Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_Ektra part_licik harus lebih lecik


__ADS_3

Disisi lain.


Putri Maya bersuka ria, ia melangkah demi selangkah menelusuri tiap pedagang. Siapa yang tidak kenal dengan Putri Maya, wajah cantik dan ceria serta suka menolong. Semua rakyat juga tau. Mereka juga tidak sungkan bicara langsung dengan Putri Maya. Kadang para rakyat menyampaikan apa yang mereka butuhkan. Putri Maya pun dengan antusiasnya mengangguk, ia akan mengatakan keluhan dan kebutuhan rakyat. Tapi langkahnya berhenti ketika ia melihat sesosok yang ia kenal bersama dengan wanita lain.


"Paman," Putri Maya mundur, ia terus mengintip kedua orang itu yang sedang membeli sebuah bunga.


"Untuk apa Paman membelikan dia bunga, oh tidak bisa. Paman milikku." Putri Maya mengepalkan tangannya, "Paman." teriak Putri Maya yang langsung menghampiri mereka.


Duke Rachid dan Nona Ingrid menoleh.


Deg


Pikiran Duke Rachid buntu, lagi-lagi dia bertemu dengan Putri Maya dalam keadaan bersama Nona Ingrid. Padahal tadinya mereka tanpa sengaja berpapasan.


"Paman," ucapnya menatap Duke Rachid lalu menaikkan alisnya ke arah Nona Ingrid.

__ADS_1


"Emm, Anu Putri. Maaf tadi hamba bertemu dengan Duke disini. Jadi hamba minta maaf, tolong Putri Maya tidak salah paham dengan Duke." ucap Nona Ingrid menunduk. Ia menunduk ketakutan, seakan-akan dirinya bersalah.


Sementara Duke Rachid kehabisan penjelasan, ia tidak tau lagi harus menjelaskan bagaimana. Ia takut permasalahan dengan tunangannya bertambah panjang. Bahkan sampai sekarang Putri Maya masih mendiaminya.


Putri Maya ingin marah. Namun ia teringat dengan pesan Anastasya tidak boleh ceroboh, jika licik harus lebih licik. Ia harus bisa menahan emosinya, ia tidak ingin terlihat buruk lagi di depan Duke Rachid.


"Aku tidak mempermasalahkannya, Lagi pula aku dengan Duke sudah berbaikan. Ya sudah lah, dan itu bunga mawar putih itu dan bunga lili itu untuk siapa?" tanya Putri Maya.


"Itu untuk Putri, sebenarnya tadi hamba berniat memberikannya untuk Putri sebagai tanda permintaan maaf. Karna hamba tau, kesukaan Putri hanyalah bunga mawar putih." seru Duke Rachid, hatinya merasa senang karna Putri Maya sudah memaafkannya.


"Em, Iya Nona Ingrid atas perbuatan ku yang kemarin. Emm aku minta maaf. Karna sebuah alasan cemburu. Aku mendorong mu." tutur Putri Maya tersenyum.


Jika bukan karna rencana licik mu, mana mungkin aku mau meminta maaf. Hey, aku Maya De Lexius Putri Kaisar Alex dan Anastasya yang gagah berani. Mana mungkin aku kalah dengan ulet tempel seperti mu. Jangan salah kan aku jika aku bisa berbuat lebih licik.


Segera ia menggandeng tangan Duke Rachid dan berlalu pergi meninggalkan Nona Ingrid yang menahan amarah.

__ADS_1


"Ternyata dia ingin memanasi ku," ucapnya seraya meremas gaunnya. "Lihat saja nanti, seberapa besar Duke Rachid bertahan dengan Putri bar-bar seperti mu." Sambungnya lagi.


Setelah dirasa jauh, Putri Maya melepaskan tangannya. Ia menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. "Duke, aku minta maaf."


Duke Rachid menghentikan langkah kakinya, "Kenapa Putri minta maaf justru hamba yang salah." ucapnya.


"Aku juga egois, aku minta maaf dan jangan berbicara formal. Lagi pula tidak ada orang lain." ucap Putri Maya.


Jika di luar Duke Rachid akan berbicara formal, karna statusnya masih seorang Duke bukan suami Putri Maya.


"Bukan tidak ada orang Putri, disini masih ramai."


"Sudahlah mereka juga tidak akan mendengar." ucap Putri Maya dan memperlihatkan gigi rapinya.


"Hem, sebagai tanda permintaan maaf. Ayo kita jalan-jalan, Sayang ku." Ajak Duke Rachid menarik hidung Putri Maya.

__ADS_1


Kedua orang itu, tertawa bersama. Mereka tak sungkan mengunjungi semua toko, makan dan shoping. Tak terasa Putri Maya sampai di istana pada sore hari di antar oleh Duke Rachid. Sebelum Putri Maya pergi Duke Rachid sempat mencium kening dan bibirnya saat masih di dalam kereta. Putri Maya turun, langkah demi langkah ia berbalik lalu melambaikan tangannya. Duke Rachid pun langsung membalas lambain Putri Maya.


__ADS_2