
Selesai mandi dan berpakaian, Nirmala langsung mengeringkan rambut. Selama ia mengeringkan rambut, Vano juga mandi. Beberapa menit kemudian, Vano sudah selesai berpakaian dan keluar dari ruang ganti baju.
"Bisakah kau mengeringkan rambutku dengan handuk?" tanya Vano ketika berdiri di belakang Nirmala yang sedang duduk di meja rias.
"Pakai hair dryer saja." Nirmala mengangkat alat pengering rambut itu.
Vano menggeleng. "Tidak, aku tidak pernah memakai benda itu karena bisa menyebabkan kerusakan rambut."
Nirmala menatap hair dryer tersebut. "Jika kau tidak pernah menggunakan alat ini, lalu mengapa ada di kamar ini? Apa jangan-jangan kau--"
Vano berdecak. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku sudah mengatakan bahwa aku belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Masalah hair dryer itu, sehari sebelum aku menikahi dirimu, aku memerintahkan pelayan untuk menyiapkan hair dryer, handuk, dan hal lain yang wanita butuhkan."
Nirmala mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Vano secara langsung. "Jadi kau sudah mempersiapkan semuanya untukku?" tanya Nirmala.
Vano mengangguk.
"Apakah sebelum menikah kau sudah mengenalku?" tanya Nirmala.
Vano menggeleng. "Belum. Aku hanya tahu namamu dan fotomu saja. Itupun hanya sekali ketika Rafan memperkenalkan istrinya di perusahaan."
Nirmala kembali menatap cermin kemudian berdiri. "Baiklah, kemari biar aku keringkan rambutmu."
Nirmala bergeser dan kini giliran Vano yang duduk.
Nirmala mulai mengeringkan rambut Vano dengan lembut. "Hari ini tidak ke kantor lagi?" tanya Nirmala.
Vano tertawa kecil. "Kau ini tidak pernah melihat tanggal dan hari ya? Hari ini hari Minggu, mana mungkin aku berangkat ke kantor."
Setelah selesai dikeringkan, Nirmala menyisir rambut Vano dengan rapi. Ia menyisir rambut suaminya sambil memperhatikan rambut hitam tersebut. "Aku beruntung karena dicintai oleh pria seperti Vano. Walaupun dia dingin, tapi sesungguhnya dia sangat perhatian."
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Vano.
Nirmala tersenyum kemudian menggeleng. "Tidak ada."
Ketika rambutnya sudah rapi, Vano mencekal tangan Nirmala. Ia merebut sisir dari tangan istrinya lalu meletakkannya di atas meja. Dengan sekali gerakan ia menarik tangan Nirmala lalu mengecup pipi Nirmala.
"Terima kasih," ucapannya lalu melepaskan Nirmala. Ia berdiri. "Mari kita ke bawah untuk makan."
Pagi menjelang siang itu hujan turun dengan deras, udara sekitar menjadi sedikit dingin, dan para pelayan dan penjaga masuk ke dalam rumah kecuali penjaga pagar yang memiliki pos sendiri.
Berbeda dengan hari-hari lainnya, hari ini meja makan memiliki tuan. Vano dan Nirmala duduk di depan meja makan menikmati makanan mereka. Melihat tuan dan nyonya nya makan, para pelayan merasa sangat bahagia.
"Aku merasa sangat bahagia melihat nyonya besar dan tuan muda makan bersama di meja makan. Biasanya mereka makan di kamar, sehingga rumah ini terlihat tidak ada kehidupan," ucap salah satu pelayan.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Tapi bersamaan dengan kebahagiaan ini, aku merasa sedih. Ria dan Nisa harus dipecat karena pengkhianatan mereka pada tuan besar Vano," ucap pelayan yang lainnya.
"Aku juga merasa begitu. Biasanya kita ngobrol bersama di jam santai, tapi sekarang mereka sudah tidak mungkin bekerja di sini lagi. Aku tidak menyangka mereka akan berkhianat."
Ketua pelayan melewati dua pelayan yang sedang bergosip sambil memperhatikan tuan dan nyonya besar mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan bergosip, jika tuan besar tahu, kalian bisa terkena marah," ucap ketua pelayan setengah berbisik kemudian meneruskan langkahnya.
Selesai makan, Vano mengajak Nirmala kembali ke kamar karena ia ingin memberikan sesuatu pada istrinya itu. Nirmala hanya mengangguk dan patuh mengikuti Vano ke dalam kamar mereka. Sesampainya di sana, Vano menutup pintu kembali.
"Ada apa?" tanya Nirmala.
Vano tidak menjawab. Ia berjalan menuju lukisan pemandangan sungai. Entah apa yang ia tekan, tiba-tiba lukisan tersebut bergeser ke kanan dan menampakkan sebuah laci kecil.
Vano membuka laci tersebut dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Setelah menutup laci, Vano duduk berdiri di depan jendela besar yang menampakkan pemandangan hujan di luar.
"Kemarilah."
Nirmala berjalan mendekat sesuai dengan perintah. Matanya fokus pada kotak yang dipegang oleh Vano. "Ini apa?" tanya Nirmala.
Vano tidak menjawab, ia malah melihat ke arah butiran air yang turun dari langit. "Kau lihat hujan ini?"
"Tentu saja aku melihatnya," jawab Nirmala santai.
