, dia bukan milikmu." Vano menekankan kalimat tersebut dalam hati.
__ADS_1
Baru saja bisa rileks, suara gaduh terdengar dari ruang ganti pakaian.
"Aaaaa! Vano tolong!"