
Di sebuah ruangan bernuansa eropa ber cat biru, dengan perabotan ruangan ber warna putih dan vas bunga yang berjejer rapi di atas meja dekat jendela. Terlihat tujuh orang tampak serius mendengarkan sebuah cerita dari wanita yang kini masih memakai baju zirah di tubuhnya itu. Kini ruangan itu di liputi dengan aura yang mengerikan.
"Wanita itu, beraninya dia menjebak Pangeran." teriak Enzo.
"Benar, Aku ingin memanggangnya hidup-hidup." timpal Enzi yang tak kalah sengit.
Sedangkan Kaisar Alex hanya mengetuk meja di depannya, ia mencerna setiap kata dan memikirkan permintaan Putrinya itu.
"Ayahanda tidak akan melarang mu untuk memutuskan pertunangan mu. Sementara kamu masih gigih ingin mencari tau kebenarannya, maka dari itu. Ayah akan memberikan waktu, paling lambat seminggu. Jika kenyataannya memang benar, perang adalah jalan satu-satunya." jelas Kaisar Alex, walaupun hatinya bergulat ingin menyerang, tapi ia tahan, tidak ingin mengecewakan Putri berharganya itu.
"Benar, Ibunda juga tidak terima. Kamu di permalukan seperti itu." sanggah Anastasya dengan suara tajam.
"Baiklah, dan kenapa kalian saling diam?" tanya Kaisar Alex melihat ke arah Duke Rachid dan Putri Maya, sedari tadi ia merasa aneh, biasanya mereka saling menempel, tapi sekarang saat Duke Rachid melihat ke arah Putri Maya, justru Putri Maya malah melengos.
"Tidak ada," singkat Duke Rachid.
"Ada." Singkat Putri Maya.
Semua orang pun melihat ke arah mereka. Sudah biasa bagi semua orang melihat pertengkaran seperti kucing dan tikus. Baru bertengkar sehari, besoknya lagi mereka juga akan akur.
"Dia tergoda dengan Nona Ingrid Ibunda." ucap Putri Maya melirik tajam ke arah Duke Rachid.
Sekujur tubuh Duke Rachid terasa dingin. Semua melihat ke arahnya, ia takut tiba-tiba Kaisar Alex akan membatalkan pertunangannya.
"Apa Duke menyukai Nona Ingrid?" tanya Anastasya menatap serius, karna ia tau di dalam novel mereka menikah.
__ADS_1
"Tidak masalah Jika Duke membatalkan pertunangan dengan Putri ku."
"Apa maksud Ibunda?" tanya Putri Maya, ia merasa berat saat Anastasya mengatakan seperti itu tanpa persetujuannya.
Anastasya berusaha merendam emosinya, "Aku tidak ingin kisah kalian seperti Ibunda, menikah karna politik lalu di campakan setelah mendapatkan yang lain." ucap Anastasya datar, ia pergi dengan amarah yang berada di hatinya. Yang paling ia khawatirkan adalah nasib kedua Putrinya, lebih-lebih Putri Maya.
"Duke, tentu kau tau saat aku membuat Permaisuri menangis. Sampai saat ini aku masih memiliki penyesalan itu. Dulu Ayah terang-terangan membawa seorang wanita. Ayah tidak pernah memberikan kelembutan bagi Ibunda kalian. Hingga Ayah menyadari cinta saat sifat Ibunda kalian sudah berubah. Ibunda kalian berbicara seperti itu, karna dia takut kejadian dirinya terulang di kehidupan kalian."
Duke Rachid menunduk, ia merasa bersalah. Karna sudah menyebabkan keributan. "Yang Mulia, hamba akan menikah dengan Putri Maya. Hamba serius dengannya, Yang Mulia."
Kaisar Alex melongo, "Menikah, menikah jangan bicara sembarangan. Dia belum menyelesaikan Akademiknya. Aku tidak setuju." tegas Kaisar Alex.
"Hamba akan menunggunya Yang Mulia,"
"Aku harap Duke cepat menyelesaikan masalah hubungan mu dengan Nona Ingrid, berilah dia kepastian dan Putri Viola, Ayah tidak memiliki banyak waktu. Secepatnya urusan mu harus selesai." Kaisar Alex kembali mengeluarkan taringnya. Ia tidak ingin sebuah hubungan menghambat Akademik Putri Maya, lagi pula Putri Maya masih muda. Hubungan keluarga bukanlah perkara mudah. Harus di lalui dengan lika-liku permasalahan. Pasti ada ujiannya. Jika tidak bisa menghadapinya, perpisahan pasti jalannya.
"Baik Yang Mulia."
Selang beberapa saat datanglah Hector, ia memberikan hormat pada mereka.
"Yang Mulia ada utusan Kekaisaran Emerald dan Permaisuri sedang menemuinya." ucap Hector.
"Baiklah." Semua orang pun menuju ke ruang tamu, sesampainya disana. Ia melihat Permaisuri Anastasya dan Alban.
"Hormat hamba Yang Mulia, Putri Viola, Putri Maya dan Duke Rachid. Hamba disini sebatas perwakilan dari Kekaisaran Emerald."
__ADS_1
"Putri ku yang akan memberikan keputusannya," ucap Kaisar Alex seraya duduk di sofa, di samping Anastasya.
"Baiklah, aku akan kesana setelah tiga hari." ucap Putri Viola dengan mantap.
"Kami tidak akan mengadakan perang, karna Putri Viola masih ingin memberikan waktu pada Pangeran Abigail jika dia tidak salah."
"Baik Yang Mulia, tapi Pangeran Abigail sedang mengurung diri Yang Mulia."
"Apa?" teriak Putri Viola, "Kenapa Pangeran bisa melakukan hal seperti? apa yang dipikirkannya? Ayah bolehkah aku.." Putri Viola melirik Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya.
"Tidak boleh," ucap mereka serempak.
"Ayahanda, Ibunda." pekik Putri Viola, ia menggigit bibir bawahnya. Seharusnya dia mengatakan semua rencananya, tapi dia juga takut rencananya akan terbongkar.
"Dan Nona Emma sekarang di penjara Yang Mulia, karna dia sudah berani menampar Pangeran."
Putri Viola gusar, ia ingin secepatnya menemui Pangeran Abigail. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
"Dan juga para bangsawan meminta waktu tiga hari untuk membuktikan jika Pangeran Abigail tidak bersalah."
"Baiklah, untuk saat ini aku berbaik hati. Aku tidak akan menyatakan perang dan memberikan waktu jika semua ini hanyalah kesalahpahaman." ucap Kaisar Alex.
"Untuk Putri Viola apa pun yang terjadi, jangan coba-coba untuk pergi ke sana. Biarkan Pangeran Abigail membuktikan semuanya." timpal Anastasya.
Putri Viola menghembuskan nafas kasar melalui mulutnya, ia memberikan hormat dengan wajah sedih. Lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Kini hati dan pikirannya gelisah. Jika terjadi sesuatu dengan Pangeran Abigail, ini semua adalah kebodohannya.