
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Nirmala menutup mulutnya karena terkejut. Ia tahu orang yang ada di depan Ara adalah Reno, tapi ia tidak dapat melihat wajah pria itu.
Ara mendorong tubuh Reno menjauh saat ia sadar dengan apa yang hampir ia lakukan. Malu, itulah yang ia rasakan. Tidak hanya malu pada Reno, ia juga malu pada Nirmala. Segera ia berjalan ke arah Nirmala yang masih berdiri di pintu.
"Nyonya Besar, ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Kami--"
"Seperti yang aku pikirkan juga tidak apa-apa. Aku malah senang," potong Nirmala.
Tanpa mempedulikan dua wanita yang tengah berbicara di depan pintu, Reno mengambil kemeja baru beserta topinya yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur. Tanpa menunjukkan wajahnya, ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah melihat Reno masuk ke dalam kamar mandi, Nirmala kembali berbicara. "Kau sudah melihat wajahnya. Bagaimana wajahnya? Sepertinya tadi kau mau mencium nya?" tanya Nirmala menggoda Ara.
Ara menunduk malu. "Sudahlah, Nyonya Besar. Tolong jangan membuat aku terlihat lebih konyol."
Nirmala menarik tangan Ara meninggalkan kamar itu. "Mari kembali ke kamarku. Aku ingin bertanya banyak padamu."
"Hei? Apakah ibu hamil jadi lebih ingin tahu tentang segala hal?" Ara bertanya-tanya dalam hati.
Ia tetap mengikuti langkah kaki Nirmala. Ia tidak memiliki keberanian untuk menolak Nirmala. Menurutnya Nirmala adalah nyonya yang sangat baik. Tidak seperti Raisa dulu.
Sesampainya di dalam kamar Nirmala, Nirmala langsung menutup pintu dengan rapat kemudian menguncinya. Dengan tidak sabaran ia duduk di sofa. Ia menepuk sofa agar Ara juga ikut duduk di sampingnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku sangat penasaran." Nirmala bertanya dengan semangat sekali.
Ara menunduk malu. "Tidak terjadi apa-apa, Nyonya Besar. Semuanya terjadi dengan tidak terduga. Saat aku meletakkan foto di atas meja ...."
Ara menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, sampai ketika Nirmala datang ke kamar lama Vano.
Nirmala tertawa lalu bertepuk tangan. "Kau orang yang sangat beruntung. Tidak ada yang tahu wajah dari sopir itu. Hanya dirimulah yang tahu. Apakah ini pertanda bahwa kalian adalah jodoh?"
Ara langsung menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak, tidak. Itu tidak benar. Aku tidak menyukainya. Walaupun dia sangat tampan, tapi aku tidak suka kepribadiannya. Dia benar-benar menyebalkan."
Nirmala tertawa lagi. Entah mengapa hari ini ia merasa senang karena ia menemukan orang yang ia pikir bisa mengusik ketenangan sopir pribadi Vano. Ia sendiri tidak membenci dan tidak benar-benar tidak menyukai sopir itu. Hanya saja ia merasa kesal dengan sikap dinginnya yang terlalu dingin melebihi Vano.
"Lalu sekarang kau memiliki hutang 75 juta?" tanya Nirmala.
Ara mengangguk. "Ya."
__ADS_1
Nirmala diam sejenak. Dan tak lama kemudian ada ide yang melintas di kepalanya. Entah ide dari mana, yang jelas ia merasa ini sangat bagus untuk Ara dan juga Reno.
"Kau mau tahu cara agar hutangmu lunas tanpa harus dibayar?" tanya Nirmala.
Ara mengangguk lagi. "Tentu saja, Nyonya."
Nirmala menggerakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar Ara mendekat. Kemudian ia membisikkan sesuatu.
Tak lama kemudian Ara membulatkan matanya karena terkejut. Ia menarik diri, menjauh dari Nirmala.
"Apa? Itu ide yang tidak mungkin berjalan sempurna." Setelah mengeluarkan ekspresi terkejut, sekarang ia mengeluarkan ekspresi senang dan sombong. "Tapi tentunya aku bisa melakukan ini. Jika sudah dinyatakan lunas, aku bisa selesai dengan permainan ini."
Ara mengacungkan jempol pada Nirmala. Begitu pula dengan Nirmala. Mereka tidak terlihat seperti tuan dan anak buah, melainkan seperti adik-kakak yang sedang senang atas rencana mereka.
