
Tadi siang saat Afid masih di kamar Reno ....
Afid berdiri bersiap untuk pergi. Tapi sebelum melangkah, ia berbicara lagi. "Tapi jika kau butuh bantuanku untuk menaklukkan hati wanita, kau bisa minta bantuanku. Aku adalah ahlinya."
Reno tidak menanggapi, sepertinya kepalanya akan segera pecah jika Afid masih terus ada di kamarnya.
"Aku akan keluar sekarang." Afid melangkah menuju pintu kamar.
Tiba-tiba Reno mengingat suatu hal. Ia mengingat tentang rencananya yang ingin membuat Ara bertekuk lutut di hadapan nya.
"Hei, tunggu."
Afid yang akan membuka pintu menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Afid.
Reno menghela nafas. Sebenarnya ia malu untuk mengatakannya, akan tetapi kali ini ia memang benar-benar membutuhkan bantuan Afid. Ia tidak pernah berurusan dengan wanita, tapi tidak dengan Afid. Ia tahu bahwa Afid adalah seorang playboy sejati. Bagaimana tidak menjadi seorang playboy, ia memiliki wajah yang tampan, kaya, pintar, perhatian, ceria, memiliki kemampuan menaklukkan hati wanita.
"Bisakah kau merealisasikan tawaranmu barusan?" tanya Reno.
Afid yang tadinya serius kini matanya langsung berbinar senang. Dengan semangat ia menghampiri Reno kembali. "Ah tentu saja bisa. Aku ini kan saudaramu."
Reno tidak suka basa-basi, maka ia berbicara langsung pada intinya. "Apa yang membuat wanita bisa luluh?"
Afid tersenyum lebar. "Ini adalah hal yang mudah, hanya saja kau harus tahu wanita yang ingin kau luluhkan ini wanita seperti apa? Apakah dia manja? Mandiri? Jutek? Galak? Polos? Dewasa? Sederhana--"
"Katakan saja intinya," potong Reno.
Afid tertawa. "Kau tidak sabaran rupanya. Baiklah, aku akan langsung ambil yang umum saja."
Afid berdeham terlebih dahulu. "Wanita suka diperhatikan. Hal sekecil apapun, kau harus memperhatikannya. Kau harus sering membantunya walaupun dia wanita yang tangguh." Afid mengacungkan dua jari. "Kedua, wanita tidak suka dikekang, jadi kau harus mengayomi nya dan membuatnya nyaman."
Ia melanjutkan ke jari ke-tiga. "Wanita suka pelukan, dan kecupan di kening dan di pipi. Hindari mencium bibir karena tidak semua wanita suka dicium di bibir. Sebagian dari mereka menganggap itu pelecahan. Sedangkan kecupan di kening merupakan kasih sayang yang tulus tanpa nafsu."
Reno mendengarkan dengan seksama.
"Keempat, wanita selalu benar." Afid mengusap dagunya. "Ya ini adalah hal yang paling menyebalkan, tapi kaum pria harus bisa memahami. Maksudnya adalah, jika bertengkar dengan wanita dan itu karena salah si wanita, maka yang harus meminta maaf duluan adalah pria."
Reno menghela nafas. "Dia galak dan tidak peduli padaku. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Reno karena merasa belum menemukan apa yang ia inginkan.
Afid melihat ke arah Reno. Ia terlihat sedang berpikir keras. Kemudian ia melihat Reno dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Ah, aku tahu." Afid tersenyum lebar. "Kau bisa memanfaatkan penderitaan lukamu ini. Kau bisa berpura-pura lemah dan butuh pertolongan darinya. Wanita memiliki hati yang lembut, jadi sudah pasti ia akan iba dan akhirnya menolong mu. Nah, dan saat dia menolongmu, pada saat-saat itulah kau mendekatinya dengan memberikan perasaan yang nyaman."
__ADS_1
Reno mengerutkan kening. "Memberikan perasaan yang nyaman?"
Afid mengangguk. "Sesekali kau harus mencuri pelukan di saat ada kesempatan. Atau kau bisa memberikan perhatian kecil padanya. Dari hal kecillah akan timbul perasaan yang besar."
Reno pun mengangguk. Sekarang ia paham dengan apa yang disampaikan oleh Afid.
Karena sibuk memikirkan peristiwa tadi siang, tanpa sadar Reno memejamkan mata dan tertidur lelap. Begitu pula dengan Ara yang mendapatkan pelukan hangat nan nyaman dari Reno. Pelupuk matanya yang berat berhasil membawa nya tidur lelap. Mereka berdua tidur di dalam satu selimut yang sama dengan diiringi suara rintik hujan.
* * * *
"Ya ampun! Mata anakku ternodai!" Nirmala menutup matanya dan menutup perutnya. Ia terkejut bukan main.
Bagaimana tidak terkejut? Pemandangan di depannya luar biasa membuat orang berpikiran negatif. Setelah menyiapkan sarapan untuk Vano, Nirmala mencari Ara. Pasalnya sejak ia turun ke dapur, ia tidak melihat pengawalnya itu. Biasanya Ara yang lebih dulu mengetuk pintu kamarnya.
Ia sudah memeriksa ke kamar Ara, akan tetapi tidak ada orang di sana. Maka dari itu ia ke kamar lama Vano karena mengira mungkin Ara sedang mengobati luka Reno. Tapi yang ia lihat adalah sesuatu yang membuatnya menganga tak percaya.
