
"Bagaimana?" Terdengar suara berbisik dari seberang panggilan video.
Vano tertawa kecil. "Aku tahu, Reno mulai berubah walaupun sangat sedikit. Lanjutkanlah, aku akan selalu mendukung semua rencanamu, Sayang."
"Terima kasih, Sayang. Baiklah, aku akan turun sambungan teleponnya sekarang sebelum mereka mengetahui bahwa aku sedang memperhatikan mereka," ucap Nirmala dari seberang telepon.
Vano mengangguk. "Baiklah, hati-hati dan jangan sampai kelelahan."
Nirmala membalik kamera. "Tentu."
Setelah sambungan telepon dimatikan, Vano menarik nafas panjang kemudian tersenyum. Farhan yang sedang serius memeriksa laporan tidak bertanya apapun. Jika sudah melihat tuannya tersenyum seperti itu, lebih baik tidak usah diganggu.
* * * *
Hari sudah mulai sore, setelah berbelanja seperlunya, makan dan jalan-jalan sepuasnya, akhirnya Nirmala memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan pulang, dua wanita di bangku belakang sibuk membongkar barang belanjaan mereka.
Ara juga membuka paper bag yang berisi pakaian baru untuknya. Nirmala membelikan ia pakaian karena ia tidak memiliki dress. Hanya celana jeans, kaos ketat, serta beberapa jaket yang ia miliki.
Sedangkan pria yang menyetir mobil masih diam tanpa berbicara. Sepertinya pria itu berada dalam tekanan yang membebankan pikirannya. Sesekali ia melirik ke spion depan, lalu menghela nafas berat.
Beberapa saat kemudian, mobil hitam mewah tampak parkir di depan rumah keluarga Ravaldi. Mobil itu langsung disambut oleh dua orang pekerja. Mereka membukakan pintu untuk Nirmala. Nirmala turun dari mobil lebih dulu.
"Aku duluan ya." Nirmala melenggang pergi meninggalkan belanjaanya. Biarkan belanjaannya dibawakan oleh para pelayan yang sedang berjalan menghampiri.
"Tolong bawakan belanjaanku ke kamar," ucap Nirmala lalu meneruskan langkah kakinya.
Sedangkan di dalam mobil masih ada Reno dan Ara. Reno menunggu Ara keluar dari mobil, setelah itu ia bisa pulang ke rumahnya.
"Bisakah kau cepat keluar?" Reno melirik Ara dari kaca spion depan.
Ara berdecak. "Kau ini tidak sabaran. Aku sedang merapikan barangku."
Reno menghela nafas. Sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersabar dan menekan emosi. Jika tidak, mungkin Ara akan benar-benar menyebarkan wajah aslinya. Entah mengapa ia tidak ingin ada orang yang melihat wajahnya, tapi tidak dengan Ara. Sepertinya ia tidak terlalu keberatan jika Ara mengetahui wajahnya.
Ponsel Reno berdering, segera ia menjawab panggilan.
__ADS_1
"Halo, Tuan Besar." Reno menyapa lebih dulu.
Setelah mendengarkan Vano dengan serius Reno mengangguk. "Baiklah, Tuan Besar." Vano mematikan sambungan telepon. Reno pun memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Kau mau ke mana?" tanya Ara yang melihat Reno keluar dari dalam mobil.
"Bukan urusanmu." Reno menutup pintu membiarkan Ara masih berada di dalam.
* * * *
Hari sudah larut, Reno merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lagi-lagi ia harus menginap di rumah Vano. Kali ini bukan karena rencana Ara ataupun Nirmala, tapi memang ada urusan penting yang harus selesaikan. Dan besok, pagi-pagi sekali ia harus mengantarkan kakaknya ke kantor, sebab itulah ia diperintahkan menginap lagi.
Merasa kantuk mulai datang, Reno memutuskan untuk mandi. Sekarang masih pukul 11 malam, belum waktunya ia tidur.
Selesai mandi, Reno berpakaian dan tidak lupa memakai topi. Sekarang ia malah merasa lapar. Ia pun berjalan keluar kamar untuk mengambil makanan di dapur.
Sesampainya di dapur, Reno melihat Lia sedang membenahi isi kulkas. Ia tidak mengenal Lia, dan ia tidak akan tertarik untuk mengenal wanita yang tidak penting. Dengan santai ia berjalan menuju meja dapur tanpa memperdulikan keberadaan Lia.
