Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 6


__ADS_3

Vano turun dari kamar, meninggalkan Nirmala yang masih makan. Niatnya turun ke lantai bawah adalah menemui ibunya. Barangkali ibunya sudah pulang ke rumah. Mendengar langkah kaki yang tidak asing sedang menuruni tangga, para pelayan yang sedang bekerja merapikan meja makan langsung menunduk.


Masih menuruni anak tangga yang terakhir, Vano bertanya pada pelayan. "Apa nyonya besar sudah pulang?" tanya Vano.


Para pelayan mengangguk. "Baru saja pulang, Tuan Muda. Nyonya besar Raisa sedang berada di taman belakang," jawab pelayan tanpa berani mengangkat kepala.


Seperti biasanya, Vano tidak akan berucap terima kasih. Kakinya yang panjang melangkah langsung ke taman belakang melewati pintu yang dikhususkan untuk ke taman belakang.


"Nyonya besar."


Suara berat itu membuat wanita yang duduk di bangku taman menoleh ke belakang. Nyonya besar yang pelayan sebut dengan nyonya besar Raisa itu pun tersenyum pada putranya.


"Ada apa Vano? Mari duduk."


Ia bergeser ke kanan untuk memberikan ruang Vano duduk setelah pria itu sudah ada di hadapannya. Vano langsung duduk, menghela nafas, tapi tidak menatap ibunya.


"Ada apa? Tumben sekali kau mencari ibumu ini?" tanya Raisa senang. Karena sungguh baru kali ini Vano sengaja mendatanginya setelah bertahun-tahun lamanya.


Dengan mata yang menatap lurus ke depan, Vano mulai bertanya. "Apa yang Anda lakukan pada Nirmala?"


Raut wajah Raisa langsung berubah seketika. "Kurang ajar, pasti gadis itu melaporkan kejadian tadi pagi pada Vano."


"Aku melakukannya karena dia dengan tidak sopannya menumpahkan minuman pada pakaian tamuku." Raisa membela diri.


Vano menarik nafas, sebenarnya ia malas berbicara dengan ibunya ini. "Jangan berdalih. Aku tahu Nyonya sengaja membuat Nirmala tersandung."


"Vano, mengapa kau selalu memanggilku Nyonya besar? Aku ini ibumu, kau bisa memanggilku ibu." Raisa mengalihkan topik pembicaraan, lagi pula ia memang ingin membahas topik ini.


Vano berdiri, tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Raisa. "Bukankah itu jabatan yang Anda inginkan dari dulu?" Vano bertanya dengan nada sindiran yang tajam.


Sebelum melangkah pergi, Vano memberikan satu peringatan. "Jangan pernah mengusik Nirmala lagi," ucap Vano masih tanpa menatap ibunya.


Setelah kepergian Vano, Raisa berdecih sebal. Bahkan sekarang anaknya lebih berkuasa dari pada dirinya yang menjabat sebagai nyonya besar di keluarga Ravaldi.


"Lihatlah anakmu, Yuda Ravaldi. Sikap dinginnya sungguh memuakkan."


* * * *


Dengan perasaan penasaran, Nirmala memangku nampan yang bertutupkan kain merah. Perlahan namun pasti, Nirmala menarik kain penutup itu. Dan ....


"Waw! Ini serius?"


Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Apa yang ia lihat sangat sulit untuk dipercaya. Bagaimana tidak, isi dari nampan tersebut adalah perhiasan. Ada gelang, kalung, cincin, dan semuanya paduan antara emas dan berlian.

__ADS_1


"Dia manusia seperti apa? Dari mana dia punya kekayaan sebanyak ini?" Nirmala dibuat tercengang oleh hadiah dari Vano.


Vano memang dingin, tidak menunjukkan bahwa ingin akrab dengan dirinya. Walaupun demikian, Vano tidak kejam, malah memperlakukannya dengan baik. Sebodoh apapun ia, ia tahu bahwa Vano sebenarnya sudah memperhatikan dirinya dengan baik walaupun tidak berbicara.


'Ceklek'


Nirmala menoleh ke pintu. Vano masuk kamar dengan santai, sama seperti biasanya, tanpa berbicara sedikitpun.


"Tuan Mu--"


"Panggil aku Vano," potong Vano. Ia berjalan menuju sofa kamar kemudian duduk di sana dengan santai. Arah matanya tidak melihat Nirmala.


"Vano, mengapa kau memberikan aku banyak perhiasan?" tanya Nirmala.


"Hadiah pernikahan," jawab Vano singkat tanpa beban.


"Tapi ini terlalu banyak, aku tidak memerlukan semua ini," ucap Nirmala sambil mengangkat nampak berisi perhiasan.


Vano menghela nafas panjang. "Pakai saja, tidak usah banyak protes."


'Tok-tok-tok'


Terlihat tangan Vano mengepal. "Mengapa mereka tidak membiarkan aku beristirahat di kamar sebentar saja," geram Vano hampir tak terdengar.


