
Putri Maya melihat Arnoz dari ujung kaki sampai ke ujung atas, ia berusaha memikirkan perkataan Arnoz, tubuh yang tegap, badan putih dan mulus jauh lebih muda dari Duke. Putri Maya menggeleng kepalanya, bisa-bisanya dirinya memikirkan laki-laki lain di saat masalahnya belum selesai, tapi jika di pikir-pikir ketampanan Arnoz, sebelas dua belas dengan Duke Rachid.
"Bokong Ayam." seru Putri Maya meninggalkan Arnoz yang mengkerutkan dahinya.
Arnoz tersadar, ia berlari kecil mengikuti Putri Maya. "Putri tunggu." teriaknya. Sampai di samping Putri Maya, ia membalikkan badannya berjalan mundur.
"Ayolah Putri mah saja menjadi pendamping ku, jika Putri menginginkan status bangsawan tunggu saja lima tahun kemudian."
Putri Maya menghentikan langkah kakinya, Arnoz pun mengikutinya. "Mungkin laki-laki seperti mu, lima tahun kemudian sudah ada di peti." cibirnya seraya memutar bola matanya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.
"Putri," Arnoz kembali mengikuti Putri Maya dengan langkah lebar. "Putri sama seperti Permaisuri."
Lagi-lagi Putri Maya berhenti, ia membalikkan badannya karna begitu penasaran dengan ucapan Arnoz, "Apa maksud mu? apa kamu kenal dengan Ibu?"
"Tentu saja, hamba kenal. Bahkan lebih kenal."
Putri Maya memicingkan alisnya. Setaunya, Ibundanya tidak pernah kenal dengan seorang laki-laki yang seumuran dengan Putri Viola.
"Apa Putri kenal dengan nama Elisha?"
Putri Maya berfikir, ia pernah mengenal nama itu dan
__ADS_1
tring
Otaknya kembali berkerja dengan cepat.
"Maksud mu ulet keket itu?"
Perkataan Putri Maya tepat menusuk ulu hati Arnoz, ia tidak habis pikir ternyata Ibunya juga memiliki nama lain. Apakah Ibunya seterkenal itu di istana. Sampai-sampai anggota kekaisaran mengenalnya dengan sebutan ulet keket.
"Apa Ibu ku seterkenal itu?" tanya Arnoz. "Bahkan dia memiliki nama yang bagus."
Putri Maya menelan ludahnya susah payah, nama yang tidak dia sebutkan di bilang bagus. Lalu jeleknya seperti apa?
"Bukankah Ibu ku juga memiliki nama lain?"
Dengan polosnya, Arnoz mengangguk. "Iya dia Ibuku, Elisha nama Ibu ku."
Putri Maya menggeleng, mungkin itu nama orang lain.
"Benar Putri, nama itu nama Ibu ku. Elisha, orang yang pernah menjadi istri Yang Mulia." cerocos Arnoz dengan antusiasnya, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jadi kamu anaknya, si Elisha itu." Putri Maya melongo, "Pergilah aku tidak ingin berteman dengan mu." Putri Maya mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
__ADS_1
"Putri tunggu." teriak Arnoz ia kembali berlari mengejar kembali Putri Maya sampai ke dalam perpustakaan. Selama di perjalan ia mengoceh, "Ayolah Putri berteman dengan ku saj. Aku tidak memiliki siapa pun di kota ini. Jika aku menyakiti pertemanan kita, aku sumpuhi tubuhku di makan semut rang-rang."
Putri Maya melirik seraya mengambil salah satu buku yang berjejer rapi, baru kali ini dia mendengar semut rang-rang. Ia ingin tertawa tapi menahannya. Ia tidak mungkin menghancurkan nama baiknya.
Putri Maya menarik kursi itu, ia duduk dan membuka bukunya. Sementara Arnoz duduk di depan Putri Maya.
"Lagi pula Ibu ku sudah meninggal Putri." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Putri Maya hanya berderhem, "Lagi pula apa urusannya dengan ku? sudah tobat kan,"
"Ibu ku sudah pasti bahagia dia kan sudah tobat." lirih Arnoz tersenyum, tapi hatinya masih sakit saat mengingat Elisha menelantarkannya.
"Ck, sedih ya? aku kira tidak akan sedih."
Terdengar suara Lonceng telah berbunyi, segera Putri Maya menutup bukunya, ia pun membawa buku itu ke kelasnya di ikuti Arnoz.
Butuh satu jam mata pelajaran selesai, Putri Maya bersiap pulang sama halnya dengan Arnoz ia segera menutup bukunya dan menghampiri Putri Maya.
"Ada apa lagi?" tanya Putri Maya.
"Pulang dengan Putri," sahutnya santai, ia berjalan di belakang Putri Maya, kadang ia berjalan di samping Putri Maya kadang pula ia berjalan mengelilingi Putri Maya. Semua orang pun memandang aneh pada Arnoz, Putri Maya yang terkenal dingin dan cuek mampu di dekati seorang Arnoz yang baru saja masuk ke dalam Akademik.
__ADS_1
Sementara Putri Maya hanya pasrah, ia menyerah berdebat dengan Arnoz pun tidak akan selesai.