Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 29 (S2)


__ADS_3

'Sret'


Pada waktu yang sama, pria itu langsung tumbang ke lantai. Orang yang berjalan di depan langsung berbalik setelah mendengar seseorang jatuh.


Matanya membulat saat melihat orangnya tewas dengan darah yang masih mengalir dari lehernya. Ditambah lagi ia melihat sosok pembunuh itu masih berdiri tegak dan menatapnya.


"Si-siapa ka--"


Pria berpakaian serba hitam itu melempar sebuah kertas ke arah wajahnya. Bersamaan dengan itu, lampu di lorong kantor mati total.


Beberapa menit kemudian lampu kembali menyala. Segera ia membaca isi kertas.


'Selanjutnya adalah kau, Sain.'


Sain meremas kertas itu. "Sialan! Pembunuh berdarah dingin itu masih hidup ternyata. Aku harus melaporkan ini pada ayah."


* * * *


"Mengapa kau tidak ingin melanjutkan rencana kita?" Nirmala terlihat kecewa.


Ara menunduk, tangannya saling berpautan. "Saya rasa saya sudah keterlaluan. Karena saya, hidup Reno menjadi terganggu."


Nirmala mengerutkan kening. Kelihatannya Ara sedang merasa bersalah sekaligus bersedih. Ini kali pertama ia melihat gadis itu memasang raut wajah seperti ini.


"Apakah kau menyukai Reno?" tanya Nirmala.


Ara mengangkat kepalanya dan menatap Nirmala. Sambil menggeleng cepat, Ara tertawa garing. "Mana mungkin seperti itu."


Nirmala tertawa kecil kemudian menepuk bahu Ara. "Kalau begitu mengapa kau terlihat tidak bersemangat saat mengatakan akan berhenti membuat Reno luluh padamu?" goda Nirmala.


Ara tertawa. "Hahaha, tidak Nyonya. Saya merasa ada hiburan saat saya mengganggu dia."


Nirmala mengangguk saja, pura-pura mempercayai ucapan Ara. Sebagai wanita yang lebih dewasa dan sudah dua kali menikah, tentu saja ia tahu bagaimana rasanya cinta. Dan ia pikir Ara sudah mulai menyukai Reno.


Ia pikir sekarang ia tidak perlu ikut campur lagi. Lambat laun mereka akan menyadari bahwa mereka seperti jantung dengan darah, harus saling bekerja sama untuk menghidupkan satu jiwa.


"Terserah padamu saja." Nirmala tersenyum.

__ADS_1


'Trling'


Nirmala menoleh ke arah meja. Di sana ponselnya berdering nyaring. Segera ia mengambil ponselnya dan menjawab telepon yang ternyata berasal dari Vano.


"Halo Sayang, ada apa?" tanya Nirmala to the point.


Nirmala menjadi tegang, tangannya memegang perut, jantungnya berpacu dengan cepat. "Bagaimana mungkin itu terjadi ... Baiklah, selesaikan urusanmu. Dan kau berhati-hati."


Setelah selesai, Nirmala meletakkan ponselnya di atas meja. Ara yang sedari tadi memperhatikan Nirmala menjadi sangat penasaran. Apalagi sampai sekarang wajah Nirmala masih pucat.


"Ada apa, Nyonya Besar?" tanya Ara.


Nirmala menatap Ara. "Di kantor tuan besar ada pembunuhan. Sampai sekarang polisi dan orang-orangnya Vano tengah menyelidiki kasus ini. Aku diperintahkan untuk tidak keluar rumah dahulu."


Ara tidak terlalu kaget seperti Nirmala. Ia sudah biasa melihat kekerasan, jadi menurutnya hal ini sudah menjadi hal yang cukup biasa.


"Saya pasti akan melindungi Nyonya dengan baik. Anda tidak perlu khawatir." Ara memberikan senyum yang menenangkan.


'Tok-tok-tok'


Ara dan Nirmala menoleh ke arah pintu. Mereka sama-sama menebak orang yang dibalik pintu adalah Reno.


Pintu dibuka dari luar. Dan benar saja, yang masuk adalah Reno. Masih di ambang pintu, Reno membungkuk memberi hormat. "Selamat pagi, Nyonya Besar."


Nirmala mengangguk. "Selamat pagi juga. Apakah kau sudah tahu tentang apa yang terjadi di kantor?" Nirmala langsung bertanya.


Reno mengangguk. "Saya tahu, Nyonya. Maka dari itu saya diperintahkan oleh tuan besar untuk menjaga Anda."


