Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_perhatian kecil Duke Rachid


__ADS_3

"Duce," Panggil Putri Maya, ia berjalan seraya menggenggam tangan Duke Rachid.


"Acu nanti icut Bunda, asti Acu meinducan Duce."


Duke Rachid menghentikan langkah kakinya, ia melihat ke anak kecil di sampingnya.


"Apa Putri Maya akan merindukan Ku," Duke Rachid kembali menggendong Putri Maya.


"Betul,"


"Apa Putri Maya kelak akan menikah dengan Ku?" Pertanyaan yang awalnya ia pikir pertanyaan bodoh, tanpa sadar keluar dari mulutnya.


"Betul, Acu mau nikah ama Duce." Putri Maya mencium pipi Duke Rachid.


Detak jantungnya berdetak begitu cepat, hatinya menghangat ingin sekali dia berteriak, mengungkapkan rasa bahagianya.

__ADS_1


Duke Rachid pun segera sadar, mungkin perkataan anak kecil di depannya hanya angin lalu. Ia tidak menyangka umurnya yang kini beranjak 25, umur yang sama dengan Kaisar Alex hanya beda bulan dan tanggal. Kaisar Alex yang selalu bersama dengan dirinya bersahabat mulai semenjak kecil dan kini ia mewarisi seorang Duke.


Rasa bodoh, tapi ada rasa penasaran Duke Rachid pun kembali bertanya, "Jika suatu saat Duke sudah tua, bisa di bilang umur 40 Tahun apa Putri Maya akan mau menikah dengan Duke?"


Putri Maya hanya mengangguk tersenyum sebagai jawabannya. Hati Duke Rachid bahagia, namun ia harus menepisnya. Mungkin saja kelak Putri Maya akan menemukan sesuatu lebih dari dirinya, tapi ada rasa menyengat di hatinya. Ia berharap perkataan Putri Maya bukan angin lalu.


"Adik ayo kita bersiap-siap," teriak Putri Viola, sedari tadi ia berpisah dengan Putri Maya.


Ia bermain di temani Mery, Ana, dan yang lainnya. Sedangkan Putri Maya memilih bermain dengan Duke Rachid.


Tapi dalam hatinya ada rasa jengkel, Duke Rachid selalu memberikan alasan dan merayu Putri Maya untuk bermain dengannya. Ia mengingat tadi, Putri Maya jangan seperti ini, jangan seperti itu. Lebih baik seperti ini, seperti itu. Mendengarkan suara Duke Rachid pun seperti sarang tawon bagi telinganya. Hingga ia memilih Putri Maya atau sang Adik bermain dengannya.


"Iya Acak,"


"Ayo, Duke bantu bersiap-siap." Duke Rachid menuju ke kamar Putri Maya di ikuti pelayan Ana.

__ADS_1


Pelayan Ana mengambil kotak berukuran sedang itu yang terbuat dari besi bercat oren.


"Ana siapkan semua pakaian Putri Maya, biar Aku saja yang memasukkan ke dalam kotak ini. Aku harus memeriksanya sendiri."


Pelayan Ana sedikit terkejut, ia merasa Duke Rachid sangat memperhatikan seorang istri. Pelayan Ana pun tak ambil pusing, ia harus melaksanakan semua perintahnya.


"Putri harus menjaga kesehatan, jangan telat makan, tidak boleh bermain terlalu jauh, jangan main bersama anak laki-laki dan segala peringatan Duke Rachid keluar."


"Uce, apa idak teralu angak?" tanya Puti Maya yang melihat kedua koper berukuran sedang.


Duke Rachid melihat ke arah kedua kotak besi itu, ia heran bagaimana bisa dia melakukan hal bodoh di masa hidupnya.


"Ti, tidak tentu saja Putri harus menjaga kesehatan Putri," jawab Duke Rachid gelagapan. "Dan kau Ana, kau harus menjaga Putri Maya sepenuhnya, jangan sampai lengah. Jika sampai Putri Maya lecet sedikit pun bahkan dia memiliki teman laki-laki, awas saja kau." ucap Duke Rachid dengan tegas.


"Ha.."

__ADS_1


Pelayan Ana teradar, ia langsung menunduk, "Ba, baik Duke."


Duke Rachid berjongkok di depan Putri Maya, ia mengelus pipi gembul itu, "Jaga kesehatan Putri dan jangan sampai bermain dengan laki-laki. Bisa saja laki-laki itu tidak baik untuk Putri. Sekarang Putri istirahatlah. Besok Putri harus bersiap-siap." ucap Duke Rachid seraya mencium kening Putri Maya.


__ADS_2