
Sesampainya di kamar, Kaisar Alex menatap lurus ke cerminnya yang besar se ukuran badannya. Hingga badan kekar itu terlihat jelas.
Perkataan Permaisuri Anastasya berputar di otaknya. Dirinya tidak terima dengan perkataan Permaisuri Anastasya.
Argh
Bruk
Tangan kanannya melayangkan tinju ke arah kaca itu.
Hingga kaca besar itu pun pecah seketika, darah segar keluar dari tangannya yang mengepal, "Aku tidak terima dengan perkataannya. Kenapa? aku bisa seperti ini. Kenapa aku harus merasakan sakit di dada ini. Aku tidak terima Anastasya," teriaknya
bruk
Tangan kirinya menambah hancurnya kaca itu, "Anastasya," geramnya memperkuat kepalan tangannya.
"Yang Mulia,"
Seru kedua pengawalnya yang terkejut melihat darah segar keluar dari cermin itu dan tentunya tangan Kaisar Alex masih setia disana.
"Diam," bentaknya dengan nafas yang memburu.
"Keluar," sambungnya lagi dengan berteriak Kaisar Alex.
__ADS_1
Kedua pengawal itu pun langsung menunduk hormat dan berlalu pergi. Mereka tak ingin menjadi santapan harimau besar.
"Sebenarnya ada apa dengan Yang Mulia? semenjak Yang Mulia keluar dari kamar Permaisuri wajahnya sudah seperti monster," ucap salah satu pengawal.
"Kita jangan ikut campur, aku masih sayang nyawa." jawab pengawal disampingnya.
Sementara Permaisuri Anastasya membaringkan tubuhnya di sofa dengan menyilangkan tangannya sebagai alas bantal di kepalanya. Matanya lurus melihat langit-langit berwarna putih.
"Hah, aku bosan jika seperti ini terus, sebaiknya aku mencoba untuk berbisnis, dan aku berharap aku bertemu dengan orang itu. Sebelum Elisha menemukannya." desahnya pelan.
Permaisuri Anastasya bangun dari tidurnya, ia keluar dari kamarnya bermaksud menemui Mery.
Sebelum menemukan Pelayan Mery, Permaisuri Anastasya berpapasan dengan Duke Rachid, Enzo dan Enzi.
"Hah kebetulan aku bertemu dengan kalian. Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu Duke. Ikut aku," ucap Permaisuri Anastasya, ia melangkah kan kakinya menuju ke ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamarnya.
"Sialahkan duduk," ucap Permaisuri Anastasya seraya duduk di sofa berwarna merah hati itu.
Duke Rachid duduk di depan Permaisuri Anastasya sedangkan Enzo dan Enzi duduk di samping saling berhadapan.
"Aku membutuhkan bantuan Duke Rachid ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Aku ingin berbisnis makanan dan minuman." jelas Permaisuri Anastasya.
"Hempz, Kenapa Permaisuri ingin berbisnis? apa Permaisuri ingin hamba menyerahkan keuangan istana untuk Permaisuri?" tanya Duke Rachid. Ia merasa bersalah, selama ini pembendaharaan ada di bawah pengawasan pelayan istana. Kaisar Alex bahkan enggan memberikan pembendeharaan itu pada Permaisuri yang seharusnya di pegang oleh Permaisuri.
__ADS_1
"Bu, bukan begitu. Aku sendiri hanya bosan. Duke tidak perlu menyerahkan itu. Biarkan saja pembendeharaan istana di bawah pengawasan kepala pelayan dan untuk bisnis ini Duke tidak perlu memberitau Yang Mulia."
"Hah," Duke Rachid hanya mampu menghela nafas kasar, ia sudah percaya jika Permaisuri mampu melakukan bisnis jika di lihat dari perubahannya.
"Aku ingin berbisnis kue dan teh susu yang pertama kali di minum oleh kalian. Untuk kuenya aku akan membuat resepnya sekaligus resep teh itu. Kalian hanya mencarikan tempat dan koki untuk ku." tutur Permaisuri Anastasya.
"Hem, baiklah Permaisuri. Hamba akan melakukannya. Permaisuri tidak perlu khawatir dan hamba akan mencarikan letak yang strategis." ucap Duke Rachid tersenyum lembut.
Tak selang beberapa lama. Pelayan Mery datang dengan membawa teh dan camilan untuk menemani perbincangan mereka.
"Enzo, Enzi dua hari lagi aku akan mengantarkan kalian ke akademik. Aku harap kalian tidak mengecewakan Ibu." ucap Permaisuri Anastasya membuat ketiga orang itu tertegun.
"Benar, aku menganggap kalian sebagai anak ku. Mulai sekarang kalian boleh memanggilku Ibu." jelas Anastasya tersenyum lembut.
Kedua mata Enzo dan Enzi berkaca-kaca. Merekapun langsung menghampiri Anastasya dan memeluk
nya dengan erat.
"Hiks, hiks, terimakasih terimakasih telah menyayangi kami." ucap Enzo.
"Heh, kalian adalah calon kesatria. Jadi tidak boleh lemah." ucap Anastasya seraya melepaskan pelukan mereka dan menatap satu persatu wajah Enzo dan Enzi. Permaisuri Anastasya pun menghujami mereka dengan ciuman di kening mereka.
"Hah, Yang Mulia sungguh beruntung mendapatkan istri seperti Permaisuri. Hanya saja dia yang tidak menyadarinya." batin Duke Rachid.
__ADS_1
Merekapun melanjutkan perbincangan mereka yang di selangi canda tawa.