Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 25


__ADS_3

"Lihatlah Nirmala, kau sama sekali tidak bisa menjaga suamimu. Vano tidak pernah mabuk sebelumnya, tetapi, setelah dia menjadikan dirimu sebagai istrinya, dia sampai mabuk seperti ini."


Raisa masih saja berbicara ketika Vano sudah dalam kondisi mengkhawatirkan seperti ini.


Sudah berulang kali adiknya disudutkan, akhirnya Braksa angkat bicara. "Anda tidak bisa menyalahkan Nirmala, Nyonya Besar. Seharusnya Anda bisa mendidik anak Anda agak tidak memilih mabuk saat menghadapi masalah."


Nirmala tidak mendengarkan perbincangan antara kakaknya dan ibu mertuanya. Ia dan Farhan sibuk mengurus Vano yang baru dibaringkan di atas tempat tidur.


Raisa melotot. "Apa yang kau katakan? Beraninya keluarga miskin seperti kalian mau menyalahkan aku? Heh, masih beruntung anakku mau menerima wanita murahan seperti adikmu it--"


"Nyonya Besar!" Akhirnya Farhan kehabisan kesabaran. "Bisakah Anda tidak mengoceh terus? Jika Anda ingin ribut, silahkan pergi keluar."


Raisa langsung diam. Bukan karena takut pada Farhan, akan tetapi bisa saja Farhan melaporkan sesuatu yang buruk tentangnya pada Vano. Karena kesal, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kamar.


"Kalian semua." Vano mengangkat tangan dan menunjuk semua orang satu-persatu kecuali Nirmala. "Pergi. Aku ingin bersenang-senang dengan janda cantikku." Vano berbicara melantur.


Farhan menatap Nirmala. Melihat kondisi tuannya yang masih dalam pengaruh alkohol, ia khawatir atas keselamatan Nirmala. Akan tetapi ia harus pergi karena Nirmala mengangguk.


"Ayo kita pergi." Farhan mengajak Braksa dan yang lain untuk pergi meninggalkan kamar.


Sepeninggalan mereka, Nirmala duduk di samping Vano. Ia ingin memastikan Vano baik-baik saja.


"Hei, kau mantan istri Rafan." Vano memanggil dengan sebutan mantan istri Rafan. "Apakah kau suka melayani mantan suami itu?"


Nirmala menelan ludah. Sebenarnya ia sedang menahan air mata. Walaupun tidak begitu kasar, namun ucapan melantur Vano mampu mengiris hatinya.


"Jika jawabannya iya, aku ingin mengetahui, seberapa hebat kau melayani suamimu ini," lanjut Vano.


"Vano, kau sedang mabuk. Lebih baik kau istirahat."


Baru akan beranjak pergi, tangan Vano menangkap tangannya. "Hey!" Vano berbicara dengan suara keras. Kemudian ia merendahkan nadanya lagi. "Aku tidak mabuk. Aku masih bisa berpikir jernih."


"Tidak Vano. Untuk sekarang, tidak ada gunanya berbicara dengan mu--"


Tangan Nirmala ditarik hingga jatuh menimpa Vano. Nafas Vano yang berbau alkohol itu sangat menyengat hidung.


"Kau tidak ingin berbicara denganku?" Vano tersenyum miring. "Aku tidak ingin kau berbicara, cukup pelayananmu malam ini yang berbicara."

__ADS_1


Walaupun sedang mabuk, Vano masih memiliki tenaga yang kuat. Dengan mudah ia mengubah posisi. Dengan begitu ia dapat mengunci pergerakan Nirmala. "Malam ini kau menjadi milikku, bukan milik Rafan lagi."


Wajah Nirmala memucat, telapak tangan dan telapak kakinya menjadi dingin. "Vano, sadarlah. Jangan lakukan ini. Kau tidak mencintaiku, aku juga tidak mencintaimu."


"Aku tidak peduli jika kau tidak mencintaiku. Aku hanya ingin kau menjadi milikku. Tidak akan pernah aku biarkan Rafan memilikimu lagi. Apakah kau mengerti, janda cantikku?"


Nirmala berusaha memberontak, akan tetapi tenaga Vano yang sedang mabuk masih tetap kuat untuk dilawan. "Vano, lepaskan aku."


Vano tidak peduli, ia tetap menjelajah.


"Vano! Lepaskan aku!"


Vano masih tidak peduli.


"Tolong! Siapapun tolong aku!" Akhirnya Nirmala yang panik malah berteriak minta tolong. "Jangan Vano!"


Dalam kondisi mabuk, Vano masih bisa melepaskan kancing kemejanya dan merobek baju atas Nirmala.


"Tolooong!"


