
Setelah kepergian Kaisar Alex, Kendrix dan Arnoz. Anastasya turun dari ranjangnya, ia meregangkan otot pinggangnya dan lengannya.
"Permaisuri,"
Anastasya mengernyit, "Apa kau pikir aku akan mati semudah itu, aku hanya ingin memberikan pelajaran kecil padanya." ucap Anastasya.
"Tapi Permaisuri, setidaknya jangan membahayakan nyawa Permaisuri."
"Hais, sudahlah. Aku ingin kau mengawasi Arnoz, Kendrix dan Elisha. Aku penasaran apa hubungan mereka." ucap Anastasya seraya memegang dagunya dan bersendekap.
"Baiklah, Permaisuri hamba akan menjalani perintah Permaisuri." ucap Mery.
Anastasya mengangguk ia kembali membaringkan tubuhnya di kasur empuk Kaisar Alex. Kini malam pun tiba Mery selaku pelayan setia Anastasya ia tidak pernah berhenti mengawasi Kendrix dan Arnoz sekaligus istana gelap.
"Dhu serem amat sih," ucap Mery yang merasakan bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Ia melihat ke arah sekitar pohon yang rindang. Selama perjalanan ke istana gelap tidak ada cahaya lampu sedikit pun. Ia berfikir Elisha akan mengamuk-ngamuk di dalam sana. Membayangkan saja sudah membuat Mery terkekeh dengan sendirinya.
Tak terasa Mery telah sampai di halaman istana gelap, ia mengintip pintu itu. Namun tidak ada hal yang mencurigakan dan perjagaan disana tidak terlalu ketat. Bahkan prajurit pun hanya memikirkan tidurnya.
__ADS_1
Mery lebih mendekatkan dirinya ke arah pintu istana gelap. Ia mengintip di belakang pot besar se ukuran dengan tubuhnya dan Mery merasa bersyukur ternyata ada tempat untuk bersembunyi. Selang beberapa saat keluarlah pelayan Ana dengan secepat kilat Mery duduk dan mengintip.
Mery hanya diam saja dengan menunggu. Namun tidak ada pergerakan yang mencurigakan.
Karna merasa aman Mery berniat meninggalkan istana gelap. Namun langkahnya berhenti ketika ia melihat seseorang bersama pelayan Ana dan selang beberapa detik Mery dikejutkan dengan kedatangan Arnoz. Mery pun menggigit bibir bawahnya ia tidak bisa mendekat ke arah pintu.
Disisi lain anak kecil yang tak lain Arnoz. Jujur saja hatinya merasa iba melihat Ibunya di kurung di istana gelap tanpa penerangan apapun, yang ada hanyalah penerangan bulan menerobos masuk melalui jendela tempat itu.
"Bagaimana?" tanya Elisha seraya membalikkan badannya.
"Yang Mulia hamba sudah membawanya," ucap pelayan Ana seraya melirik ke arah laki-laki di sampingnya itu.
"Hamba sudah membuatnya Yang Mulia." ucap laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekati Elisha. Lalu, memberikan sebuah botol kaca yang kecil di dalamnya terdapat cairan bening.
"Racun ini bukan racun biasa Yang Mulia. Setetes saja racun ini bisa menghilangkan nyawa orang, Yang Mulia."
Hahaha
__ADS_1
Elisha tertawa seraya menggenggam botol yang ada di tangannya itu, "Bagus, Ana berikan dia imbalannya dan cepat pergilah sebelum ada orang yang melihatnya."
Ana mengangguk mengerti, ia mengantarkan orang itu melalu jalan yang sama. Ada rasa bersyukur di hati Elisha di hukum di sana. Karna ia lebih leluasa memerintahkan Ana untuk melakukan apapun untuk menjalankan misinya dengan lancar.
"Anastasya, lihat lah besok." ucap Elisha menatap tajam ke depan.
prank
Elisha menoleh ketika mendengarkan sesuatu, ia menyipitkan matanya dan melangkahkan kakinya menuju ke asal suara. Namun yang di lihat hanyalah kucing putih berada di sini.
"Untung saja," ucap Elisha bernafas lega ketika melihat kucing putih itu.
Sementara di sampingnya, terlihat anak kecil yang menggigit tangannya. Ia menahan isakan tangisnya, tidak menyangka Ibunya akan menjadi sejahat itu. Dengan hati-hati dan deraian air mata ia keluar dari istana gelap. Melewati prajurit yang sedang tidur.
Belum sampai ia keluar dari halaman istana gelap, tiba-tiba ada yang menghentikan langkah kaki Arnoz.
"Tunggu,"
__ADS_1
Arnoz menjeda langkah kakinya, ia terdiam menunduk dan gemetar. Bagaimana jika dia ketahuan menguping? kini nyawa Ayahnya terancam. Langkah kaki itu semakin mendekat ke arah Arnoz. Hingga Arnoz menggigit bibir bawahnya.