Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
season 2_Kesedihan Kekaisaran Emerald


__ADS_3

"Yang Mulia," sapa Permaisuri Flavia melihat Kaisar Emerald memandang ke arah luar lewat jendelanya. Tatapannya menunggu matahari terbit, maka dia harus siap mendengarkan keputusan semua bangsawan.


Permaisuri Flavia memeluk ke tubuh Kaisar Emerald dari arah belakang, "Apa yang harus kita lakukan Yang Mulia. Bagaimana kita harus menghadapi malu ini."


Kaisar Emerald membalikkan tubuhnya, "Jangan menangis semuanya akan baik-baik saja." lirihnya tersenyum, sebenarnya hatinya sangat remuk saat ini.


"Apa kata Putri Viola Yang Mulia?" tanya Permaisuri Flavia, sebelum Putri Flavia pergi Permaisuri Flavia tidak bisa menanyakan keputusan, karna Putri Flavia hanya berbicara empat mata dengan Kaisar Emerald.


"Dia hanya menyuruh kita baik-baik saja. Dia hanya meminta kita untuk tidak khawatir."


"Hamba tadi sudah memberikan hukuman untuk Emma,"


Kaisar Emerald mengkerutkan dahinya, ia penasaran sebenarnya apa yang terjadi. Hingga Permaisurinya ini memberikan hukuman pada Emma, biasanya dia tidak akan tega memberikan hukuman jika hanya masalah kecil.


"Dia berani menampar Pangeran," sambungnya lagi, membuat darah Kaisar Emerald mendidih.


"Beraninya dia,"


Kaisar Emerald menuju ke kamar Pangeran Abigail. Namun disana terlihat salah satu pelayan yang kesusahan membujuk Pangeran Abigail agar membuka pintunya.


"Ada apa?" tanya Kaisar Emerald.


"Ampun Yang Mulia, Pangeran Abigail menolak untuk sarapan."


Seketika Kaisar Emerald tersadar, ternyata sudah pagi. Sebentar lagi dia akan mengadakan rapat tentang masalah ini.


"Pangeran, makanlah sarapan Pangeran. Ayah akan mencari solusi untuk hubungan Pangeran."

__ADS_1


Sekalipun aku merendahkan diri di depan Kaisar Alex, itu hanya demi kebahagiaan mu Pangeran batinnya.


"Pangeran makanlah, walaupun sedikit." ucap Permaisuri Flavia.


prank


Dari dalam terdengar pecahan vas bunga, Pangeran Abigail melempar vas bunga itu ke arah pintu, ia sudah tidak tahan mengingat kejadian tadi. "Diamlah ! aku hanya ingin sendiri." teriaknya.


Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia menunduk, "Biarkan saja dia istirahat dulu. Nanti kau kembali lagi." perintah Permaisuri Flavia pada pelayan itu.


"Ada apa Ibunda, Ayahanda?" tanya Pangeran Cyrk menatap ke arah dua orang itu bergantian.


"Kakak mu mengurung diri," jawab Permaisuri Flavia.


"Biarkan saja Ibunda, Kakak butuh waktu. Nanti biar hamba saja yang membujuknya."


Setelah menenpuh hampir 15 menit, Kaisar Emerald sampai di depan pintu bercat putih itu. Ia menghembuskan nafas kasar dan siap dengan keputusan yang ada.


Kaisar Emerald melangkah kan kakinya masuk ke dalam ruangan itu, hanya ada keheningan yang tercipta dan lirikan para bangsawan yang menunduk hormat.


"Mungkin kalian sudah tau masalah ini kan," seru Kaisar Emerald.


"Apa yang harus kita lakukan Yang Mulia? mau tidak mau kita harus siap menerima perang dari Kekaisaran Matahari." sanggah Duke Rezi.


"Benar, dalam permasalah ini. Pangeran telah sengaja menghina Kekaisaran Matahari." timpal Baron Wilton.


"Sebaiknya kita menikahkan saja Nona Emma dan Pangeran Abigail." seru Viscout Everett.

__ADS_1


Kaisar Emerald memijat pelipisnya, kepalanya seakan remuk memikirkan semua masalah istana di tambah lagi hubungan Pangeran Abigail.


"Beri aku waktu untuk memikirkan hubungan Pangeran Abigail dan hubungan dengan Kekaisaran Matahari." ucapnya.


"Baiklah, Yang Mulia kami hanya membutuhkan tiga hari."


Bagaikan disambar petir, Kaisar Emerald mematung. Bagaimana mungkin dengan waktu tiga hari semuanya harus di tentukan. Apalagi dia harus bertemu dengan Kaisar Alex lebih dulu, untuk meminta maaf.


"Baiklah," ucap Kaisar Emerald.


Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam.


Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia hanya berdiam diri, menunggu kedatangan sebuah surat dari Kekaisaran Matahari. Entah itu keputusan perang ia harus siap.


Sementara Pangeran Abigail memutuskan mengurung diri di dalam kamarnya.


Kamar yang awalnya terang kini gelap gulita, hanya ada sinar bulan dan angin malam yang menemaninya, hatinya yang penuh kesedihan.


Kadang ia menangis, kadang ia tertawa. Ya, dirinya sekarang sungguh menyedihkan. Kini hanya mampu memeluk lukisan indah di tangannya.


Lain halnya dengan Emma, tangannya penuh luka cambukan. Tapi dia tidak menyesal karna tangan itu lah yang melukai separuh hatinya.


"Pangeran." lirihnya..


Ditempat lain.


Terlihat kedua wanita yang hampir frustasi. Mereka tidak menemukan apa pun.

__ADS_1


Mungkin besok hari mereka harus kembali mencari. Di setiap sudut ruangan, mereka sudah hampir mencarinya. Namun hasilnya nihil. Sama sekali tidak menemukan apa pun. Yang ada, hanyalah suara nafas mereka yang sudah kelelahan.


__ADS_2