
Nirmala duduk di kamar pengantin dengan rasa takut. "Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini."
Nirmala sangat takut karena Rafan tidak mengatakan bahwa Vano tidak akan menyentuhnya. Ditambah lagi ia tidak tahu bagaimana rupa dari pria yang bernama Vano itu, selama ijab kabul berlangsung, ia hanya menunduk karena menyembunyikan air matanya.
Pintu dibuka secara tiba-tiba hingga membuat Nirmala terkejut. Ternyata yang masuk adalah salah satu pelayan.
"Nyonya Muda, tuan muda Vano akan segera datang."
Jantung Nirmala langsung berdetak dengan kencang. Di hatinya selalu bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh Vano nanti? Apakah pria yang sudah menjadi suaminya itu akan meminta haknya malam ini?
Pelayan tersebut langsung berlalu, membiarkan pintu kamar terbuka begitu saja. Dan tak lama setelahnya masuklah pria bertubuh jangkung. Pria itu masih mengenakan jas yang digunakan saat ijab kabul tadi siang.
"Tampan, putih, tinggi, hidup mancung, rahang tegas, rambut hitam rapi, mata bersorot tajam, alis tebal, dada bidang, perut ramping, lengan dan seluruh tubuhnya kekar, tapi sayang, dia ingin merebut istri orang."
"Apa yang kau lihat?" tanya Vano dengan nada datar.
Nirmala langsung sadar bahwa sedari tadi ia memperhatikan Vano dengan sangat berlebihan. Nirmala menggeleng. "Tidak."
Vano berjalan menuju ruang walking closet. Beberapa saat hilang dari pandangan Nirmala, pria itu muncul kembali dengan membawa baju tidur jenis kimono lengan panjang. Ia meletakan pakaian tersebut di atas tempat tidur.
"Jangan masuk ke ruang ganti bajuku sembarangan." Lalu meninggalkan kamar begitu saja.
"Apa maksudnya?" Nirmala bingung sekaligus tidak mengerti apa yang dimaksud Vano. "Apa dia memintaku mengganti pakaian?"
Akhirnya Nirmala memutuskan untuk mengganti pakaian karena sepertinya itu yang diperintahkan oleh Vano padanya.
Waktu terus berjalan, sudah pukul 00.00 tapi Nirmala belum juga memejamkan mata. Ia masih takut kalau-kalau Vano tiba-tiba datang dan menerkamnya. Tapi sepertinya dugaannya salah, sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Vano akan masuk ke dalam kamar. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja.
"Ah, kenapa badanku rasanya pegal dan sakit semua, sepertinya ini karena aku kurang tidur." Nirmala mengucek matanya beberapa kali agar pandangannya bisa cepat pulih.
"Jam berapa ini? Astaga! Jam 08.21!" Nirmala berbalik badan dan .... 'deg.' Jantungnya seperti berhenti berdetak. "Pria ini tidur di sini? Kapan? Dan bagaimana mungkin?"
Nirmala memeriksa badannya sendiri, dan kemudian ia bernafas lega. "Haaah ... untung dia tidak bertindak jauh." Nirmala menyingkap selimut dengan perlahan agar tidak membangunkan suaminya. Tapi baru beberapa kali gerakan, Vano menggeliat.
"Kau sudah bangun?" Vano melirik pada jam dinding. "Mengapa tidak membangunkan aku?" Vano langsung bangun dan buru-buru pergi ke kamar mandi.
Nirmala masih duduk di tepi ranjang, ia bersyukur karena Vano tidaklah kejam dan tidak menunjukkan tanda-tanda tertarik padanya. "Jika memang demikian, lalu mengapa aku dijadikan jaminan? Apa untungnya dia jika memiliki aku?"
__ADS_1
Sekarang pertanyaannya itu muncul di kepalanya. Selama ini ia pikir Vano memintanya menjadi jaminan karena ia terobsesi padnya, tapi sepertinya semua itu salah.
'ceklek.'
Nirmala menoleh ke sumber suara, dan betapa terkejutnya ia melihat Vano keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Butiran air masih menghiasi badan atletis yang putih itu.
Walaupun Nirmala terkejut setengah mati, tapi Vano terlihat biasa saja, lebih kepada tidak menganggap ada orang di dalam kamarnya.
Penampakan indah itu tidak berlangsung lama ketika Vano masuk ke dalam walking closet.
Dan tak berselang lama, terdengar pintu diketuk dari luar. "Tuan muda, nyonya muda, bisakah saya masuk?" tanya salah satu pelayan dari luar kamar.
"Apa bisa aku mempersilahkan pelayan masuk? Kalau Vano marah bagaimana?"
Belum sempat Nirmala berbicara, terdengar suara berdenting selama kurang dari satu detik. Bersamaan dengan itu pintu terbuka sedikit dan hanya tinggal didorong oleh orang dari luar.
"Waw, sistem apa itu? Dan siapa yang membuka pintu? Apakah Vano?"
