
Hari sudah malam. Selesai makan malam, Vano langsung ke ruang kerjanya sedangkan Nirmala mengajak Ara ke kamarnya. Ia sudah meminta izin pada Vano untuk membawa Ara, ia membutuhkan teman untuk mengobrol.
Sekarang Ara dan Nirmala sedang duduk santai di sofa kamar. Mereka sudah mengobrol cukup lama dan sudah menghabiskan beberapa topik pembicaraan. Sesekali mereka tertawa dengan renyah saat menceritakan hal-hal yang lucu. Dan sekarang mereka membahas sesuatu yang membuat Ara cemberut sepanjang pembahasan.
"Jangan menyerah, Ara. Walaupun dia tidak ikhas, tapi setidaknya dia sudah mau bertindak," ucap Nirmala menghibur Ara.
Ara semakin memonyongkan bibirnya. "Tapi tetap saja Nyonya Besar, dia tidak melakukannya karena gerakkan hatinya. Dia menyuapi saya, melihat apakah saya sudah tidur atau belum, mengganti perban saya, semuanya hanya karena diperintahkan untuk bertanggung jawab."
Nirmala mengangguk sambil tersenyum. Ia paham dan mengerti perasaan Ara. Walaupun Ara tidak menyadari bahwa ia mulai menyukai Reno, tapi ia dapat melihatnya dari bagaimana Ara kesal saat Reno tidak memperhatikannya.
"Kalau begitu, kita harus menaikkan levelnya," ucap Nirmala.
Ara menoleh ke kanan, dilihatnya Nirmala sedang menaik turunkan alisnya.
"Maksudnya?" Ara kebingungan.
Nirmala mengerakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar Ara mendekatkan telinganya. Kemudian ia membisikan sesuatu. Beberapa saat kemudian, Ara membulatkan matanya.
"Bagiamana?" tanya Nirmala sambil tersenyum lebar.
Ara diam sejenak, ia masih mempertimbangkan semuanya. Tak lama kemudian ia mengangguk. "Baiklah, saya akan melakukannya. Saya ingin sekali mengalahkannya." Ara berkata dengan penuh semangat.
Nirmala memberikan dua jempol. "Matap."
Tapi senyum Ara tiba-tiba menghilang. "Tapi Nyonya Besar, ada seseorang yang mungkin akan mempersulit saya."
Nirmala mengerutkan keningnya. "Siapa?" tanya Nirmala pemasaran.
"Pelayan di rumah ini. Lia," jawab Ara.
Nirmala diam sejenak. Ia menatap lantai sambil terus berpikir. Ia memang bukan ahli taktik cinta, tapi ia akan berusaha semaksimal mungkin. Tak lama kemudian Nirmala tersenyum.
__ADS_1
"Aku punya rencana dengan itu." Nirmala menyeringai lebar.
* * * *
Cuaca pagi ini tidak secarah kemarin-kemarin. Udara dingin, langit menggelap, angin bertiup ke sana-kemari. Di depan teras sudah ada Vano dan Farhan. Sedangkan di dalam mobil ada Reno yang sudah siap mengantarkan tuannya ke kantor.
Di lantai atas ada Nirmala dan juga Ara yang sedang memperhatikan mobil hitam dari balkon kamar Nirmala. Ara tersenyum-senyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil hitam, berharap manusia yang ada di dalam sana melihat ke arahnya. Ia juga tidak terlalu yakin apakah orang itu akan melihat ke arahnya atau tidak, kaca mobil terlalu gelap untuk melihat ke dalam.
Sedangkan di dalam mobil, ada seorang pria yang memijat keningnya sambil melihat ke balkon atas. "Entah ada apa lagi dengan gadis gila itu?"
Reno menghela nafas kasar. Percuma saja dipikirkan, hanya membuang-buang waktu saja.
Pintu belakang dibuka oleh dua orang pekerja pembuka pintu, segera Reno mengalihkan pandangan ke depan. Ia bersikap seolah-olah tidak ada yang sedang ia perhatikan.
Jangan sampai ada yang tahu bahwa sedari tadi ia memperhatikan gadis lincah dan galak yang ada di balkon kamar Nirmala. Sebenarnya ia mencurigai Nirmala, pasti gadis galak itu sudah termakan oleh ucapan Nirmala. Bagaimana gadis galak itu bisa bertingkah imut seperti sekarang, jika bukan hasutan Nirmala.
"Hei, apa yang kau lamunkan?"
"Ekhem, tidak ada apa-apa, Tuan." Reno langsung menginjak pedal gas.
Sedangkan di belakang, Vano menyembunyikan senyumnya. Ia tahu ada sesuatu yang menggangu fokus adiknya ini. Selama ini adiknya tidak pernah terlihat melamun. Pria yang selalu waspada mana mungkin melamun seperti tadi. Dan Vano menebak orang yang menggangu fokusnya adalah Ara.
