
Ada rasa tegang, khawatir, takut, Putri Viola yang tidak pernah takut dengan pedang kini ia takut hanya karna satu botol di depannya itu. Karna botol itu mempertaruhkan hubungannya.
"Putri Viola bisa di jelaskan," ujar Kaisar Emerald membolak-balik botol di tangannya.
"Yang Mulia hamba mencurigai Emma berbuat curang, hamba juga sudah menyelidikinya. Hamba yakin obat itu yang membuat Pangeran kehilangan kesadarannya."
"Yang Mulia, cairan itu hanyalah obat tidur." sanggah Dokter istana.
"Hamba pernah memergoki Emma membawa botol itu tepat saat kejadian Pangeran di temukan bersama Emma Yang Mulia." timpal Clara.
Kini Permaisuri Flavia mengerti maksudnya. Ia bersyukur harapan itu menjadi nyata.
"Yang Mulia berarti Emma dan Pangeran tidak melakukan apa pun pada malam itu."
Kaisar Emerald melihat ke arah Permaisuri Flavia, ia mengangguk. "Berarti bukti ini sudah kuat."
"Alban, kita akan mengadakan rapat di aula dan hadirkan Emma." perintah Kaisar Emerald dengan tegas.
Kini Putri Viola bernafas lega, ada seberkas cahaya di hatinya. Sudah tidak sabar ia ingin mengatakannya pada Pangeran Abigail.
"Yang Mulia, Permaisuri. Hamba mohon ijin untuk menemui Pangeran Abigail."
"Baiklah,"
Putri Viola memberikan hormat, ia melangkah kan kakinya dengan tergesa-gesa. Saat sampai disana, ia melihat Pangeran Abigail yang duduk dan melihat ke arah luar jendela.
__ADS_1
"Pangeran," sapa Putri Viola. Ia mengembangkan senyumannya agar Pangeran Abigail tidak perlu khawatir. Ia duduk di tepi ranjang Pangeran Abigail seraya memeriksa dahinya dengan punggung tangannya.
"Syukurlah, demam Pangeran sudah turun." sambungnya lagi.
Pangeran Abigail membalas senyuman Putri Viola. "Apa Putri sudah menemukan buktinya?" tanya Pangeran Abigail dengan tatapan penuh harap.
"Iya semuanya akan baik-baik saja. Emma hanya memberikan obat tidur untuk Pangeran." jawab Putri Viola.
Pangeran Abigail mengingat kembali saat Emma menyuruhnya untuk makan bersama, ia ingat sebelum berakhir di ranjang Emma, ia merasakan pusing di kepalanya.
"Pantas saja aku merasakan pusing."
"Apa Pangeran ingin menemui Emma ? mungkin sekarang dia akan menerima keputusan hukuman."
Pangeran Abigail menggeleng, "Aku akan merasakan sakit saat orang terdekat ku, yang ku anggap sebagai saudara sendiri menyakiti perasaan ku."
"Tenanglah, jangan merasakan sakit. Aku juga akan merasakannya."
"Maaf, maaf Putri aku terlalu lemah menjadi seorang laki-laki." lirihnya seraya meneteskan air matanya.
Putri Viola melepaskan pelukannya, ia menghapus jejak air mata di pipi Pangeran Abigail. "Aku tidak peduli kau lemah atau tidak, yang terpenting Pangeran hanya cukup bersama ku saja. Menua bersama." ucap Putri Viola walaupun hatinya merasakan panas saat Permaisuri Flavia mengatakan kebenarannya. Ia akan berusaha membahagiakan Pangeran semampunya.
"Aku bahagia Putri, terimakasih."
Putri Viola terkekeh, "Ah, sudahlah jangan sedih terus. Apa Pangeran surah meminum obatnya?"
__ADS_1
Pangeran Abigail melirik ke arah meja di sampingnya, terdapat nasi, roti dan obat.
"Jadi Pangeran belum sarapan dan meminum obat."
Pangeran Abigail hanya mengangguk, "Bagiku Putri adalah obat ku. Aku merindukan Putri." Pangeran Abigail kembali memeluk Putri Viola.
Putri Viola langsung mencubit kecil lengan Pangeran Abigail, "Rupanya Pangeran sudah pandai menggoda ya,"
Mereka pun tertawa bersama, pundak yang awalnya berat kini terasa ringan. Harapan yang di tunggu-tunggu setiap waktu telah menjadi nyata.
Disisi lain.
Emma di kawal oleh Alban dan Arnod, kedua tangannya di rantai. Rambutnya acak-acakan. Namun wajahnya masih tampak berseri karna dia yakin. Pangeran Abigail akan menjadi miliknya.
Pada saat dia menuju ke aula, ia berpapasan dengan Permaisuri Flavia.
"Emma ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu." Permaisuri Flavia memberikan kode agar kedua Kesatrianya meninggalkan mereka berdua.
"Emma apa kamu tidak menyesal dengan perbuatan mu?"
"Tidak Permaisuri, nyatanya hamba sangat mencintai Pangeran." jawab Emma dengan mantap.
"Nyatanya kamu tidak mencintainya Emma, kamu tidak tau kehidupan Pangeran. Kamu hanyalah bayangan terdekatnya saja. Saat Pangeran dilahirkan dalam keadaan membawa sebuah kutukan, Ketua istana mengatakan. Pangeran beruntung jika dirinya bertahan sampai saat dewasa."
Emma mengkerutkan dahinya, "Maksud Permaisuri."
__ADS_1
"Bukankah tiap bulan purnama, kamu selalu tau Pangeran mengalami kesakitan. Seharusnya kamu memberikannya kebahagian, bukan menghancurkannya. Kamu bukan mencintainya, tapi terlalu obsesi. Sehingga kamu tidak tau mana yang salah dan mana yang benar. Cinta itu pengorbanan Emma. Aku menganggap mu sebagai anak ku, jika pun dirimu bersalah Emma. Ibunda harap kamu mau mengakui semua kesalahan mu." ucap Permaisuri Flavia berlalu pergi.
Tubuh Emma langsung ambruk ke lantai, ia menjajar setiap perkataan Permaisuri Flavia di otaknya. Ternyata benar, dirinya hanyalah bayangan yang tidak tau apa-apa. Bahkan hatinya begitu sakit saat Permaisuri Flavia menekankan kata Ibu. Jika pun dirinya menyesal semuanya tidak akan mengubah apa pun. Pangeran Abigail tetap akan membencinya.