Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 43 (S2)


__ADS_3

"Ternyata Reno yang asli adalah sopir pribadi Vano. Selama ini mereka menyembunyikan Reno dengan sangat baik. Jangan-jangan, pembunuh berdarah dingin yang selama ini menghantui kita adalah Reno."


Pria berusia 56 tahun dan berjanggut pendek sedang duduk bertumpang kaki di kursi kebesarannya. Ada rasa senang mengetahui keberadaan Reno, tapi ada rasa khawatir juga. Jika Reno adalah pembunuh berdarah dingin yang sudah membunuh setiap anggota terbaiknya, maka akan sangat sulit dan berbahaya untuk menyingkirkan nya.


"Kalau begitu kita harus berhati-hati. Pergerakan anak buah pembunuh berdarah dingin dan sadis ini semakin lama semakin sulit diketahui. Mereka bergerak seperti anak panah tak kasat mata yang melesat secepat cahaya. Orang terbaik kita tinggal tersisa tiga orang, itu artinya kau harus mulai turun tangan," ucap pria itu.


"Baiklah."


* * * *


"Ya ampun Ara, satu minggu tidak bertemu banyak sekali perubahan dari mu." Nirmala memegang kedua bahu Ara sambil melihat adik iparnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Badanmu sedikit berisi, bentuk badanmu terlihat lebih berlekuk lagi, dan wajahmu lebih bersinar."


Ara hanya tersenyum saja, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia sendiri merasa berat badannya mulai menambah.


Reno dan Vano berdiri di samping istri mereka masing-masing. Mereka hanya melihat dua wanita itu melepas rindu.


Vano memeluk pinggang istrinya. "Sayang, biarkan mereka masuk ke dalam dulu, setelah itu kau bisa melepas rindu sepuasnya."


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah sudah ada pelayan yang menyambut mereka. Sebenarnya Vano tidak memerintahkan seluruh pelayan untuk menyambut kedatangan Ara dan Reno, mereka memiliki inisiatif sendiri karena mereka merindukan sopir pribadi Vano yang kini identitas aslinya telah terbongkar.


"Tuan Muda, Anda ingin minum apa?"


"Tuan Muda, ingin langsung makan atau minum dulu?"


"Apakah Anda lelah? Saya bisa membuatkan minuman penyegar badan."


"Saya sudah menyiapkan cemilan yang enak untuk Anda, Tuan Muda."


Para pelayan langsung memberikan perhatian penuh pada tuan muda Reno tanpa mempedulikan ada yang kebakaran hati di samping tuan mudanya.


Mereka terus berbicara sampai pada akhirnya Vano yang memerintahkan kepada mereka untuk diam.


"Kalau kalian ribut, akan aku potong gaji kalian." Vano menoleh ke arah kepala pelayan yang sedang mengecek bahan makanan di kulkas. "Kepala pelayan, atur mereka agar tidak menggangu ketenangan tuan muda dan nyonya muda."


Kepala pelayan langsung mengangguk dan memberi isyarat pada para pelayan untuk segera bubar sebelum Vano dan Reno marah.


Reno melirik ke arah istrinya. Dilihatnya Ara tengah memonyongkan bibirnya sambil menatap tajam pada para pelayan yang sedang berlalu pergi. Ingin rasanya ia mencubit pipi istrinya seperti yang biasanya ia lakukan akhir-akhir ini. Akan tetapi ia tidak mungkin melakukannya di hadapan Vano dan Nirmala.

__ADS_1


"Lihatlah istrimu, Reno. Dia terlihat sangat cemburu. Pasti kalian sudah saling jatuh cinta, cinta setengah mati." Ternyata Nirmala juga memperhatikan wajah Ara.


Reno kembali melirik Ara, dan Ara melirik Reno. Saling tatap pun terjadi. Terlihat kedua pasangan itu sedang jatuh cinta.


Melihat Ara dan Reno, Vano bisa menangkap sinyal-sinyal asmara. Ia yakin bahwa Reno sudah mulai berubah, terlihat dari cara Reno menatap Ara dan dari ekspresi wajah Reno yang sekarang tidak terlihat begitu dingin.


"Sudahlah Sayang, jangan menggoda mereka. Cukup Reno junior yang mengungkapnya," ucap Vano sambil merangkul bahu Nirmala.


Kepala pelayan datang membawakan nampan berisi empat gelas teh es, lalu disusul oleh seorang pelayan yang membawakan makanan ringan. Setelah itu keduanya pergi dengan sopan.


Setelah pelayan pergi, Nirmala langsung mengeluarkan ekspresi yang sangat antusias. "Oh ya. Apakah kau sudah isi? Sudah telat datang bulan atau belum? Berapa kali kalian buat Reno dan Ara junior?"


Vano menyenggol lengan istrinya. "Jangan bertanya terlalu berlebihan."


Pipi Ara langsung merona merah, sedangkan Reno menunduk menahan malu.


"Aku tidak telat, Kak. Malah sekarang aku sedang datang bulan," jawab Ara.


