
Mobil putih melaju dengan kecepatan sedang. Sang boss yang sedang duduk di kursi belakang tengah sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Akhir-akhir ini ia tidak bisa lepas dari pekerjaan karena perusahaan-perusahaan nya yang mulai bangkrut. Tinggal satu perusahaan lagi yang masih berdiri, namun sudah mulai goyang pula.
"Tuan, apakah Anda ingin mampir ke club di depan?" tanya sang sopir.
Sain mengangkat kepala sebentar kemudian kembali fokus pada layar laptopnya. "Tidak, aku tidak punya waktu. Langsung pulang ke rumah saja."
Mobil putih itu belok ke kanan di mana jalannya lebih sepi dan tidak banyak rumah pula. Jalan itu jalan yang biasanya Sain pakai sebagai jalan pintas agar cepat sampai di rumah.
Tiba-tiba mobil putih mengerem mendadak. Sain sampai terhantuk ke depan. Ia melototi sopirnya yang dinilai sembrono dan tidak memperhatikan dirinya sedang tidak memakai sabuk pengaman.
"Kau ini bodoh atau apa? Bisa-bisanya kau mengerem mendadak!" bentak Sain.
Sopir itu menunjuk ke depan. "Maaf Tuan, tapi bukan kah itu gadis yang beberapa bulan lalu melarikan diri dan Anda meminta semua orang-orang Anda untuk mencari?"
Mata Sain mengikuti arah tunjuk sopirnya. Matanya langsung terbuka saat melihat gadis yang ia cari beberapa bulan lalu. Gadis itu sekarang tengah berjongkok di pinggir jalan. Dan kelihatannya gadis itu sedang menangis.
"Kau benar. Sekarang hampiri dia," perintah Sain.
"Ara, target sudah mendekat. Bersiaplah."
Suara Reno terdengar oleh Ara melalui earpiece yang ia kenakan. Entah di mana Reno bersembunyi, yang jelas ia harus tetap fokus berakting.
Benar saja yang dikatakan oleh suaminya. Sebuah mobil putih mewah berhenti tepat di depannya. Ia pun tetap menunduk dan meneruskan aktingnya.
"Hai, akhirnya kita bertemu lagi."
__ADS_1
Suara menyebalkan itu menyapa telinganya. Ara mengangkat kepala. Matanya sudah sembab dan penampilannya acak-acakan.
"Kau lagi? Lebih baik kau pergi. Jangan menggangguku!" hardik Ara.
Sain malah tertawa. Itulah gaya yang paling menyebalkan dari Sain. Pria itu selalu tertawa seolah-olah hanya ia lah manusia paling bahagia di dunia ini. "Kau mengusir ku?" Sain berjongkok di depan Ara. "Gadis cantik, apakah kau mau mengusir orang yang menguasai daerah ini?"
Ara kembali mengangkat kepalanya. "Aku tidak peduli siapa yang menjadi penguasa di tempat ini. Kau sama saja seperti si Reno sialan itu. Kalian sama-sama menyebalkan!"
Sain bertepuk tangan tanpa menghilangkan senyumnya. "Hebat sekali aktingmu, Sayang." Tiba-tiba ia mencengkram rahang Ara dengan kuat. "Kau pikir kau bisa berakting di depanku. Kau mengutuknya, tapi tidak dengan matamu. Saat kau menyebut namanya, matamu menunjukkan rasa cinta."
Sain menyibakkan rambut Ara dan merampas earpiece dari telinga Ara dengan kasar. "Kau pikir aku bodoh! Aku tahu kau adalah istri Reno. Dan apakah kalian pikir bisa menjebak ku? Tidak semudah itu."
Ara akan melawan Sain, namun sebuah sapu tangan lebih cepat menutup hidung dan mulutnya. Tak butuh waktu sampai lima detik, Ara sudah tidak sadarkan diri.
Sain tersenyum licik. "Selamatkan istri kesayanganmu, Reno." Kemudian ia menginjak dan menghancurkan earpiece yang tadi ia rampas dari Ara.
