
Selesai sudah urusannya dengan Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex. Kini ia berdiri di depan pintu kamar Putri Viola, menghirup udara lalu hembuskan, kegugupan mulai menyelimuti hatinya.
tok tok tok
"Putri Viola,"
Lima menit tidak ada sahutan, Pangeran Abigail kembali mengetuk pintu itu.
"Putri Viola," serunya lagi.
"Pangeran, mungkin Putri sudah tidur. Alangkah baiknya besok saja Pangeran menemuinya." ucap pelayan Mira, ia kasihan melihat Pangeran Abigail yang penuh harap ingin cepat bertemu.
Pangeran Abigail menunduk, "Mungkin benar."
Sedangkan dari dalam, Putri Viola kebingungan antara mau membuka pintu atau tidak, jika ia membuka pintu apa yang ia akan bicarakan dengan Pangeran Abigail, tapi jika ia tidak membuka pintu, ia merasa bersalah.
Putri Viola pun membuka pintu itu, "Pangeran." sapanya.
"Putri," Pangeran Abigail membalikkan badannya lagi.
"Apa ada sesuatu?" tanya Putri Viola.
"Aku hanya ingin berbicara dengan mu,"
"Masuklah, Mira biar Aku nanti yang mengantarkan Pangeran ke kamarnya." ucap Putri Viola yang diangguki oleh Mira.
Pangeran Abigail di tuntun oleh Putri Viola, ia duduk di sofa putih itu. Setelah itu Putri Viola juga ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
Kecanggungan dan keheningan mulai tercipta di antara mereka berdua, Putri Viola ingin memulai percakapannya namun ragu, sama halnya dengan Pangeran Abigail.
"Pangeran katakanlah, sebenarnya ada apa?" tanya Putri Viola dengan lembut, ia menatap lekat Pangeran Abigail.
"Aku minta maaf atas kelakuan Emma," cicitnya.
Ada rasa tidak suka di hati Putri Viola, seharusnya Emma lah yang meminta maaf, bukan Pangeran Abigail yang mewakilinya untuk minta maaf.
"Apa Pangeran hanya ingin mengatakan itu? jika sudah, Aku mau beristirahat Pangeran." Dengus Putri Viola yang mulai bertambah kesal.
"Bu, bukan itu saja. Aku hanya ingin mengatakan hal lainnya."
Putri Viola hanya berdehem, ia menggeser tubuhnya agar lebih menjauh dan memalingkan wajahnya.
"Apa Putri setuju, bertunangan dengan Ku?"
"Jika aku berharap, bagaimana? Aku tidak menyukai Emma, tapi aku hanya menganggapnya teman Ku." Jelasnya.
"Tapi Emma sudah memperingati Ku, agar menjauh dari Pangeran Abigail. Aku sudah memutuskan, untuk tidak berhubungan lagi dengan Pangeran."
Deg
Rasa sakit itu menjalar di dadanya, Pangeran Abigail mengepalkan tangannya. "Aku tidak mau," lirihnya menunduk.
Putri Viola berjongkok, ia menatap lekat bola mata biru itu, "Kenapa Pangeran bersikeras ingin bertunangan dengan Ku?"
"Aku tidak tau, Aku hanya merasa nyaman dengan Putri," jawabnya polos dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Putri Viola tersenyum, "Aku paling tidak bisa melihat orang menangis, maka dari itu. Aku siap bertunangan dengan Pangeran."
"Tapi ada satu hal yang ingin Aku katakan, Aku takut Putri tidak akan mau dengan Ku."
"Hem, apa?" tanya Putri Viola penasaran.
Pangeran Abigail melepaskan kaos tangan kanannya, luka bakar yang menghitam itu, ia sudah memperkuat hatinya untuk menerima penolakan Putri Viola.
Putri Viola pun yang melihatnya, menutup kedua mulutnya, ada rasa sakit di hatinya. Ia melihat luka itu, lalu meraba kulit yang mengeras itu.
"Apa tubuh Pangeran di penuhi luka seperti ini?"
Pangeran Abigail mengangguk.
"Apa setiap hari Pangeran akan merasakan sakit?"
Pangeran Abigail menggeleng, "Hanya bulan purnama Aku akan merasakan kesakitan di sekujur tubuh Ku."
Putri Viola mengeluarkan air mata beningnya, ia dapat merasakan apa yang Pangeran rasakan selama ini, tanpa sadar ia memeluk Pangeran Abigail.
"Apapun yang terjadi, Pangeran tetap tunangan Ku, calon suami Ku kelak."
"Terimakasih Putri.."
Sementara Kaisar Emerald, Permaisuri Emerald dan Emma tertegun, mereka menyaksikan semua itu. Sebenarnya mereka datang ke kamar Putri Viola untuk mengajak Emma minta maaf, tapi sebelum minta maaf mereka sudah di suguhkan dengan pemandangan yang mengharukan. Ada rasa bahagia di hati Kaisar Emerald dan Permaisuri Emerald, sementara di hati Emma, merasakan hatinya tercabik-cabik, ia mengepalkan tangannya.
"Lihatlah Emma, apa kamu tega memisahkan mereka?" ucap Permaisuri Emerald menatap haru ke arah dua bocah yang saling berpelukan itu.
__ADS_1
Permaisuri Aku tidak akan menyerah, apa yang menjadi miliku akan tetap menjadi milikku, Aku tidak memiliki siapa pun kecuali Pangeran, Putri Viola kali ini aku mengalah batinnya seraya menggertakkan giginya.