Istri Jaminan

Istri Jaminan
Episode 23


__ADS_3

'Tok-tok-tok'


"Tuan Muda, apakah Anda ada di dalam?"


Vano tidak menjawab, pandangannya kosong menatap cermin yang pecah. Mungkin karena tidak ada jawaban, Farhan membuka pintu untuk memeriksa.


"Astaga! Tuan Muda."


Farhan terlihat panik, sangat panik. Ia segera menghampiri tuan mudanya dan memeriksa tangan yang terluka.


Vano diam tak bersuara maupun bergerak, ia membiarkan Farhan memeriksa lukanya. "Tuan Muda, mengapa bisa seperti ini?"


Vano tidak menjawab.


"Tuan Muda, Anda harus bisa mengendalikan diri. Ini namanya melukai diri Anda sendiri, ini tidak berguna."


Vano melirik sekilas pada Farhan. "Kau sudah bersamaku sejak kecil. Kau tahu kisah apa saja yang telah aku lalui. Apakah kau pernah melihat aku terpuruk sejak ayah meninggalkan aku?"


Farhan menggeleng. "Tidak, Tuan Muda."


Ia sangat mengenal bagaimana tuan mudanya ini. Vano tidak pernah terpuruk lagi setelah ayahnya pergi. Bahkan Vano menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar. Apapun masalah yang sedang dihadapi, Vano tidak pernah menunjukkan kesulitan dalam menghadapi masalah itu.


"Lalu mengapa Anda seperti ini?" tanya Farhan.


"Rasa yang paling aku benci, rasa yang sudah menghancurkan kebahagiaanku, rasa yang membuat ibuku pergi, yang membuat nya menderita. Kini rasa itu akan singgah di sini." Vano menunjuk dadanya.


Farhan membuat ekspresi tidak percaya. Setelah 10 tahun berlalu sejak Vano menginjak remaja yakni 17 tahun, baru sekarang Vano memiliki rasa cinta. Dan baru kali ini Vano menceritakan kondisi hatinya.


"Itu adalah hal yang bagus, Tuan Muda. Mengapa Anda malah mengamuk?"


Vano menggeleng. Ia menghadap Farhan. "Aku tidak ingin lemah. Aku tidak ingin memiliki rasa ini. Cinta membuat orang lemah. Dan terbukti, hanya dengan melihat dia menangis, aku sudah akan menyerah. Aku tidak bisa egois. Entah mengapa aku tidak bisa melihat dia menangis."


Farhan tersenyum. "Tuan Muda, cinta itu tidak membuat lemah. Cinta bukan pembawa sial. Cinta adalah rasa yang membuat manusia memiliki tujuan. Rasa ingin melindungi akan membuat manusia dua kali lipat lebih berani dan kuat."


Farhan menarik nafas panjang. "Jika Anda mencintai nyonya muda, maka pertahankanlah. Anda terlihat terikat dengan masa lalu, Anda terlalu mengambil contoh dari masa lalu. Tuan Muda, banyak orang di luar sana yang berbahagia karena cinta. Kisah pahit antara nyonya besar dan tuan besar adalah takdir, bukan karena rasa cinta."


Farhan tahu membicarakan soal cinta tidak akan mudah diterima oleh Vano, akan tetapi ia akan berusaha.

__ADS_1


"Tinggalkan aku sendiri."


Farhan melihat luka Vano. "Tapi Tuan Muda, tangan Anda terluk--"


"Tinggalkan aku sendiri," perintah Vano lagi.


"Baiklah, Tuan Muda."


Farhan undur diri. Ada sedikit rasa lega dan juga bahagia. Ia tidak percaya dengan apa yang tadi Vano katakan. Cinta? Ah, Farhan sangat bersyukur dan sangat berterima kasih pada Nirmala. Akhirnya tuan mudanya bisa jatuh cinta.


Beralih pada Nirmala, wanita itu sudah berganti pakaian. Walaupun sudah bisa bergerak mengemasi pakaiannya, akan tetapi air matanya belum bisa berhenti. Ia juga sudah mengelap seluruh makeupnya yang luntur akibat air mata.


'Tok-tok-tok'


Nirmala yakin orang yang mengetuk pintu bukanlah Vano, mungkin pelayan, maka dari itu ia membiarkannya masuk.


"Masuk."


'Ceklek' Orang yang mengetuk pintu masuk ke dalam kamar.


"Selamat pagi menjelang siang, Nonya Muda." Farhan membungkuk sedikit.


"Selamat pagi menjelang siang juga." Nirmala menghapus air matanya.


Mata Farhan beralih pada pakaian yang sudah selesai dikemas di dalam koper. Kemudian kembali fokus pada Nirmala.


"Maaf, Nyonya Muda. Tuan Muda belum memerintahkan pulang. Mengapa Anda sudah bersiap?" tanya Farhan.


