
"Bagiamana keadaannya Dokter?" tanya Bibi Diane sambil menangis.
"Jangan terlalu menekannya, jantungnya sangat lemah. Saya harap Nyonya bisa menjaga emosinya." jelas sang Dokter.
Bibi Diane yang mendengarkannya, ia langsung menuju ke ruangan Duke Rachid. Sesampainya disana ia membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Langkahnya tergesa-gesa ingin memaki Duke Rachid.
"Duke, aku harap anda tau berterimakasih. Karna akulah yang membantu merawat mu. Jika bukan karna ku, Duke tidak akan tumbuh dewasa seperti ini."
"Ya, terimakasih atas perhatian Bibi. Aku juga menganggap Bibi pengganti kedua orang tua ku. Tapi aku tidak menyangka," Duke Rachid menunduk. "Aku tidak menyangka Bibi ingin membunuh ku."
"Hilda tidak kalah baiknya dengan Maya."
"Kenapa Bibi sangat menyayangi Hilda? apa karna rasa kasihan atau maksud lain."
"Hentikan Duke, kami akan pergi dari sini setelah Hilda sembuh. Setelah ini anggap saja kita tidak memiliki hubungan." ancam Bibi Diane.
Duke Rachid ambruk di lantai, orang yang ia sayangi telah menjauh dan sekarang orang yang ia juga sayangi memutuskan hubungan. Ia menangis tersedu-sedu. Kali ini dia lemah dan sangat lemah.
Sedangkan Kedua pengawalnya hanya memasang rasa, iba, kasihan dan khawatir.
"Bagiamana jika aku pergi menemui Putri Maya, mungkin Putri Maya akan berubah pikiran, merasa kasihan pada Duke. Pasti hati kecil Putri Maya masih ada rasa sayang pada Duke." ucap salah satu pengawal, Cris.
"Benar, baiklah. Sebaiknya kamu pergi. Biar aku yang menjaga Yang Mulia Duke disini." ucap Emi.
Cris mengangguk, ia menepuk bahu Emi dan meninggalkan Emi yang masih memperhatikan Duke Rachid dari jarak jauh.
__ADS_1
Disisi lain.
Terlihat gadis cantik duduk sendirian di bawah pohon. Ia penasaran isi amplop itu, apa lagi ia sudah mendengarkan rumor tentang dirinya. Gadis itu pun membuka amplop itu, ia membuka surat yang terlipat rapi.
Putri Ku Maya.
Bagaimana kabar Putri ku yang cantik ini? semoga dirimu selalu di lindungi Tuhan dimana pun berada. Emmm, Apa Putri Maya tau, Duke Rachid menemui Ibunda dan Ayahanda mu. Dia memohon agar pertunangan mu tidak batal. Ibunda juga sudah mengancamnya, agar tidak menemui beberapa waktu. Karna Ibunda yakin dirimu butuh ketenangan.
Putri ku.
Ibunda tidak akan memaksa mu, entah mempertahankannya atau tidak. Karna sejatinya orang tua mendukung setiap Anak-anaknya. Orang tua akan mendukungnya jika benar dan menasehatinya jika salah.
Putri ku.
Dirimu sudah dewasa, cobalah untuk berfikir jernih. Bukan karna amarah kamu langsung memutuskan tanpa berfikir panjang. Ingat lah semua kebaikannya bukan satu keburukannya.
Ibunda berharap semua keputusan mu, bisa membahagiakan mu.
Dan iya, tentang Nona Ingrid dia sudah di penggal karna mencoba melecehkan Duke Rachid dan Ayahnya juga di penggal karna dia berperan dalam rencananya.
Semoga Tuhan selalu melindungi mu.
^^^Ibunda mu.^^^
Putri Maya menutup kembali surat itu, ia menulis balasan untuk Permaisuri Anastasya.
__ADS_1
Ibunda Ku
Ibunda maaf, Putri mu ini selalu membuat Ibunda khawatir. Tapi tenang saja, Maya disini baik-baik saja. Dan untuk masalah Duke, biarkan Maya putuskan setelah selesai Akademik.
Ibunda, apa Ibunda tau. Arnoz anak dari Elisha berteman dengan Maya. Dia selalu mengikuti Maya kemana pun Maya pergi, menghibur Maya dan perhatian pada Maya. Tapi Maya tidak mau dengannya, karna Maya masih belum yakin dengan hati ini.
Maya berharap Ibunda selalu baik-baik saja disana. Maya menyayangi Ibunda.
^^^Putri mu, Maya.^^^
Setelah membalas surat itu, Maya menghampiri Sean yang sedang menunggunya dari jarak jauh. Putri Maya memberikan surat itu, "Terimakasih Kesatria Sean." ucap Putri Maya tersenyum.
Sean pun membungkuk hormat dan menaiki kudanya.
Putri Maya melihat ke arah langit, matahari tepat berada di atas kepalanya. Ia berniat meninggalkan taman itu, Namun di hentikan oleh sebuah suara.
"Putri Maya."
Putri Maya menoleh, ia melihat wajah yang tidak asing. Dilihat dari dekat ia tau, bahwa laki-laki di depannya adalah Kesatria Duke Rachid.
"Ada apa? aku tidak memiliki banyak waktu." ucap Putri Maya acuh.
Pengawal itu membungkuk, "Putri hamba mohon. Maafkan Duke Rachid. Hamba tidak tega Duke Rachid terlihat lemah. Bahkan tadi saja Duke Rachid bertengkar hebat dengan Bibi Diane hanya karna Duke Rachid mengusir Nona Hilda."
Putri Maya terbelalak, tapi ia harus bertahan. Ia tidak ingin menjadi lemah untuk laki-laki. Semua laki-laki harus di beri hukuman.
__ADS_1
"Anggap saja itu adalah hukuman untuk Duke." ucap Putri Maya dingin, ia meninggalkan pengawal itu yang masih menunduk.