Vano melirik ke arah Reno. Seolah ada sinyal panggilan, Reno melirik kakaknya dalam posisi menunduk. "Kasihan," ucap Vano seolah mengasihani Reno.


Dua wanita yang duduk di samping mereka tidak mengerti apa maksud ucapan Vano, namun dua pria itu sudah pasti mengerti dan saling melempar senyuman lebar.


* * * *


Di ruang pertemuan Vano dan Reno sedang duduk berhadapan. Reno sudah menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangganya selama seminggu terakhir ini. Vano sangat bahagia mengetahui adiknya sudah mengenal cinta. Sungguh seharusnya ia berterima kasih para Ara.


"Ya. Mungkin dari dulu aku tidak menyadarinya, akan tetapi perasaan itu semakin hari semakin jelas," jawab Reno.


Perbincangan mereka terus merambat ke sana ke mari hingga akhirnya mereka sampai pada topik pembicaraan yang sangat serius.


"Pak Farhan pergi ke Paris untuk mengurus pembelian saham," ucap Vano.


"Kalau begitu aku bisa mulai bekerja mengantarkan mu ke kantor, Kak," ucap Reno.


Vano menggeleng. "Tidak usah. Aku memberikan kau libur satu bulan penuh. Soal berangkat ke kantor, aku bisa menyetir sendiri dan dikawal oleh para bodyguardku."


Reno mengangguk, semuanya terserah apa kata kakaknya saja. Lagi pula ia memang sedang ingin menghabiskan waktu berdua dengan Ara.

__ADS_1


"Oh ya, pak Tua bilang dia sedang pergi juga," ucap Vano lagi.


"Ya, dia pergi menyelesaikan urusan pribadinya. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Sudah sekitar lima hari ini dia pergi." Reno merapikan lengan kaosnya. "Oh ya, apakah yang membeli saham di Paris itu hanya Kakak saja?" tanya Reno.


Vano mengambil cangkir teh, menyeruputnya sebentar, lalu meletakkan kembali di atas meja. "Tidak. Aku bekerja sama dengan perusahaan Rax Group," jawab Vano santai.


Berbeda dengan Vano, Reno yang mendengar nama perusahaan itu langsung menegang. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. "Aku tidak setuju, Kak."


Vano menatap adiknya dengan tatapan penuh tanya.


"Rax Group adalah perusahaan yang dijadikan tameng oleh Paul," lanjut Reno.


Vano terkejut setelah mendengar ucapan adiknya. Ia sangat mengenal Paul. Paul adalah mafia kaya raya yang pernah masuk penjara namun berhasil bebas tanpa jaminan. Pria itu sangat licik, semua pengusaha tahu siapa Paul itu. Akan tetapi beberapa tahun ini nama Paul hilang begitu saja, bak tertelan bumi, perusahaan gelapnya pun menghilang seolah-olah tidak pernah ada.


"Dari mana kau tahu? Rax Group adalah perusahaan yang dipimpin oleh Sain," ucap Vano masih kurang yakin.


Reno tersenyum miring. "Itulah mengapa terkadang aku kurang percaya pada penelitianmu, Kak. Peneliti di pihak perusahaanmu masih kurang pintar."


Reno menatap kakaknya dengan serius. "Pemimpin Rax Group adalah Sain Rukano, dan Sain Rukano memiliki ayah yang bernama Paul Rukano. Wajar saja Paul ingin mengembangkan lagi bisnis gelapnya dengan Rax Group sebagai tamengnya." Reno menghela nafas lalu bersandar pada sofa. "Dan kenyataan yang paling besar adalah, Sain Rukano adalah putra tunggal dari Paul Rukano dan Raisa Amara."


Vano membulatkan matanya. "Anak Raisa?"


* * * *


Ara : Thor, mana lagi sih cerita romantis aku sama si Reno. Kok mulai bahas si mata pelajaran Sain.


Author : Itu Sains, Mbak Ara. Ya sabar dulu to. Kan si Sain juga harus segera di musnahkan dari muka bumi ini.


Ara : Lagian Author kok pake jadiin si Sain anak si Raisa sih? Kenapa coba harus ada yang jahat juga di season 2 ini?


Author : Lah ... kok nanya aku? Tanya noh si Raisa, ngapain dia buat anak dan lahirin si Sain. Lagian kemunculan si Sain ini ada hikmahnya kok, tenang aja, Ok. Semua udah aku atur.


Reno : Thor, si Afid ke mana sih? Sejak dia kabur aku gak ketemu dia lagi.


Author : Dia lagi aku wawancarai tentang kisah hidup ke-playboyan nya. Siapa tahu bisa Author jadiin novel baru, kan?


Reno : Novel baru, novel baru, novel baru aja yang dipikirin. Itu si Sopir bajaj elit yang aku sayang, my so sweet husband, dia polisi aku preman palak, Lotto, sama fake love belum ada yang kelar.

__ADS_1


Author : Tenang, nanti ane kelarin satu-satu. Udah jangan banyak cingcong, aku mau lanjut nulis nih.


__ADS_2