"Kau lapar?" Suara Lia terdengar dari belakang nya.
Ia tidak menjawab, bagi nya tidak penting sama sekali.
Karena hari ini pikirannya sedang kacau dan tubuhnya terasa sangat lelah, ia merasa malas untuk melakukan apapun, apalagi memasak makanan.
"Ambilkan apa saja," ucapnya kemudian duduk di meja makan.
Ia tahu pelayan itu pasti senang setengah mati karena ucapannya dipedulikan olehnya. Tapi ia tidak peduli, ia sudah sangat lapar.
Tak lama kemudian, Lia meletakkan piring berisi nasi dan sayur bening katuk campur jagung manis. Ia juga memberikan segelas air putih untuk Reno.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Reno langsung meraih piring tersebut dan mulai makan. Beruntung sekali Lia juga langsung pergi dari ruangan itu, jadi ia tidak merasa terganggu.
Beberapa menit kemudian, Reno sudah selesai makan. Ia meletakan piring kotor di wastafel. Jika berada di rumahnya, ia pasti akan mencuci piring terlebih dahulu, akan tetapi ia mengingat di sini ada pelayan, jadi ia meninggalkan piring kotor di sana.
'Ceklek'
__ADS_1
Reno masuk ke dalam kamarnya, kemudian menutup pintu kembali. Setelah makan, ia merasa lebih lelah. Mungkin inilah yang dirasakan oleh orang-orang. Perut terlalu kenyang, kantuk pun datang.
Sebelum naik ke tempat tidur, Reno menyalakan AC dengan suhu paling rendah. Ia merasa malam ini lebih panas dari malam-malam biasanya. Setelah merasa cukup, ia membaringkan tubuhnya.
Namun baru beberapa detik memejamkan mata, ia kembali membuka matanya, membuka mata lebar-lebar.
"Apa yang ada di otakku ini." Reno menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Tangannya membuka satu kancing atas kemejanya. "Aish, ada apa denganku?"
Keringat mulai keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Makin lama ia semakin frustasi. Sebagai orang yang cerdas, ia tidak bertanya-tanya lagi apa yang terjadi pada dirinya. Dengan sangat yakin ia meyakini bahwa seseorang sudah memberikan sesuatu padanya.
"Kurang aj*r, sialan. Pasti pelayan tadi." Reno mengepalkan tinjunya.
Cepat-cepat Reno memakai topinya kembali. Ia berencana pulang ke rumahnya dan meminta obat penawar pada pak tua. Secepat kilat ia menyambar kunci mobil lalu berjalan menuju pintu kamar.
"Sialan, pasti dia memberikan aku dosis tinggi." Reno berjalan sambil mengipas-kipas wajah yang kian memerah.
'Ceklek'
Lia lebih dulu membuka pintu kamar. Ia memamerkan sebuah senyuman manis. "Hai, kau mau ke mana?" Suara Lia dilembut-lembutkan.
Reno tidak menjawab, ia menatap Lia dengan tajam.
"Ya ampun, mengapa kulitmu memerah seperti ini?" Lia melihat kulit leher, pipi, dan kulit bagian dada yang terlihat sedikit itu memerah. Kemudian ia menyentuh pipi Reno.
"Kau berkeringat juga. Apa jangan-jangan ...." Lia tidak meneruskan ucapannya, ia malah menggigit bibir bawahnya untuk menggoda Reno.
Reno masih diam, terlihat jelas Reno sedang menatap tajam pada Lia.
Karena Reno masih diam saja, Lia mulai berani mengusap tangan Reno. Dan Reno masih diam saja. Sekarang Lia semakin berani karena yakin Reno sudah terpengaruh obat itu sepenuhnya. Sekarang ia membuka kancing kedua kemeja Reno.
Reno masih diam, tapi tak lama kemudian ....
'Duk'
__ADS_1
Reno mendorong Lia ke dinding. Dan Lia semakin tersenyum senang. Ia mengalungkan tangannya ke leher Reno. Reno masih saja menatap Lia dengan tajam.
Kira-kira, apa yang terjadi nantinya? Duh gimana kalau Reno sampai tergoda oleh Lia? Bisa dicekek nih Sely sama kakak-kakak semua.