
Michelia menghirup udara sedalam-dalamnya hingga mulutnya terlihat mengembang. "Nona Michelia telah tiba." Teriakan menggema di seluruh ruangan itu membuat semua orang menoleh. Para bangsawan tidak pernah tau wajah dari sosok putri dari Duke Rachid. Mereka hanya mendengar rumor dari para pelayan yang bekerja di sana. Dan benar saja, rumor itu memang benar apa adanya. Putri Michelia sangat mirip dengan wajah dari Permaisuri Anastasya dan Putri Maya, bisa di katakan bagaikan pinang yang di belah dua.
Para bangsawan pun berbisik-bisik. Banyak para laki-laki bangsawan yang menatapnya tanpa berkedip. Gaun berwarna pink dengan berenda mawar putih di lehernya sementara bagian dadanya sedikit terbuka yang melekat sempurna di tubuh ramping dan kulit putih mulusnya. Rambut di gulung menjadi satu ikatan dan hanya menyisakan anak rambut di bagian depan dengan dua bagian yang melungkung. Michelia menuju ke arah Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex seluruh anggota keluarga istana dia memberikan hormat dan tersenyum ramah.
"Saya Nona dari Michelia memberikan salam Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri."
"Apa dia cucu perempuan mu?" tanya Kaisar Ferdinand.
Seandainya aku masih muda, sudah pasti aku melamar cucu dari Kaisar Alex batinnya mengagumi.
"Benar dia cucu perempuan ku satu-satunya. Sini Nak, dia Kaisar Ferdinand, Permaisuri Eveline, Pangeran Luke dan Pangeran Oskar." Ujar Kaisar Alex tersenyum.
Lain halnya dengan seorang pelayan yang gugup melihat laki-laki yang ia kenali wajahnya tadi pagi. Pelayan itu melirik ke arah Michelia, sepertinya majikannya itu tidak tau siapa laki-laki di samping Pangeran Oskar.
"Dan ini, Duke Elios, Duchess Caroline, Viscount Elca dan Nona Anabella."
"Namanya mirip sekali dengan Putri Viola." Ujar Michelia seraya mendonggakkan wajahnya ke arah Kaisar Alex.
"Sama-sama cantik." Ujar Michelia.
Aku merasa minder bertemu dengan wanita cantik batin Pangeran Luke. Selama ini dia sudah melajang, baginya perempuan hanyalah pakaian sebagai pemuas nafsu saja. Tetapi melihat gadis di depannya itu, ia merasa bola berwarna biru itu sangatlah polos dan jernih.
"Kakak bukankah dia itu ... "
__ADS_1
Mery yang berada di belakang Michelia melirik sekilas ke arah Viscount Elca dengan Nona Anabella. Melihat senyuman Viscount Elca seketika membuat wajahnya menunduk.
Viscount Elca menatap Adiknya, agar tidak membuka suara. Nona Viola pun terdiam. Ia menatap ke arah Mery, lalu beralih ke arah gadis yang tersenyum.
"Dia permata kami, maka dari itu Putri ku, Duchess Maya dan Duke Rachid mengurungnya." Tutut Kaisar Alex membuat Nona Viola mendonggakkan wajahnya ke arah sang kakak.
Oh ternyata dia kabur, pantas saja Kakak tersenyum sedari tadi batin nona Viola.
"Silahkan menikmati jamuannya." Ujar Permaisuri Anastasya dengan lembut.
Merekapun duduk di tempat yang telah di sediakan. Kaisar Alex dan Kaisar Ferdinand hanya membahas masalah ekonomi. Kedua laki-laki yang sudah tak muda itu sering kali terkekeh. Sementara kedua Permaisuri dan bangsawan Duke mereka juga saling berbincang dan tentunya membahas anak-anaknya.
"Nona," sapa Mery. Ia ingin memberitaukan tentang kegelisahannya itu.
Mery menepuk dahinya, "Apa Nona tidak melihat laki-laki itu, maksud ku laki-laki yang berhidung mancung itu." Ujar Mery.
"Heh, Mery. Apa kamu tidak lihat? di ruangan ini banyak hidung mancung. Apa kamu sekarang beralih profesi mengintip laki-laki berhidung mancung? jangan bilang kamu juga tertarik dengan hidung kakek." Pekik Michelia membulatkan matanya seraya memundurkan kepalanya dari kepala Mery.
"Astagah Nona ! bukan itu, coba Nona lihat laki-laki yang sedang melihat ke arah Nona."
Michelia meneguk jus jeruk itu. Tatapannya bertemu dengan tatapan Viscount Elca. Seketika dadanya berdetak hebat, wajahnya mulai memanas dan memerah. Ia menundukkan kepalanya, mengatur detak jantungnya yang tak biasanya melompat.
Ada apa dengan ku batinnya
__ADS_1
"Apa Nona tidak ingat? bangsawan itu yang bertemu dengan kita di kota saat aku tak sengaja tertabrak keretanya." Jelas Mery.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Michelia tersedak, Mery langsung menepuk punggungnya dengan pelan. Michelia menatap ke arah Mery yang di angguki, lalu beralih ke arah Viscount Elca yang tersenyum sambil meneguk Wine di tangannya.
Mampus
"Sayang ada apa?" tanya Duchess Maya khawatir.
"Ibu aku merasa tidak enak badan." Ujarnya seraya melirik ke arah Viscount Elca.
"Baiklah, Ibu akan memanggilkan Dokter istana."
"Tidak perlu Ibu, aku hanya butuh istirahat sebentar." Michelia bangkit dari kursinya. Ia memberikan hormat lalu bergegas pergi tanpa mendengarkan Kaisar Alex dan anggota keluarga lainnya.
Gadis yang unik, lucu sekali melihatnya gugup batinya
Senyuman di bibir Viscount Elca tak lepas dari perhatian Duchess Caroline. Ia merasa aneh dengan senyuman itu. Apa yang di pikirannya saat ini, ia buang jauh-jauh. Elcanya tidak mungkin memiliki pikiran sejauh itu.
__ADS_1