
Sekeras apapun ia menolak dijadikan jaminan, suaminya tetap memaksa, bahkan suaminya itu langsung menjatuhkan talak disaat itu juga agar ia tidak membantah lagi. Seribu kali Rafan meyakinkan dirinya untuk menyetujui, Rafan meyakinkan bahwa suaminya itu akan segera menjemputnya dan menjadikan Nirmala sebagai istrinya lagi.
Sebagai istri yang mencintai suaminya, apapun yang menjadi keputusan suaminya harus ia terima. Maka dari itu Nirmala akhirnya setuju demi meringankan beban Rafan.
Setelah selesai masa Iddah, yakni kurang lebih 3 bulan, akhirnya Nirmala pun dinikahkan kepada Vano. Pernikahan diadakan tanpa pesta, hanya sekedar ijab kabul saja. Dan karena kedua orangtua Nirmalatelah tiada, wali nikah untuk Nirmala jatuh pada Braksa, kakak kandung Nirmala.
Nirmala tidak dapat berharap banyak pada kakak laki-lakinya itu karena Braksa adalah pria mata duitan, tentu saja ia sangat menyetujui pernikahan ini dan mau menjadi wali nikah adiknya. Dan hari ini, Braksa sangat semangat untuk menjadi wali nikah Nirmala.
Di samping Vano yang terlihat gagah dengan balutan jas pengantin, ada seorang wanita yang terus menunduk, menyembunyikan air mata yang terus terjatuh tanpa bisa ditahan.
"Rafan, aku harap kamu datang dan menghentikan pernikahan ini. Tolong datang dan katakan bahwa kau akan nembawaku pulang. Tolong datang dengan membawa uang untuk membayar lunas hutang-hutangmu pada pria yang duduk di sampingku."
"Govano Ravaldi."
"Kumohon tidak."
"Saya nikahkan adik kandung saya ...."
"Jangan, Kak."
"... yang bernama Nirmala Diantri binti Dama Suraja ...."
"Rafan tolong aku, hiks."
"... dengan maskawin uang 10 juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya ...."
"Katakan ini hanya mimpi!"
"Nirmala Diantri binti Dama Suraja ...."
"Aku mohon berhenti!"
"... dengan maskawin ...."
"Rafaaaaaan!"
__ADS_1
"... uang 10 juta dibayar ...."
"Tidaaaaaaak!!"
" ... tunai."
Nirmala lemas tak berdaya ketika yang lain mengesahkan pernikahannya. Air mata semakin deras membasahi pipinya. Govano Ravaldi telah resmi menjadi suaminya, sedangkan Rafan, kini sudah berganti jabatan sebagai 'mantan suami.'
"Apakah sekarang kamu merasa puas? Aku sudah mengikuti semua permintaanmu untuk menjadi istri dari temanmu, istri dari orang yang sama sekali tidak aku kenal. Aku melakukan ini karena mencintaimu, Rafan. Jika ini yang bisa membuatmu bahagia, maka aku akan melakukannya."
"Nirmala."
Suara itu mengejutkan Nirmala. Segera ia menghapus air matanya lalu menatap ke depan. Dilihatnya nyonya besar yang kini sudah menjadi ibu mertuanya sedang menatap tajam pada dirinya.
Dari sorot mata itu ia tahu bahwa ibu mertuanya memerintahkan agar ia tersenyum. Tapi apa daya, senyum sangat sulit baginya untuk sekarang ini.
"Nirmala."
Suara berat terdengar dari sebelah kanannya. Oh, ternyata suaminya sedang mengulurkan tangan agar disalimi. Terpaksa Nirmala mengambil tangan itu lalu diciumnya sekilas.
Kilatan kamera ponsel milik anggota keluarga memenuhi ruang tengah yang kini tanpa sofa. Semuanya duduk di lantai beralaskan karpet beludru warna merah. Yang lain terlihat bahagia, kecuali Nirmala, Vano, dan ibu mertuanya yang sampai saat ini belum diketahui namanya.
"Tersenyumlah, jangan buat malu putraku," ancam ibu mertuanya sambil berbisik ketika Nirmala mencium tangan ibu mertuanya. Tidak ada ucapan lain selain ancaman tersebut. Nirmala tidak ingin menanggapi, ia masih tetap dengan air matanya.
