
Reno menutup pintu dengan rapat setelah ia sudah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh sistem komputer. Di ruangan itu terdapat sepuluh komputer, dua layar besar yang hampir memenuhi sebagian dinding, dua laptop, dan alat-alat lainnya.
Ya, kehidupan Reno dan Vano memang berbeda. Bisa dibilang sangat berbeda. Vano sedari SMP bergelut di bidang bisnis, sedangkan Reno sejak kecil bergelut di bidang komputer. Tidak heran jika ia menjadi satu-satunya hacker andalan Vano selama ini.
Tidak hanya itu, masih ada rahasia lain tentang hidup Reno yang tidak diketahui oleh orang lain selain Vano dan Farhan.
Reno adalah pria berusia 21 tahun yang tidak pernah bersosialisasi dengan remaja sepantaran nya. Dia adalah orang jenius yang dingin dan tak tersentuh. (Sebagai bocoran. Reno lebih dingin dari Vano. Kalian akan melihat kedinginan nya ketika kalian masuk kulkasš¤£)
'Tit.'
Reno menekan salah satu tombol yang berderet di atas meja di depan salah satu layar besar.
"Hubungkan aku dengan A."
"Baik, Bos."
Beberapa detik kemudian. "Selamat malam, Bos." Seseorang menyapa Reno lewat suara.
Reno memperbaiki posisi topinya kemudian mengambil flashdisk dari salah satu laci meja. "Sudah mendapatkannya?" tanya Reno singkat.
"Sudah Bos. Tidak hanya salinan kartu identitasnya, saya juga sudah mendapatkan semua informasi tentang dia," jawab seseorang yang disebut sebagai si A.
"Kirim sekarang," perintah Reno.
"Baik, Bos."
Hanya dalam waktu tiga detik, bunyi denting terdengar. Layar besar yang tadi hanya menampilkan layar kosong berwarna biru, kini menampilkan foto wajah seorang pria berjenggot berserta deretan informasi tentangnya.
Melihat foto itu, Reno tersenyum sinis. "Si Brengs*k itu memiliki anak buah yang tidak berguna seperti ini. Tapi kali ini, aku akan membuatnya berguna."
Reno mematikan sambungan dengan si A tanpa mengatakan apapun. Setelah itu ia mengetik sesuatu di layar komputer. Beberapa saat kemudian, di layar komputer tampil foto wanita bercelana jins pendek.
"Untuk menaklukkan makluk lincah seperti mu, aku hanya membutuhkan trik kecil seujung kuku." Reno tersenyum miring ketika ia mengklik tab kirim.
* * * *
"Sialan!" Seorang wanita menendang dua orang pria bertubuh besar yang sedari tadi memaksanya masuk ke dalam mobil putih.
"Kurang ajar, wanita ini kuat sekali." Pria botak meringis kesakitan setelah mendapatkan sepuluh pukulan setiap ia akan menyentuh kulit wanita itu.
__ADS_1
"Lakukan sekarang!" Perintah pria botak itu.
Sebelum wanita itu berbalik ke belakang, seseorang sudah menusukkan jarum suntik ke dalam lengannya. Hanya dalam hitungan detik, wanita itu sempoyongan kemudian jatuh pingsan.
Beberapa saat kemudian, di gedung berlantai tiga, tepatnya di salah satu kamar, wanita yang di suntik itu mulai tersadar. Alangkah terkejutnya ia ketika ia menemukan dirinya sedang berada di atas tempat tidur dengan kaki dan tangan terikat oleh rantai.
Ia melihat ke sekeliling. Ternyata ia sedang berada di sebuah kamar mewah yang selama ini belum pernah ia lihat.
"Di mana aku?" Ia kebingungan.
"Hei! Apakah ada orang di luar!? Aku peringatkan, segera lepaskan aku atau suatu saat nanti aku akan membunuh kalian semua!" Wanita itu berteriak sekuat mungkin.
"Sayang sekali, sebelum itu terjadi, kau akan menjadi budakku yang penurut."
Seorang pria keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja. Seketika wanita itu membulatkan matanya dengan sempurna.
"Siapa kau! Apa yang kau lakukan! Apa yang telah kau lakukan padaku! Aku akan membunuhmu jika kau berani macam-macam!" Wanita itu berteriak tak henti-hentinya.
Pria itu tertawa kecil namun penuh dengan intimidasi dan ejekkan. "Hohoho, kau mau membunuh ku?" Kemudian pria itu mendekati tempat tidur. "Kau ingin mengetahui aku siapa?" tanya pria itu.