Seperti biasanya, sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Farhan sibuk memikirkan rapat yang akan dilaksanakan nanti, Vano sibuk memikirkan hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut kelahiran anaknya delapan bulan lagi, sedangkan Reno memikirkan cara agar dirinya tidak terjebak dalam permainan Ara dan Nirmala.
Setengah jam kemudian, mobil hitam parkir di parkiran bawah tanah. Vano dan Farhan turun dari dalam mobil, sedangkan Reno masih di dalam mobil. Ia diperintahkan oleh Vano untuk kembali ke rumah. Reno setuju saja.
Ketika Reno memutar balik mobilnya, dua mobil hitam parkir di sana. Mobil tersebut adalah mobil yang sering digunakan oleh bodyguard khusus Vano. Reno baru bisa tenang jika para bodyguard sudah mengawal Vano. Sekarang ia bisa keluar dari parkiran basemen dengan kecepatan sedang.
Tibanya di parkiran depan gedung, ia melihat seorang pria turun dari dalam mobil. Reno mencengkram sertir dengan sangat erat. Buku-buku jarinya sampai memutih, dan rahangnya mengeras. Dari balik topi, ia menatap pria itu dengan tatapan membunuh.
"Untuk kali ini aku masih membiarkan kau hidup. Tidak untuk lain kali lagi." Ia menggeram dalam nada membunuh.
__ADS_1
"Siapa yang akan kau bunuh?" Suara Farhan terdengar di telinga. Ia lupa mematikan earpiece di telinganya.
"Tidak ada, tidak penting." Kemudian Reno mematikan earpiece untuk sementara.
Ia memukul setir. "Sial, lagi-lagi aku tidak berhati-hati. Mengapa akhir-akhir ini aku sering ceroboh?"
Reno frustasi pada dirinya yang akhir-akhir ini sulit sekali fokus pada rencana-rencana yang sudah ia rencanakan. Pikirannya sering kacau dan ia menjadi sering emosi. Padahal sebelumnya, ia masih bisa menahan emosi dengan menahan diri dan mengunci mulut. Tapi sekarang, ia jadi lebih sering mengutarakan kekesalannya. Eits, tanpa kutip hanya di hadapan Ara saja.
Masih dalam pikirannya, Reno menginjak pedal gas dengan kuat hingga mobil melesat sangat cepat.
* * * *
"Nyonya Besar, biar saya yang mencuci piring. Anda istirahat saja," ucap Lia yang berdiri menunduk di belakang Nirmala.
Di samping Nirmala ada Ara yang setia menunggu dan menemani semua aktivitas Nirmala. Ia berdiri dengan tegap layaknya tentara yang sedang berbaris.
"Tidak apa, aku ingin mencuci piring bekas makan suamiku," jawab Nirmala sambil tersenyum. "Kau sudah terlalu sibuk, jadi sebaiknya kau saja yang istirahat," tambah Nirmala.
Lia tersenyum, tapi kepalanya masih menunduk. "Terima kasih atas perhatian Anda. Tapi sungguh tidak pantas saya istirahat sedangkan nyonya saya masih mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan."
Kini Nirmala mengelap piring yang baru saja selesai dicuci. "Kau sangat baik. Aku rasa kau sangat cocok dengan sopir pribadi tuan besar Vano. Aku harap kau bisa merubah sifat dinginnya. Sebagaimana aku yang bisa merubah sikap tuan besar sedikit demi sedikit."
Lia semakin tersenyum dengan lebar, sedangkan Ara hanya diam tanpa mengeluarkan ekspresi apa-apa. Lebih tepatnya seperti orang yang tidak mendengar apapun. Lia melirik pada Ara, ia memberikan senyum ejekan pada Ara, akan tetapi tidak ditanggapi oleh Ara.
Lia kembali fokus pada Nirmala. "Apakah itu benar?" tanya Lia dengan semangat.
Nirmala mengangguk. "Tentu saja. Selama ini pelayan dilarang mendekati sopir tuan besar atas perintah tuan besar. Akan tetapi mulai sekarang, semua pelayan sudah diperbolehkan mendekati sopir pribadi tuan besar karena sudah waktunya sopir itu mencari pasangan hidup." Nirmala menepuk bahu Lia. "Lakukan apapun yang kau bisa. Jangan menyerah. Jika kau bertindak lambat, maka sopir itu bisa diambil oleh orang lain."
Lia mengangguk sambil tersenyum. "Pantas saja pengawal pribadi nyonya besar ini mulai dekat-dekat dengan sopir pribadi itu. Ternyata sudah diperbolehkan. Baiklah, aku tidak akan sungkan-sungkan dan ragu-ragu lagi."
Lia tersenyum miring pada Ara. "Lihat saja, aku akan mengalahkan kau."
__ADS_1