'Ceklek'


Vano ambruk kesamping, walaupun belum pingsan, akan tetapi ia sudah lemas. Pukulan kuat di pundaknya cukup membuat ia lemas dan semakin pusing.


"Sial!" hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Nirmala bangun lalu menutupi bagian atasnya dengan selimut. Ia membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang telah memukul Vano. "Sopir?"


Sopir itu tidak banyak bicara. Segera ia melepaskan jasnya lalu menyerahkannya pada Nirmala. Tanpa harus dijelaskan pun, Nirmala sudah tahu bahwa sopir itu memintanya memakai jas yang diberikan.


Selagi Vano setengah sadar, sang sopir meraih tangan Nirmala dan langsung ditarik keluar dari kamar itu.


"Anda harus keluar dari sini, Nyonya Muda."


Nirmala hanya mengikuti langkah cepat sang sopir. Sebelum keluar kamar ia melihat ke belakang. Di sana Vano mulai tidak bergerak. Mungkin tidur ataupun pingsan. Nirmala berlari kecil untuk menyeimbangi langkah kaki pria di depan nya yang masih menarik tangannya. Ada rasa sisa ketakutan, ada rasa bingung, khawatir, dan heran.


Sang sopir membawa Nirmala masuk ke dalam lift. Ternyata ia membawa Nirmala ke lantai dua. Selanjutnya ia membawa Nirmala ke sebuah kamar. Nirmala tidak tahu kamar siapa itu, yang jelas ia sangat kebingungan. Ada sedikit rasa curiga dan takut, ia khawatir jika sipor itu ternyata bukan orang baik.

__ADS_1


"Maaf Nyonya Muda. Sebaiknya Anda tidur di sini saja malam ini. Tuan muda tidak dalam kondisi sadar." Barulah sang sopir misterius itu melepaskan tangan Nirmala. Ia menutup pintu dan menguncinya.


Melihat wajah Nirmala yang waspada, ia tahu bahwa Nirmala tengah berpikir buruk tentangnya. "Anda tenang saja. Saya tidak mungkin berani menyentuh kulit Anda lagi."


"Lalu kau akan tidur di mana?" tanya Nirmala.


"Saya akan berjaga di sini hingga tuan muda mencari Anda. Saya yang melarikan Anda, maka saya juga yang harus bertanggung jawab."


Baru kali ini Nirmala mendengar suara sopir misterius dengan cukup lama karena banyak menjelaskan. Dari penjelasan sopir pribadi itu, Nirmala tahu bahwa sang sopir memiliki niat baik untuk menyelamatkan dirinya dari keberingasan Vano.


"Baiklah. Terima kasih karena telah menolongku."


Nirmala naik ke atas ranjang. Dilihatnya sang sopir sudah duduk di sofa sambil menghadap ke pintu, sama sekali tidak melihat ke arahnya maupun meliriknya. Sepertinya di dalam hati sang sopir selalu menegaskan 'Nirmala milik tuan mudanya. Dan dilarang sembarangan melihat dan menyentuh kulit milik tuan muda'.


* * * *


Pagi-pagi sekali, di lantai tiga sudah ada keributan. Semua penghuni gedung berkumpul di depan kamar pengantin. Di depan mereka berdiri tuan muda dengan tatapan tajam yang mematikan. Dan di samping tuan muda ada Farhan yang setia berdiri satu langkah di belakang. Tidak ada satupun manusia yang berani menatapnya maupun menegakkan kepala.


"Jawab!" Bentakan Vano membuat semua orang ketakutan.


"Kami tidak melihat ada orang yang masuk ke kamar Anda, Tuan Muda," jawab salah satu pelayan mewakili semua orang.


Raisa menarik nafas panjang. "Vano, mungkin itu Rafan. Dan sekarang Nirmala sudah bahagia bersama mantan suaminya di sebuah hotel atau di rumahnya."


Vano langsung menatap tajam Raisa. Hanya dengan tatapan itu, Raisa sudah tidak berani untuk berbicara lagi.


Setelah menatap ibunya, Vano menatap pekerjanya. Semuanya sudah ada di sana. Tapi tak lama kemudian ia menyadari sesuatu, ada satu orang lagi yang tidak memenuhi panggilannya.


"Ke mana sopir pribadiku?"


Farhan menegakkan kepalanya. Matanya menyapu seluruh koridor. "Maaf Tuan Muda, tadi saya sudah menelpon nya."


Vano berpikir sejenak, tak lama kemudian matanya menunjukkan bahwa ia tengah mencurigai seseorang.


"Topi itu ...."


Tanpa banyak bicara lagi Vano berjalan meninggalkan semua orang.

__ADS_1


Melihat Vano pergi, Farhan dan beberapa bodyguard langsung mengikuti dan disusul oleh Raisa dan Braksa.


__ADS_2