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menatap tajam.
"Baiklah, aku akan memberitahu mu." Pria itu duduk di tepi ranjang kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu.
"Cih, seorang anak mafia mempedulikan wanita? Kau mafia tak berguna." Wanita itu membuang muka.
Sain terkekeh. "Kau sangat menarik, Ara."
Secepat kilat wanita yang dipanggil Ara itu menoleh pada Sain. "Dari mana kau tahu namaku?"
Sain tersenyum miring. "Tidak mungkin aku membawamu ke sini jika aku tidak tahu namamu."
Sain mengangkat dagu Ara. "Dan kau harus tahu, aku bukan mafia. Aku adalah penguasa semua aliansi mafia dan pengusaha gelap lainnya. Jadi kau harus berpikir kembali jika ingin kabur dari pria kaya raya dan penguasa seperti ku."
Ara kembali memalingkan wajahnya. "Kau memang penguasa, akan tetapi penguasa yang tidak berguna."
Sain terkekeh, namun jika orang mendengarnya, semua orang akan tahu bahwa tawa itu adalah salah satu dari ekspresi kekesalan yang sangat besar akan tetapi berusaha untuk ditahan.
"Aku tidak mengerti mengapa Danu bisa menemukan gadis kecil yang suka melawan sepertimu. Jika bukan karena aku belum mencicipi mu, mungkin sudah aku potong lidahmu dan ku sobek-sobek mulutmu." Sain mulai geram.
__ADS_1
Bukannya takut, Ara malah balik menatap tajam. "Dan asal kau tahu, jika saja kau tidak mengikatku, maka aku sudah mematahkan tulang-tulangmu sekarang."
Sain mengepalkan tangannya dengan kuat. "Sepertinya kau harus aku beri pelajaran sekarang. Dasar perempuan tidak berguna."
Sain melepaskan handuknya di depan Ara. Segera Ara memalingkan wajahnya.
Dan baru saja Sain akan menyentuh wajah Ara, seseorang mengetuk pintu. Sain menggeram kesal kemudian memakai handuknya kembali.
"Masuk," perintah Sain.
Pintu di buka dari luar, dan masuklah pria berjenggot yang terlihat acak-acakan seperti preman.
"Maaf Tuan Muda, ada seseorang yang ribut ingin bertemu dengan Anda," ucap pria itu.
"Siapa?" tanya Sian.
"Dia bilang, dia adalah bendahara baru dari ketua mafia bagian barat," jawab pria itu.
Setelah berpikir sejenak, Sain setuju untuk menemui orang itu. Segera ia berpakaian dan langsung berangkat turun. "Jaga gadis ini."
"Baik, Tuan Muda."
Setelah Sain benar-benar menghilang dari pandangan, pria itu segera berjalan mendekati Ara. Dengan tergesa-gesa ia mengeluarkan sebuah kunci.
"Apa yang kau lakukan?" Ara bingung pada pria itu. Mengapa pria itu melepaskan rantainya.
"Jika bukan karena anak dan istriku, aku tidak akan mencari mati seperti ini," jawab pria itu sambil masih membuka gembok rantai.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu?" tanya Ara yang benar-benar belum mengerti.
"Kau tahu, aku adalah orang yang mencarikan wanita untuk menghibur tuan muda Sain. Namaku Danu. Tadi malam ada seseorang yang menipuku dengan mengatasnamakan pesan dari temanku. Dia mengirimkan foto beserta lokasimu padaku. Akhirnya aku menculikmu dan membawamu ke sini."
"Akan tetapi, tadi aku bertemu dengan temanku dan dia mengaku tidak merekomendasikan kau pada ku. Dan baru saja ada pesan misterius yang memintaku untuk melepaskanmu. Awalnya aku menolak, tapi dia malah mengirimkan foto istri dan anakku yang sekarang sedang berlibur ke luar kota. Dia mengancam ku dengan itu."
Ara berdiri setelah pria itu selesai melepaskan ikatan rantainya. "Pria busuk itu pasti akan tahu jika kau yang melepaskan aku. Kau akan mati di tangannya," ucap Ara yang sedikit mengkhawatirkan pria yang sudah melepaskan dirinya.
"Tidak akan, aku juga akan kabur bersamamu. Pesan misterius itu mengatakan aku akan diberikan pekerjaan baru di luar kota jika aku berhasil menyelamatkanmu," jawab pria itu.
"Sudahlah ayo cepat pergi, kita tidak punya banyak waktu."
__ADS_1
Baru melangkah satu langkah ....
"Hei! Kalian!"