Nirmala menoleh ke arah Ara. "Tenang saja, ada Ara bersama ku. Aku sudah tenang."


Mata Reno beralih pada Ara. Ia merasa terusik dengan raut wajah Ara yang tidak seperti biasanya. Jika biasanya gadis itu memasang wajah yang ceria, galak dan jutek, hari ini gadis itu terlihat lebih diam, dan memasang wajah datar.


Ara yang ditatap oleh Reno pun tetap diam dan memasang wajah tidak peduli. Entah mengapa saat ia menegaskan dalam hati untuk tidak mengusik Reno, hatinya malah mencoba untuk membenci pria itu agar pikirannya tidak mengingat kenangan menyenangkan saat ia menjahili Reno.


"Hmm, ada apa dengan gadis itu? Apakah aku ada salah? Terakhir kali dia merawatku saat sakit, dia masih banyak bicara."


Perubahan yang ditunjukkan oleh Ara berhasil mengambil perhatian Reno. Tapi karena sekarang Reno sedang menghadapi suatu masalah, ia pun tidak ingin memikirkan tentang Ara dulu.

__ADS_1


"Nyonya Besar, saya akan tetap menjaga Anda di rumah ini. Saya permisi." Kemudian Reno kembali menutup pintu.


Diam-diam Reno menghubungkan earpiece yang ia kenakan dengan penyadap yang ada di dalam kamar Nirmala. Ia menunggu pembicaraan selanjutnya antara dua wanita tadi. Sambil berjalan menuju lantai bawah, Reno terus menantikan ada suara yang terdengar.


"Kau lihat? Tadi dia memperhatikan mu. Jarang sekali aku melihat dia menatap seseorang seperti itu." Terdengar suara Nirmala.


"Saya sudah tidak peduli lagi, Nyonya Besar. Sekarang saya hanya ingin fokus bekerja saja."


Reno mengerutkan keningnya, rasanya sangat tidak nyaman saat mendengar ucapan Ara tadi. Apalagi dengan nada bicara seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang membuat Ara jadi enggan untuk mengerjainya.


Setelah sampai di dalam kamar lama Vano, Reno menutup pintu. Ia masih setia menguping pembicaraan dua wanita itu.


"Jadi kau benar-benar sudah menyerah?" Terdengar Nirmala bertanya.


Reno membaringkan badannya di atas tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di belakang kepala, lalu menatap langit-langit kamar.


"Ya, Nyonya Besar. Dan mulai sekarang saya akan menjauhi nya. Saya tidak ingin mengganggu hidup nya lagi."


"Hmm, baiklah. Jika itu keputusanmu." Terdengar Nirmala kecewa.


Reno mematikan earpiece, kemudian menghela nafas berat. Tidak tahu pasti dengan apa yang ia rasakan, namun ia merasa sangat tidak nyaman. Bahkan rasanya udara tidak masuk sepenuhnya ke rongga dada.


"Bagus juga jika dia tidak mengusik hidupku lagi." Reno mengangkat satu tangannya dan memperhatikan jari serta telapak tangannya. "Tangan ini memang tidak pantas untuk memeluk gadis baik seperti dia."


Setelah mengucapkan itu, Reno diam sejenak. Tapi tak lama kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aish! Aku ini bicara apa?"


Reno merasa bahwa ia sudah bicara melantur. Ia juga tidak tahu mengapa ia malah memikirkan hal itu.


'Dan mulai sekarang saya akan menjauhi nya. Saya tidak ingin mengganggu hidup nya lagi.'


Lagi-lagi ucapan Ara tadi terngiang-ngiang di telinganya dan mengganggu pikirannya. Reno berguling-guling di atas tempat tidur sambil memegang kepalanya.


"Mengapa aku jadi suram begini?" Reno berhenti dan menatap ke atas. "Apa aku sudah terbiasa dengan kehadiran nya yang selalu menganggu ku?"


Ia bangkit dan duduk sambil membuka topinya. Ia juga mengacak-acak rambutnya. "Tidak, tidak. Itu tidak mungkin." Reno mengambil nafas. "Biarkan saja dia menjauhi ku, itu sangat bagus."


Tapi Reno kembali mengacak-acak rambutnya. "Akh! Mengapa aku jadi begini." Reno kembali diam karena memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Hmm, ya. Dia yang memulai permainan, tidak bisa seenaknya dia berhenti begitu saja karena aku belum membalasnya. Tunggu permainanku, Ara." Reno tersenyum licik.


__ADS_2