Tak jauh dari tempat itu, Reno mengepalkan tangan dengan kuat. Sial sekali ia tidak bisa melakukan apapun. Rencananya hari ini hanya memasang alat pelacak di mobil putih Sain yang selalu dijaga ketat. Ia pikir Ara bisa melawan Sain dengan ilmu bela dirinya. Akan tetapi sepertinya Sain sudah mencium bau rencana ini, maka dari itu Sain sudah menyiapkan pembius untuk Ara.
"Sial ...!" geram Reno tertahan.
"Tenanglah Reno. Walaupun rencana awal kita gagal, namun kita masih bisa melanjutkannya dengan rencana ini. Alat pelacak itu masih ada kantung celana Ara. Kau ikuti mereka, aku akan berangkat menyusulmu." Suara Vano terdengar dari earpiece yang Reno pakai.
Reno menghela nafas panjang. Sebenarnya ia tidak mau melibatkan Ara ke dalam masalah yang lebih besar, namun rencana mereka sudah gagal dan Ara malah dalam bahaya. Mau tidak mau ia harus merubah rencana walaupun 90 persen tidak akan berhasil.
"Baik." Reno keluar dari persembunyiannya. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil sportnya yang ia sembunyikan di balik pagar rumah kosong di sekitar daerah itu, kemudian mengikuti sinyal-sinyal dari alat pelacak.
__ADS_1
* * * *
"Tuan Muda, mereka pasti akan datang kemari," ucap salah satu tangan kanan Sain.
Sain meraih gelas wine, meneguk isinya dengan cara yang paling cool. Ia tersenyum miring saat meletakkan gelas di atas meja. "Tentu saja. Memang itu yang aku inginkan. Aku sudah tahu rencana mereka ini. Maka dari itu aku sengaja menghampirinya dan membawanya kemari dengan alat pelacak itu. Sesekali mereka harus mengunjungi markas ku."
Tangan kanan Sain menoleh ke arah tiang besi tunggal yang ada di tengah-tengah ruangan itu. Di sana ada Ara yang tidak sadarkan diri dengan tangan dan kaki terikat kuat.
"Lalu bagaimana dengan gadis ini?" tanya pria itu.
Sain menatap wajah Ara yang masih tetap cantik walaupun dalam keadaan pingsan. "Aku akan bermain dengannya di depan mata Reno nanti." Kemudian ia tersenyum lebih lebar.
Sain melirik pada tangan kanannya. "Apakah perangkap sudah dipastikan sempurna?" tanya nya.
Pria itu mengangguk. "Sudah, Tuan Muda. Mereka pasti tidak akan mengetahui perangkap apa yang telah kita siapkan."
Sain menghela nafas panjang. Dengan santai ia bersandar pada sofa panjang yang merupakan satu-satunya tempat duduk di ruangan itu. "Mereka pikir akan mudah menghancurkan aku? Mereka menghancurkan aku dan ayahku lewat perusahaan. Tapi aku akan menghancurkan mereka langsung pada intinya, yaitu keluarga tersayang mereka."
Sain memang memiliki dendam pada keluarga Ravaldi sejak dulu. Bukan karena kondisi ibunya yang dibuat gila oleh Vano, melainkan karena ia pikir Yuda Ravaldi yang merebut ibunya dari ayahnya.
Di usia lima tahun ia masih membutuhkan sosok ibu, namun apalah daya, ibunya malah pergi dengan pria lain dan malah mengurus putra dari suami keduanya. Setiap hari ia menanyakan ibunya pada ayahnya, namun ayahnya selalu berkata, "Bunuh dulu Yuda Ravaldi dan putra kecilnya, barulah ibumu akan kembali."
Sain selalu mengingat kata-kata itu hingga saat ini. Bahkan sekarang dendamnya semakin bertambah. Vano Ravaldi sudah membuat ibunya menjadi gila, dan sampai kini ia belum bisa mengambil ibunya dari genggaman seorang tuan besar Vano Ravaldi.
"Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran kalian berdua, Vano Ravaldi, Reno Ravaldi."
__ADS_1