Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_kemarahan Ingrid


__ADS_3

"Paman !" Teriak Putri Maya melihat Duke Rachid yang hanya diam dengan wajah memerah.


"Eh, iya Putri." Balasnya dengan gugup.


"Besok aku akan kembali ke Akademik, Paman. Ayo kita habiskan waktu bersama."


Ajak Putri Maya seraya menggandeng lengan Duke Rachid. Mereka pun berjalan beriringan dengan senyuman di bibir mereka.


"Sayang, saat tiba di Akademik belajar yang benar, jangan berdekatan dengan laki-laki man pun. Harus menjaga jarak." Duke Rachid menatap Putri Maya, sudah pasti Putri Maya menyetujuinya, tapi rasa takut dan khawatir itu masih ada di dalam hatinya. Apalagi jika dirinya berjauhan dengan Putri Maya.


"Jika paman masih berdekatan dengan Nona Ingrid, anggap saja aku akan membalasnya."


Seketika Duke Rachid membelalakkan matanya, ia tidak mengira tunangannya itu akan membalas perkataannya, bukan menyetujuinya.


"Hem, tenang saja Paman bisa menjaga jarak. Tapi awas saja jika ada lelaki yang menggoda mu. Paman akan mencincang tubuhnya."

__ADS_1


Putri Maya langsung tertawa, ia tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah Duke Rachid saat dia tau dirinya berdekatan dengan laki-laki lain, tapi di dalam hatinya masih terbesit ingin membuat Duke Rachid kesal.


"Baiklah." balasnya dengan santai.


"Sayang ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan." Duke Rachid pun menuntun Putri Maya ke kamarnya. Sesampainya di sana, Putri Maya duduk di sofa berwarna merah, ia melihat kanan kiri dan mendapati lukisannya, mulai dari kecil hingga tumbuh dewasa. Satu lukisan yang membuatnya tersenyum, seorang anak kecil berumur 5 tahun memakai gaun warna kuning yang dberada di dalam gendongan dengan Duke Rachid.


"Paman apa dulu kita memang sudah tunangan?" tanya Putri Maya seraya meraba lukisan itu.


Duke Rachid melangkah kan kakinya menuju ke arah Putri Maya, kemudian memeluknya dari arah belakang. "Belum, waktu itu Putri kecil yang selalu menempel pada ku masih belum tau artinya cinta. Paman takut, saat Putri Maya tumbuh dewasa malah berpindah ke lain hati. Namun Paman selalu berusaha agar Putri cantik itu tidak pernah bisa menjauh dari Paman. Paman selalu berusaha memenuhi keinginannya. Agar kelak gadis kecil itu hanya menatapnya tanpa menatap laki-laki lain."


Kenapa aku jadi ragu membuat Paman kesal batinnya tersenyum kecut


"Ini," Putri Maya memegang kalung itu, menatap Duke Rachid dengan mata berbinar.


"Ini untuk mu, Paman harap calon istri ku kelak bisa menjaganya dengan baik. Kalung ini satu-satunya peninggalan Ibuku. Dia berharap kelak Paman akan memberikannya pada istri Paman."

__ADS_1


Putri Maya membalikkan badannya, ia memeluk Duke Rachid begitu erat. "Apa Paman yakin, memberikannya pada ku. Kan bisa jadi Paman berpindah hati." lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Jujur saja hatinya begitu enggan kembali ke Akademik saat melihat Nona Ingrid berusaha menggodanya.


"Jangan ragu, setiap minggu sekali Paman akan selalu menjenguk mu ke Akademik." Duke Rachid pun mendekatkan bibirnya ke bibir Putri Maya, ia mencium dan ******* bibir mungil itu dengan lembut.


Sementara di sisi lain.


Terlihat seorang wanita mengamuk di dalam kamarnya, pecahan vas bunga ada dimana mana.


Para pelayannya berdiri mematung, mereka takut jadi pelampiasan kemarahannya itu.


"Sialan, lagi-lagi aku kalah dengan gadis bar-bar itu." ucapnya berteriak.


"Putri ku ada apa?" tanya pria paruh baya sambil melihat sekelilingnya yang sudah berantakan.


"Aku kalah lagi dengannya Ayah." Seru wanita itu.

__ADS_1


"Ingrid, tenanglah. Mungkin tidak mudah menaklukan hatinya, tapi kamu harus bisa. Karna dia adalah Duke yang paling kaya, bahkan kekayaannya separuh kekayaan Kaisar Alex. Jika kita bisa memasuki keluarganya. Sudah pasti kita akan hidup bahagia." ucap pria paruh baya itu yang tak lain Baron Verland.


"Ayah akan membantu mu, tenanglah." ucapnya tersenyum licik.


__ADS_2