"Selamat kakak ipar, aku adalah adik sepupu kak Vano, namaku Reno. Aku sangat salut, kakak bisa meluluhkan hati beku kak Vano hanya dalam hitungan bulan."
Nirmala hanya butuh tersenyum sedikit. Ternyata ada juga manusia di rumah ini yang menyambutnya dengan hangat. Sedangkan suaminya sendiri, pria itu diam membisu selama acara sungkeman berlangsung.
Tiba saatnya ia sampai di barisan anggota keluarga. Saat akan menyalimi pria itu, pria itu malah mundur menghindari. Sambil membungkuk ia meminta maaf.
"Maaf nyonya muda, saya samasekali tidak pantas."
Pria itu berucap sangat sopan sekali, bahkan seperti merendahkan diri di hadapannya. Siapa pria ini? Padahal kalau dilihat, usianya mungkin sudah 30 tahun ke atas.
Selesai acara sungkeman, kini dilanjutkan ke acara foto bersama. Namun sebelum acara dimulai, dua perias datang untuk memperbaiki makeup karena sedari tadi Nirmala terus menangis.
"Nyonya muda, tolong jangan menangis terus. Riasan Anda berantakan."
__ADS_1
Nirmala hanya mampu mengangguk, tidak ingin bicara.
Setelah semuanya siap, kini tugas fotografer untuk menyusun posisi anggota keluarga sebelum mengambil gambar. Fotografer tersebut menempatkan ibu mertua Nirmala di tengah-tengah, kemudian digandeng oleh Vano dan Nirmala, dan sisanya anggota keluarga lain.
"Satu, dua, tiga."
Fotografer itu mengacungkan jempolnya, pertanda pengambilan gambar sukses dan bagus. "Sekali lagi ya."
Sebenarnya fotografer itu ingin memerintahkan kedua pengantin untuk tersenyum, namun ia takut pada Vano. Jangankan diminta tersenyum, menatap kamera saja sudah seperti ingin melahap kamera bulat-bulat.
"Bagus." Padahal dalam hati. "Buruk sekali. Yang lain tersenyum, hanya kedua mempelai yang diam tak berekspresi."
Acara foto bersama sudah selesai, kini tiba saatnya untuk makan bersama. Semua anggota keluarga duduk di meja makan dan menyisakan dua kursi kosong untuk pengantin baru. Tidak, bukan dua, tapi tiga.
"Silahkan duduk Tuan muda, nyonya muda." Pria yang tadi tidak ingin disalimi oleh Nirmala menarik dua kursi. Ia sendiri tidak duduk.
Vano hanya mengangguk tanpa memberikan ucapan terima kasih ataupun senyuman. Sedangkan Nirmala, ia tersenyum karena menghargai pelayanan pria itu.
"Kak Nirma, makan yang banyak ya. Untuk mengisi energi nanti malam."
Reno menggoda Nirmala. Ya, hanya Nirmala saja, mana mungkin ia berani menggoda tuan muda Vano. Jika pun berani, berarti ia sudah berani mati.
Nirmala hanya tersenyum. Ia paham apa yang dimaksud oleh adik sepupunya itu. Dan membayangkannya sungguh membuat Nirmala bergetar, tak sanggup membayangkannya lagi.
"Kak, setelah ini bulan madu ke luar negeri. Dan pulangnya bawalah keponakan untukku," lanjut Reno lagi.
"Diam kau, Reno! Kita ini sedang makan," sergah ibu mertua.
"Bibi, apakah tidak boleh aku bicara sedikit saja? Aku bukan kak Vano yang irit bicara," ucap Reno sambil mengambil nasi.
"Kau mengharap keponakan dari mereka? Lihatlah ekspresi pengantin baru itu. Apakah ada senyuman di sana? Aku tidak yakin jika mereka saling mencintai." Ibu mertua sedikit menyindir.
"Bibi tau dari mana? Cinta tidak perlu diekspresikan. Cukup dirasakan oleh kedua pasangan." Kini Lia berbicara. Lia adalah kakak sepupu Vano.
"Tentu saja tahu, apakah kalian tidak tahu alasan Vano menikahi Nirmala? Dia menikahinya bukan karena cinta. Dia menikahi wanita ini hanya karena--"
'Brak!'
__ADS_1
"Cukup. Tidak ada lagi yang bicara."
Perintah Vano adalah perintah mutlak untuk dipatuhi. Dan terbukti jelas sekarang tidak ada yang bicara lagi, termasuk ibunya.