Ia melihat Reno memeluk Ara, begitu juga dengan Ara. Ditambah lagi mereka berada dalam satu selimut yang sama. Nirmala berpikir bahwa sudah terjadi sesuatu pada mereka tadi malam.
"Aku harus memberitahu Vano. Mereka harus segera dinikahkan sebelum Ara hamil." Buru-buru Nirmala kembali ke ruang tengah.
Di ruang tengah Vano dan Farhan masih menyusun dokumen sebelum berangkat ke kantor. Sedangkan Afid, sudah pagi-pagi sekali ia pulang ke kotanya karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera.
"Ada apa Sayang? Mengapa kau buru-buru seperti ini? Kalau kau jatuh bagaimana?" tanya Vano.
Nirmala mengatur nafas sejenak. "Re-reno dan Ara ...." Nirmala masih mengatur nafas.
Farhan memasukkan seluruh dokumen ke dalam tas, tapi telinganya terpasang untuk mendengarkan ucapan Nirmala.
"Ada apa dengan Reno dan Ara? Apakah Reno bertambah parah?" Vano mulai khawatir. Ia pikir Reno menjadi sakit parah setelah ia pukuli dan cambuki.
"Ya, Reno sangat parah." Nirmala mengangguk.
Vano langsung berdiri dan diikuti oleh Farhan. "Kalau begitu kita panggil dokter Tio."
Saat Vano akan mengambil ponsel, Nirmala menahan tangannya. "Bukan," ucap Nirmala.
Vano menatap istrinya dengan bingung. Tadi istrinya mengatakan kondisi Reno parah, tapi sekarang mengatakan bukan. "Lalu bagaimana? Jangan membuatku bingung."
"Tenangkan diri Anda dulu sebelum Anda bicara, Nyonya Besar." Farhan memberikan arahan agar Nirmala bisa berbicara dengan jelas.
__ADS_1
Sesuai dengan yang dikatakan oleh Farhan, Nirmala menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nafas perlahan. Setelah pikirannya tenang, barulah ia menyampaikan apa yang ingin ia katakan.
"Sayang, kita harus menikahkan Reno dan Ara segera."
Mendengar ucapan Nirmala, Farhan dan Vano mengangkat alisnya bersamaan.
"Reno sudah meniduri Ara," lanjut Nirmala.
Vano dan Farhan membulatkan mata selebar-lebarnya. "Apa!" Vano tidak percaya sama sekali. "Sayang, kau jangan bercanda."
Nirmala menunjuk ke arah ruang tengah. "Jika kau tidak percaya, mari kita lihat mereka berdua. Mereka masih sama-sama tidur."
Vano menatap Farhan, dan Farhan mengangguk saja. Sungguh Vano tidak percaya kalau Reno meniduri seorang wanita. Jangankan meniduri, disentuh kulitnya saja ia tidak mau. Tapi ia juga sangat mempercayai setiap ucapan istrinya. Maka dari itu ia akan membuktikan dengan mata kepalanya sendiri. "Baiklah, mari kita buktikan."
'Ckle ... ekk'
Vano membuka pintu dengan perlahan. Nirmala dan Farhan mengintip dari balik badan Vano. Sama seperti Nirmala, Vano terbelalak ketika matanya menangkap dua sosok insan yang tidur dalam satu selimut dan saling berpelukan. Akal sehat Vano tidak percaya, namun mata membuktikan kenyataannya.
"Reno!"
Suara menggelegar Vano mengisi kamar lamanya. Tidak hanya kamar itu, suara itu juga terdengar sampai dapur dan ruang tamu. Semua pelayan langsung mengosongkan tempat, pergi menghindar sebelum melihat amukan tuannya.
Pelayan saja mendengar, apalagi dua insan yang sedang tidur nyenyak. Ara membuka mata, begitu juga dengan Reno. Saat keduanya membuka mata, mereka sama-sama terkejut.
Ara langsung duduk, matanya menatap tajam dan penuh waspada. "Kau!"
Reno juga sama, tapi ia lebih fokus pada suara yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah pintu. "Tuan Besar, Anda a ...."
"Apa yang kau lakukan dengan anak gadis orang! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk merusak wanita. Aku tahu kau membenci cinta dan wanita, tapi jangan kau rusak mereka! Di mana moralmu!"
Reno tidak mengerti sama sekali. Ia tahu ia telah tidur satu ranjang bersama Ara, akan tetapi ia yakin tidak melakukan apapun. Lalu mengapa kakaknya begitu marah.
"Tuan Besar, kami memang tidur bersama, tapi kami tidak melakukan apapun," ucap Reno membela diri.
"Bohong. Kau pikir aku tidak punya mata? Masih kurang cambukan yang aku berikan?" Vano menatap tajam dan sadis pada adiknya itu.
"Saya tidak melakukan ap-"
"Eh, tunggu-tunggu. Mengapa aku merasa ...." Reno mengintip ke dalam selimut. Seketika matanya membulat lebar. "Mengapa aku tidak memakai celana!?" Matanya beralih ke lantai. "Mengapa celanaku ada di bawah?"
__ADS_1
Di lain tempat, Afid tengah mengendarai mobil. "Hahahaha, Reno, Reno. Aku akan memberikan kejutan untukmu. Sayang sekali aku tidak berani membuka celana si Ara. Jika saja berani, mungkin akan lebih seru lagi. Biarlah kalian akan tertuduh, tapi aku yakin Ara adalah cintamu. Jika aku tidak bertindak, kapan kalian akan bersatu."