Ara tersenyum miring. "Hmh, lihat saja Reno. Aku pasti bisa melunasi hutangku."
* * * *
Mobil hitam parkir di basemen gedung besar berlantai dua puluh. Sebelum Vano, ia harus sudah ada di sana lebih dulu. Tidak peduli berapa lama ia menunggu, ia harus berada di sana sebelum Vano selesai dengan pekerjaannya.
Entah ada apa dengan hari ini, hari ini ia merasa sial. Pertama, mulai hari ini ia tidak perlu menunggu di dalam mobil sampai Vano pulang. Ia sudah diberi tugas tambahan untuk ikut menjaga Nirmala di rumah.
"Gadis yang bernama Ara itu bisa membuatku mati kehilangan muka. Dia benar-benar sudah mulai berani padaku." Reno mencengkram setir dengan kuat.
Tak terlalu lama menunggu, ia melihat Vano dan Farhan berjalan ke arah mobil. Tak jauh dari kedua tuan-tuan itu, ada bodyguard berjas rapi mengikuti dengan gagahnya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Farhan setelah ia dan juga Vano sudah duduk di dalam mobil.
Reno hanya menggeleng.
"Tuan Besar--"
"Langsung pulang," potong Vano yang sudah tahu pertanyaan apa yang akan adiknya tanyakan.
"Baik." Reno langsung menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran bawah tanah itu.
Seperti biasanya, Reno menjalankan mobil dengan kecepatan standar. Mobil melaju cukup tenang di jalan yang cukup padat. Temaram lampu jalan mulai menerangi karena hari mulai gelap.
__ADS_1
Vano menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia kelihatan sangat lelah hari ini.
"Apakah hari ini nyonya besar makan dengan baik?" tanya Vano pada Reno.
"Ya, Tuan," jawab Reno singkat.
Reno kembali fokus pada jalan. Untuk sementara earpiece yang ia kenakan di telinga dimatikan. Pikiran pribadinya sedang tidak tenang. Sebab itulah ia harus menghindari mendengar percakapan para bodyguard yang sibuk membicarakan tentang rute jalan yang harus diawasi.
Walaupun terlihat sedang duduk santai, tapi sebenarnya Vano memperhatikan gerak-gerik adiknya. Jemari Reno yang tidak mau diam saat sedang memegang setir mengundang perhatian Vano.
"Ada masalah?" tanya Vano tiba-tiba.
Walaupun Vano tidak mengatakan pertanyaan ditujukan pada siapa, tapi Reno dan Farhan sudah mengerti dari nadanya.
"Tidak ada, Tuan Besar," jawab Reno tegas tapi tetap sopan.
Vano tidak bertanya lagi. Entah mendapat keahlian dari mana, ia pasti tahu bahwa seseorang sedang berbohong. Termasuk Reno sekarang. Cukup ia saja yang tahu bahwa Reno berbohong. Ia tidak akan bertanya lagi.
Beberapa menit kemudian, mobil hitam parkir di depan rumah tiga lantai. Dua orang langsung menyambut dan membukakan pintu untuk Vano dan Farhan. Sedangkan sang sopir tidak turun karena ia akan segera pulang.
Setelah memastikan Vano dan Farhan sudah masuk ke dalam rumah, Reno menyalakan mesin mobil, bersiap untuk pulang.
Baru saja akan menginjak pedal gas, seseorang memanggilnya dengan berteriak.
"Hei! Tunggu!"
Reno menarik nafas dalam melihat yang berlari menghampiri adalah Ara. Reno memperbaiki posisi topinya lalu membuka kaca mobil.
Ia tidak berbicara. Cukup ekspresi yang tersembunyi dibalik topi yang menyampaikan pertanyaannya. Dan ajaibnya, Ara sudah bisa menebak bahwa Reno sedang bertanya, ' Ada apa?'
"Antar aku pulang."
Mendengar ucapan Ara, ingin rasanya Reno tertawa mengejek. Namun tentu saja itu mustahil untuk dilakukan. Ia tidak pernah tertawa semasa hidupnya.
"Cari tumpangan sendiri." Reno kembali menginjak pedal gas.
Tanpa ia duga, Ara berlari ke depan mobil hingga gadis itu jatuh dan sepertinya terluka.
__ADS_1
Reno menginjak pedal rem. Ia menggeram sambil mengumpat. "Bodoh."