Nirmala tersenyum, namun terkesan tersenyum untuk mengasihani dirinya sendiri. "Saya sudah diperintahkan untuk pulang oleh tuan muda. Dan bukan untuk pulang ke rumah besar, melainkan pulang ke manapun yang saya inginkan sebagai tempat pulang."


Farhan terlihat panik, akan tetapi ia berusaha menahan ekspresi itu. "Ma-maksud Anda, Anda ingin meninggalkan, Tuan Muda?"


Nirmala mengangguk.


Farhan menutup pintu terlebih dahulu lalu maju untuk berbicara lebih dekat. "Nyonya Muda, Anda salah paham."


Air mata Nirmala kembali menetes. "Apa yang salah paham? Vano tidak akan lagi mempertahankan saya. Dia ingin menyerahkan saya pada Rafan."

__ADS_1


"Apakah setelah ini Anda akan kembali pada tuan Rafan?" tanya Farhan hati-hati.


"Tidak, saya tidak sudi kembali pada pria seperti dirinya. Tapi saya juga tidak bisa bertahan dengan pria yang terpaksa menerima saya karena merasa kasihan. Hiks."


Farhan memang sangat tidak tega melihat seorang wanita menangis. Ia jadi teringat dengan almarhumah nyonya besarnya. Dulu, hampir setiap saat ia melihat ibu kandung dari Vano itu menangis. Dan melihat Nirmala menangis, rasanya ia sedang melihat nyonya besarnya.


Farhan menarik tangan Nirmala untuk duduk di sofa, dan ia duduk di sofa itu juga. "Nyonya Muda, mohon maaf jika saya lancang. Lancang karena mengobrol dengan Anda, lancang karena akan membahas soal hubungan Anda dengan tuan muda Vano, dan lancang karena saya akan memberikan masukan."


Nirmala diam saja, ia masih fokus pada tangisnya.


"Saya sudah mengasuh tuan muda sejak beliau masih bayi. Saya sudah bekerja untuk tuan besar Yuda sejak tuan muda Vano belum lahir. Saya sangat mengenal tuan muda yang sebenarnya. Saya sangat tahu bagaimana sifat asli tuan muda di balik wajah datar dan sifat dinginnya."


Farhan tersenyum pada Nirmala yang masih belum mau memandang nya. "Anda telah salah paham, tuan muda tidak mengusir Anda, tuan muda tidak ingin Anda pergi. Tuan muda mengatakan hal itu karena tuan muda tidak ingin melihat Anda tersakiti, tidak ingin melihat Anda menangis."


Farhan menjeda sejenak. "Tuan muda hanya ingin Anda bahagia. Rasa yang dia miliki untuk Anda sangat tulus dan baik. Tuan muda tidak egois, walaupun tidak dengan bersamanya, dia ingin Anda berbahagia. Walaupun itu dengan pria lain dan itu bisa membuat dia tersakiti."


Nirmala menoleh ke arah Farhan, dilihatnya Farhan sedang tersenyum padanya.


"Sebenarnya tuan muda ... mencintai Anda, Nyonya Muda."


Nirmala langsung menunjukkan ekspresi tidak percaya, wajahnya hampir menunjukkan ekspresi kosong.


"Ba-bagaimana itu mungkin? Itu tidak masuk akal."


Farhan semakin tersenyum. "Nyonya Muda, saya tidak berbohong. Tuan muda sendiri yang mengatakan hal itu pada saya. Tapi sayangnya Tuan muda terlalu trauma dengan kisah masalalu. Dia membenci yang namanya cinta. "


Farhan terlihat melamun. "Bahkan saat tuan muda menyadari bahwa ia sedang mencintai Anda, dia marah pada dirinya sendiri. Dia mengamuk sampai melukai dirinya sendiri."


Farhan turun dari sofa dan bersimpuh di kaki Nirmala. Hal itu tentu membuat Nirmala terkejut bukan main.


"Saya mohon, Nyonya Muda. Anda lah satu-satunya orang yang bisa membuat tuan muda jatuh cinta. Anda bisa membuat hati bekunya sedikit mencair dengan rasa cinta. Saya yakin, Anda bisa mengubah tuan muda. Saya mohon, bertahanlah di sisinya. Tuan muda sangat mencintai Anda. Dia terluka saat meminta Anda pergi."


Nirmala tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Farhan. Tapi hati kecilnya tahu bahwa Farhan tidak mungkin berbohong. Maka dari itu, untuk tidak ragu, ia harus membuktikannya sendiri. Apakah Vano benar-benar terpukul saat ini?


"Berdirilah, Pak. Jangan seperti ini." Nirmala meminta Farhan untuk berdiri.


Setelah Farhan berdiri, ia bertanya pada pria itu. "Di mana tuan muda sekarang?"

__ADS_1


"Ada di kamar sebelah, Nyonya Muda."


__ADS_2