"Masuk."


"Siapa?"


"Dia mengaku teman dekat Anda. Rafan Gultara."


Sorot mata Vano sedikit berubah. Beberapa detik ia melirik ke arah Nirmala yang terkejut mendengar nama Rafan di sebut. Ia berdiri merapikan kaus hitam panjang yang ia kenakan.


"Aku akan turun. Jamu dia dengan baik." Vano langsung meninggalkan kamar.


Ingin rasanya kaki Nirmala berlari ke lantai bawah untuk menemui mantan suaminya. Tapi apa boleh buat, Vano sepertinya tidak mempersilahkan dirinya untuk turun. Hanya air mata yang menemani Nirmala di kamar itu.


"Selamat datang di rumahku, Tuan Rafan." Vano memasuki ruang tamu.


Rafan berdiri untuk menyambut Vano. Mereka berjabat tangan. "Vano, bagaimana kabarmu?" tanya Rafan.


Keduanya kembali duduk berhadapan. "Baik," jawab Vano. "Sudah lama tidak datang ke mari."


Ya, terakhir Rafan datang ke rumah Vano adalah ketika Rafan memohon pinjaman uang dari tuan muda itu. Dan kini posisi duduk mereka pun sama dengan hari itu.

__ADS_1


Rafan tersenyum, tapi ada segurat rasa sakit di hatinya. Ia mengingat hari itu, detik-detik dirinya menandatangani perjanjian yang menyebutkan Nirmala sebagai jaminanya.


"Ya, aku pikir juga begitu. Kau tahu sendiri bahwa akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaanku di kantor."


Obrolan mereka terhenti sejenak ketika dua orang pelayan datang membawakan makanan ringan serta minuman. Setelah selesai, para pelayan itu kembali meninggalkan ruang tamu.


"Apakah ada hal penting yang menyebabkan kau datang ke mari?" tanya Vano sambil menatap Rafan.


Rafan mengangguk. Sebenarnya cukup sulit baginya untuk mengatakan ini sebab ia merasa tidak pantas, tapi ia tidak bisa menahan lagi. "Ada," jawab Rafan.


"Apa itu?" tanya Vano.


"Aku ke mari ingin menemui Nirmala, aku merindukannya."


Mendengar jawaban dari Rafan, Vano diam tanpa ekspresi. Walaupun demikian sebenarnya ia sedang berpikir. Bagaimanapun juga Rafan pasti merindukan Nirmala, begitu juga sebaliknya, Nirmala pasti merindukan Rafan. Tidak ada alasan baginya untuk melarang Rafan menemui Nirmala.


"Baiklah." Vano mengangguk satu kali.


"Pelayan." Vano tidak berteriak, namun ada saja pelayan yang mendengar panggilannya itu.


"Saya, Tuan Muda." Pelayan itu membungkuk lalu menunduk.


"Panggilkan nyonya muda kemari. Katakan Rafan ingin bertemu dan berbicara dengannya," ucap Vano.


Pelayan tersebut mengangguk. "Baik, Tuan." Kemudian pergi ke dalam.


Vano dan Rafan bertatapan tanpa berbicara apapun. Mereka sedang berkata pada hati mereka masing-masing.


Tak menunggu terlalu lama, terdengar langkah kaki mendekat. Kedua pria itu meyakini bahwa suara langkah kaki itu adalah suara langkah kaki Nirmala. Dan dugaan mereka memang tepat.


Tanpa melihat wajah Rafan saja Nirmala sudah sanggup menjatuhkan banyak air mata, apalagi sekarang yang jelas-jelas Rafan berada di depan matanya. Rindu, perih, cinta, benci, semuanya menjadi satu dalam hati Nirmala.


Rafan berdiri untuk menyambut mantan istrinya yang sangat ia rindukan. "Nirma."


Sebutir air mata menjadi saksi bahwa Rafan memang benar-benar menyayangi Nirmala, benar-benar mencintainya, dan benar-benar merindukannya.


"Nirmala, duduklah," perintah Vano dengan nada bossy nya.


Nirmala duduk bersebrangan dengan Rafan, tepatnya duduk di samping Vano. Hal itu semakin membuat hati Rafan sakit. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Nirmala.


"Rafan? Apakah kau tidak akan duduk?" tanya Vano.


Rafan tersadar dan kembali duduk di tempatnya.

__ADS_1


Menyadari Nirmala tidak merasa nyaman dengan situasi ini, Vano berdiri. "Kalian bicaralah berdua. Aku akan kembali lagi nanti." Vano melangkah memutari sofanya dan masuk ke dalam ruang tengah.


Nirmala baru mengangkat kepalanya lagi untuk melihat Rafan. Tatapannya dengan tatapan Rafan saling beradu, saling menyampaikan kerinduan. Namun hutang menjadi penghalang.


__ADS_2