"Selamat pagi, Nyonya Muda." Pelayan itu menunduk, tak berani menatap Nirmala.
"Selamat pagi juga. Apa yang kau bawa?" tanya Nirmala karena melihat sebuah nampan yang ditutup oleh kain sutra berwarna merah.
"Letakkan di atas meja." Suara dingin dan tegas terdengar. Nirmala langsung menoleh, sedangkan pelayan itu langsung menunduk.
"Baik, Tuan Muda." Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja. Tanpa diperintah, pelayan itu keluar kamar sambil terus mundur tanpa membalikkan badan. Sungguh sangat menghormati sang tuannya.
Vano merapikan dasinya lalu melihat jam tangan. Tanpa berbicara apapun pada Nirmala, ia pergi begitu saja. Nirmala pikir pasti suaminya itu berangkat ke kantor.
"Hah." Nirmala menghembuskan nafasnya. "Entah ada apa dengan dia. Mengapa dia tidak berbicara padaku? Apa aku ada salah padanya? Tapi aku rasa aku tidak memiliki salah apapun. Yang ada dirinyalah yang bersalah padaku karena merebut diriku dari suamiku. Tapi jika dia tidak marah, mengapa ia terlihat enggan menatapku?"
Nirmala menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu gantung besar. "Oh Tuhan, sebenarnya aku ini menikah dengan manusia macam apa?"
Dari pada memikirkan suaminya yang sama sekali tidak ia kenal dan tidak ia cintai, lebih baik ia mandi terlebih dahulu, dan setelah itu berkeliling rumah besar yang megah seperti istana.
Ya rumah milik tuan muda Vano memang jauh lebih megah dan mewah dari pada rumahnya dulu bersama Rafan. Ada kolam renang di taman belakang, ada parkiran luas bagaikan di gedung kantor di halaman depan, ada taman bunga di samping kanan, dan ada garasi besar di samping kiri.
Nirmala menarik nafas panjang. "Semewah apapun kehidupanku sekarang, aku tetap tidak bahagia. Kebahagiaanku bersama Rafan." Air bening mengalir jatuh ke pipi putih tanpa makeup.
__ADS_1
"Rafan, mengapa kamu tega melakukan ini? Mengapa kau jadikan aku jaminan atas hutang-hutangmu."
* * * *
Ruangan penuh dengan berkas-berkas, baik di atas meja kerja maupun di atas sofa santai. Di antara berkas yang berserakan, seorang pria tengah mengetik sesuatu di komputer sembari membaca dokumen yang ada di salah satu tangannya.
Rafan, sejak tiga bulan lalu, sejak ia menceraikan istrinya, pria itu hanya sibuk dengan kertas-kertas dan tulisan di komputer. Siang dan malam yang ia pikirkan hanya perusahaan, perusahaan dan perusahaan. Ia ingin segera sukses dan membayar semua hutangnya, setelah itu ia bisa menjemput istrinya kembali.
Ia tidak ingin mengingat bahwa untuk sekarang istrinya sudah menjadi istri orang lain. Jika ia mengingatnya, maka hatinya akan sangat perih, akan timbul rasa bersalah serta penyesalan. Maka dari itu ia selalu menyibukkan diri dengan berkasnya agar pikiran dan hatinya tidak memikirkan Nirmala.
'Tok-tok-tok'
"Masuk." Rafan masih memfokuskan diri pada berkasnya.
"Tuan, tuan muda Vano ingin bertemu dengan Tuan."
Barulah Rafan mengangkat kepalanya. "Untuk apa dia datang kemari? Semoga saja dia tidak memamerkan pernikahannya."
"Persilahkan dia masuk."
Sekretarisnya Rafan mengangguk dan undur diri. Kembali Rafan fokus pada dokumennya.
"Selamat pagi menjelang siang Tuan Rafan." Suara berat terdengar, Rafan langsung mengangkat kepalanya.
"Silahkan masuk Tuan Vano." Rafan mempersilahkan.
Sebenarnya tanpa dipersilahkan Vano pasti akan masuk dan duduk. Jadi langsung saja ia duduk di sofa, tapi sebelum itu ia menggeser kertas-kertas yang ada di sana agar tidak terduduki.
"Jangan terlalu dipaksakan, beristirahatlah dulu."
Rafan berhenti mengetik, mengambil nafas untuk merilekskan dadanya. "Tidak, aku harus bekerja keras, agar secepatnya bisa mengambil istriku kembali."
Vano tersenyum tipis. "Kau tidak perlu khawatir, istrimu terlihat tidak tertarik sedikitpun padaku. Dan aku pun tidak akan mengambilnya darimu."
Mengatakan 'istrimu' seolah Nirmala masih menjadi istri Rafan, padahal kenyataannya Nirmala hanyalah mantan istri Rafan dan kini telah menjabat sebagai nyonya muda besar Ravaldi.
"Jika istriku tidak tertarik padamu, lalu apakah kamu tertarik padanya?"
__ADS_1
Vano menegakkan kepalanya dengan lurus, menatap mata Rafan dengan lurus.