Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_teriakan dari lantai atas


__ADS_3

Selang beberapa saat, Nona Ingrid datang bersama seorang pelayan wanita membawa sebuah nampan.


"Putri bagaimana jika kita duduk disana," Nona Ingrid menunjuk ke arah meja yang masih kosong.


"Baiklah," ucap Putri Maya menyetujuinya sambil memberi kode pada Duke Rachid untuk memberikan segelas wine itu.


"Nona Ingrid tunggu, ini segelas wine untuk mu, sebagai rasa ucapan terimakasih ku." ucap Duke Rachid tersenyum licik.


Nona Ingrid mengambil wine itu dengan wajah yang amat senang. Ia tidak menyangka Duke Rachid terbawa dengan kecantikannya itu. Sebisa mungkin malam ini dia akan memberikan kesan yang baik. "Terimakasih Duke." ucap Nona Ingrid.


Putri Maya duduk berhadapan dengan Nona Ingrid, ia menatap lekat segelas wine itu.


Kita lihat apa yang kamu rencanakan ucapnya tersenyum sinis.


Dengan ide liciknya Nona Ingrid ingin mengambil kesempatan untuk memanasi hati Putri Maya. Ia harus bisa meyakinkan Putri Maya jika Duke Rachid mulai tertarik dengannya.


"Putri Duke Rachid sangat baik sekali, bahkan hamba di beri segelas wine ini sebagai ucapan terimakasih."


Putri Maya tersenyum kecut, ingin sekali ia menenggelamkan ulet tempel di depannya ini. "Benarkah, padahal tadi aku ingin meminumnya, tapi Paman melarangku." ucapnya dengan nada kesal.


"Kenapa bisa begitu Putri? bukankah Duke sangat menyayangi Putri." Balasnya berpura-pura terkejut.


"Mungkin saja Duke hanya ingin menjaga kesehatan Putri."

__ADS_1


"Tapi aku masih kesal. Kenapa Duke memberikan mu minuman itu. Aku merasa cemburu." Putri Maya menatap Nona Ingrid dengan mata berkaca-kaca.


Nona Ingrid menyunggingkan bibirnya, ia yakin saat ini Duke Rachid merasa bersalah atas perbuatannya tadi pagi. Mungkin saja dirinya sekarang lebih menarik dari Putri Maya. Ia menoleh ke arah Duke Rachid. Tatapan mereka pun bertemu dam saling menyapa dengan senyuman lembut.


Putri Maya yang melihatnya, ia meremas gaunnya, ia ingin mencongkel mata Duke Rachid dan menyobek mulutnya yang memamerkan senyuman pada Nona Ingrid.


"Ehem."


Derheman Putri Maya membuat Nona Ingrid sadar dan mengalihkan pandangannya.


"Jujur saja ya Putri, hamba tidak merasa yakin jika Putri wanita yang paling di cintainya." ucap Nona Ingrid.


"Seharusnya dia memikirkan perasaan Putri, dengan tidak memberikan wine ini pada saya." lanjutnya lagi.


Nona Ingrid menatap Putri Maya dengan mengeluarkan air matanya, "Maaf Putri." lirihnya.


"Ana berikan sapu tangan ku pada Nona Ingrid."


Ana tadinya hanya bergumel di bibirnya, dengan terpaksa ia memberikan sapu tangan pada Nona Ingrid.


"Te, terimakasih Putri." ucap Nona Ingrid sambil menghapus air mata di pipinya dengan sapu tangan yang di berikan Ana tadi.


"Maaf, membuat Nona Ingrid tidak nyaman, tapi aku merasa senang, karna Paman memperhatikan Nona Ingrid. Sebaiknya Nona Ingrid secepatnya meminumnya. Bisa saja Paman merasa kecewa karna Nona Ingrid tidak meminumnya."

__ADS_1


"Ah iya benar," Nona Ingrid mengambil wine itu dan segera meminumnya. Dalam sekali teguk wine itu habis di mulutnya.


"Apa Duke pernah bercerita? dulu Duke juga pernah memiliki keponakan yang seumuran dengan Putri. Keponakannya juga sering menempel dengan Duke. Jika tidak salah namanya Nona Hilda, dia gadis yatim piatu yang di besarkan oleh bibi Duke Rachid." jelas Nona Ingrid.


Putri Maya berfikir ia tidak pernah melihat Duke Rachid bersama seorang wanita ataupun seorang anak. Dan Duke juga tidak pernah bercerita tentang dirinya, yang ia tau hanya sebatas kedua orang Duke yang telah meninggal.


Beberapa menit kemudian, Nona Ingrid merasakan tubuhnya terasa panas. Tidak seperti biasanya ia merasakan panas dan wajahnya yang mulai memanas.


"Putri, maaf aku harus pergi." ucap Nona Ingrid berlalu pergi dengan langkah tergesa-gesa.


Putri Maya masih dalam lamunannya, ia tidak peduli dengan perkataan Nona Ingrid. Secepatnya ia harus mencari tau siapa Nona Hilda.


"Maukah Putri berdansa dengan hamba." ucap Duke Rachid, membuat Putri Maya tersentak, Ia menatap tangan Duke Rachid dan menerimanya dengan senyuma, lalu menuju ke tengah-tengah para bangsawan.


Putri Maya menatap wajah Duke Rachid begitu lekat, hatinya merasa tidak enak ketika mendengarkan nama Nona Hilda.


*Kenapa aku merasa aneh dengan nama itu


Para* bangsawan pun berdansa dengan pasangannya. Mengikuti alunan melodi biola dan piano. Sementara Baron Verland mencari Putrinya, Nona Ingrid yang tidak melihatnya sama sekali.


"Kamu, carilah Putri ku di kamarnya." ucap Baron Verland pada seorang pelayan wanita.


Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan dari lantai atas, membuat semua bangsawan berhenti berdansa.

__ADS_1


__ADS_2