"Seharusnya matahari cerah yang menjadi saksi, tapi karena sekarang hujan deras, maka biarkan jutaan butiran air ini yang menjadi saksi."
Vano mengeluarkan kalung tersebut dari dalam kotak. "Ini adalah satu-satunya barang berharga yang ibuku tinggalkan. Aku ingin kau mengenakan kalung ini. Aku yakin ibuku pasti akan sangat senang."
Nirmala ternganga melihat kalung yang sangat indah. Benda itu pasti sangat langka dan mahal. Dan sekarang Vano ingin ia memakai kalung tersebut? Sungguh Nirmala tidak dapat mempercayai apa yang diberikan oleh Vano padanya.
"Vano, i-i-ini sungguhan?" tanya Nirmala.
Vano tersenyum. Tanpa menunggu Nirmala menerima pemberiannya, ia langsung memakaikan kalung tersebut di leher Nirmala. Ia memasangkan kalung tersebut dari depan. Sambil mengaitkan kalung, mata Vano dan Nirmala bertemu. Jantung keduanya berdebar kencang.
Setelah selesai, Vano mencium istrinya. "Aku mencintaimu, istriku."
Nirmala tersenyum lalu memeluk Vano. "Aku mencintaimu juga, Suamiku."
* * * *
Hari Minggu berikutnya, Vano mendapatkan kabar dari rumah sakit yang merawat Raisa. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa Raisa sudah sembuh secara fisik, akan tetapi secara mental, Raisa sama sekali tidak baik. Ia mengalami gangguan jiwa. Oleh sebab itu hari ini Vano mengajak Nirmala untuk mengantarkan Raisa ke rumah sakit jiwa.
"Vano, apakah Raisa benar-benar akan cepat sembuh jika berada di rumah sakit jiwa ini?" tanya Nirmala.
__ADS_1
Nirmala, Vano, Farhan dan sopir pribadi sedang berjalan di koridor rumah sakit jiwa. Sedangkan para bodyguard masih berkeliling untuk mengamankan lokasi yang akan didatangi oleh tuan besar dan nyonya besar nya.
"Mungkin, aku tidak bisa menjamin," jawab Vano.
Nirmala cemberut. "Kau kejam sekali."
Vano tertawa kecil. "Aku kejam? Aku rasa aku sudah sangat baik pada wanita itu. Seharusnya aku tidak perlu membawanya ke rumah sakit jiwa. Seharusnya aku lemparkan dia ke jalanan agar menjadi orang gila gelandangan tak terawat. Akan tetapi, mau bagaimanapun dia adalah ibu tiriku."
Nirmala diam, yang diucapkan oleh Vano memang sangat benar. Vano yang dingin, membawa ibunya yang kejam ke rumah sakit jiwa adalah sebuah kebaikan. Jika orang lain, mungkin mereka sudah membunuh wanita kejam seperti Raisa.
Nirmala tersenyum. "Kau sangat baik." Sambil berjalan Nirmala memeluk Vano.
Dua pria yang berjalan di belakang pasangan suami-istri itu hanya terdiam. Mereka seperti obat nyamuk yang tidak dianggap keberadaannya. Ya itulah mabuk cinta, dunia serasa milik berdua.
Selesai mengurus semua pendaftaran perawatan Raisa, Vano mengajak Nirmala untuk menemui seseorang.
"Maaf Tuan Besar, apakah sudah saatnya?" tanya Farhan sebelum mereka memasuki ruang yang berbeda dengan ruangan lainnya.
Vano mengangguk. "Tentu saja."
Sang sopir dan Farhan tidak ikut masuk ke dalam, mereka memilih untuk tunggu di luar.
Nirmala mengikuti langkah Vano masuk ke dalam ruangan. Nirmala heran mengapa ruangan tersebut sangat luas dan terdapat beberapa perawat. Di ruangan tersebut juga ada kasur king size serta perabotan yang umumnya berada di kamar mewah.
"Vano, ini ruangan perawatan?" tanya Nirmala.
Vano tersenyum tanpa menjawab, ia terus berjalan lalu menghampiri seorang pria yang memakai jas putih.
"Selamat pagi, Tuan Vano." Pria itu tersenyum dan membungkuk hormat.
"Selamat pagi juga, dokter. Bagaimana kondisinya?" tanya Vano.
Nirmala menyimak saja, ia tidak tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh Vano.
"Kondisinya mulai sedikit membaik. Sekarang beliau sedang berada di balkon bersama perawat," jawab dokter tersebut.
"Baiklah." Vano menarik tangan Nirmala untuk mengikuti dirinya ke arah balkon.
Sesampainya di balkon, Nirmala melihat ada seorang pria yang sedang duduk di kursi roda depan posisi membelakanginya. Sebagian rambut pria itu sudah putih. Jika dilihat dari belakang, sepertinya pria itu sedang melamun.
Vano menarik tangan Nirmala hingga kini mereka berhadapan dengan pria itu. Vano tersenyum memandang lembut pada pria tua tersebut.
"Nirmala, kenalkan. Dia adalah Yuda Ravaldi, ayahku."
__ADS_1
Nirmala menutup mulut karena terkejut.
Ayo semangat puasa💪. Makan sahur yang banyak, minum air putih yang cukup supaya badan tetap fit. Jaga kesehatan ya.😊🥰