Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
S4 : Menemukan


__ADS_3

Tak


Tak


Tak


"Aduh," Gadis itu mencoba berdiri dari anak tangga dengan di bantu oleh sang pelayan yang berada di sampingnya. Gadis itu pun melepaskan sepatunya. "Sepatu sialan !" ujarnya sambil melempar sepatu itu dan melepaskan sepatu di kaki sebelahnya.


"Nona Michelia tidak apa-apa?" tanya Mery khawatir.


"Aku tidak apa-apa, ayo cepat sebelum ibu menemukan kita." Ujar Michelia. Ia kembali menaiki tangga istana. Michelia berlari kecil sepanjang koridor istana. Belum lagi dia berganti pakaian. Jika sang ibu atau ayahnya melihatnya dalam kondisi seperti ini. Sudah pasti kedua orang tuanya akan menceramahinya dalam sebulan. Telinganya sampai berdenyut mendengarkan semua nasehat dan tegurannya, tetapi hatinya tidak pernah bosan menerima amarahnya itu.


"Nona di depan." Seketika langkah itu berhenti.


"Mati aku." Ujar Michelia melihat sang Ayah berjalan ke arahnya seraya berbicara dengan salah satu bangsawan di sampingnya.


Tanpa sadar, seseorang menarik tangan kanannya. Hingga ia menghilang di balik pintu dengan di ikuti Mery.


"Aaa." Michelia hendak berteriak, namun mulutnya langsung di bekap oleh laki-laki di depannya.


"Kamu datang dari mana? dan kenapa berpakaian seperti ini? kamu tidak tau, bibi mencari mu kemana-mana? bagaimana jika bibi tau? aku yakin pasti dia memarahi mu."


"Satu-satu kak, pertanyaannya." Ujar Michelia seraya memperlihatkan deretan giginya rapi.

__ADS_1


"Hah," laki-laki itu menggaruk pucuk hidungnya yang tak gatal. Percuma saja dia memarahinya, menceramahinya panjang lebar. Gadis di depannya hanya menunduk, mendengarkan tetapi tidak mengambil perkataanya. Anggap saja, mulutnya hanya bunyi lebah yang melewatinya.


"Kakak jangan bilang siapa-siapa. Tadi aku keluar."


"Kamu," laki-laki itu menatap tajam. "Bagaimana jika kamu terluka tanpa pengawasan sedikit pun." Bentaknya.


"Maaf !" lirihnya menunduk.


"Untuk sekarang aku tidak akan menceramahi mu, tunggu saja nanti. Sebaiknya kamu cepat kembali ke kamar. Dan segera mungkin kamu berganti gaun. Rombongan dari bangsawan seberang akan tiba."


Laki-laki itu keluar dengan di ikuti Putri Maya. Kedua orang itu pun memilih jalur berbeda. Ia akan mengabari jika keponakannya itu telah di temukan. Sementara Michelia menuju ke kamarnya.


"Bibi," panggil laki-laki itu.


"Adik sudah di temukan, mungkin dia tadi berkeliling istana." Ujarnya dengan gugup seraya melirik ke sebelah wanita di depannya itu.


"Syukurlah, adik mu membuat bibi mu ini jantungan saja. Aku akan menemuinya." Ujarnya berlalu pergi.


"Pangeran Almeer, apa ada sesuatu yang harus kamu jelaskan pada Ibu?" tanya Putri Viola menatap ke arah putranya. Ia tau, jika sang putra tengah menyembunyikan sesuatu. "Ibu tidak pernah mengajarkan mu berbohong Nak."


"Maaf Ibu aku terpaksa. Adik keluar dari istana diam-diam. Bahkan aku sudah sering menasehatinya agar jangan keluar. Aku juga sering melihatnya di kota. Apa dia sangat ingin sekali keluar? bahkan aku sudah sering mengajaknya keluar agar jangan kabur lagi." Jelasnya dengan raut wajah kesal.


"Sepertinya memang harus ibu yang menasehati bibi mu." Ujar Putri Viola merasa kasihan di hatinya. Michelia pasti ingin seperti yang lainnya. Bebas keluar hanya di jaga oleh Kesatria dan pelayannya.

__ADS_1


"Sayang, kalian di sini." Ujar Pangeran Abigail. "Sebentar lagi rombongan akan tiba, ayo ke sana. O, iya, apa Nona Michelia sudah di temukan?" tanya Pangeran Abigail.


"Iya, nanti dia akan menyusul kita." Ujar Putri Viola seraya bergandengan tangan dengan san suami. Ketiga orang itu pun menuju ke aula istana.


Sementara di sisi lain.


Seorang gadis tengah berganti gaun, sesekali dia melihat ke arah pintu. Semoga saja sang ibu tidak memergokinya memakai pakaian seorang pelayan.


Sedangkan Mery langsung menyambar pakaian pelayan itu, menaruhnya di sebuah kotak tempat pakaian.


"Michelia."


Huft


Michelia memegang dadanya, ia melihat Mery di depan lemari. Dan tentunya, pakaian itu sudah menghilang.


"Aku tadi hanya berkeliling istana. Aku hanya rindu pada lingkungan istana ini," bohong Michelia tanpa melihat mata sang ibu. Jika ia melihat matanya, ia tidak bisa berbohong.


"Hem, baiklah. Cepat berganti pakaian. Rombongan dari Kaisar seberang akan tiba. Ibu kesana dulu." Ujar Duchess Maya. Hatinya merasa lega melihat putrinya kembali. Sejujurnya ia sudah tau, putrinya keluar diam-diam. Namun ia tidak ingin memarahinya.


"Syukurlah aku selamat." Ujarnya sambil mengelus dadanya.


"Mery cepat bantu aku." Pekik Michelia menyadarkan Mery yang mematung di depan lemari.

__ADS_1


__ADS_2