
Dengan langkah yang melebar Kaisar Alex langsung menuju ke sebuah ruangan yang lumayan jauh dari istana depan. Kaisar Alex terus mengeluarkan urat tangannya. Nafasnya naik turun dengan amarah yang mulai naik pitam.
Tangan itu tidak sabar ingin meninju seseorang dan
Brak
Pintu itu pun terbuka lebar, Kaisar Alex langsung masuk. Tatapannya tajam bak harimau yang akan menerkam mangsanya. Tanpa basa basi Kaisar Alex berlari kecil meninju seseorang yang tersenyum meremehkannya.
Bruk
Kaisar Alex meninju perutnya, laki-laki itu pun mundur sempoyongan ke belakang. Kaisar Alex tidak menyerah tangan kirinya meninju pipi kanan laki-laki di depannya itu hingga darah segar keluar dari mulutnya.
"Brengsek, beraninya kau menyentuhnya." bentaknya, lagi-lagi Kaisar Alex meninju pipinya.
Laki-laki itu pun terjatuh ke lantai, ia mengelap darah yang keluar dari mulutnya.
"Dia memang menikah dengan mu dan aku adalah kau, kau adalah aku. Jadi wajar bukan, jika aku menyentuhnya."
Kaisar Alex berjongkok, ia mencengkram kerah bajunya, "Jangan berharap bisa menyentuhnya. Kau hanyalah bayangan ku saja. Kaisar Alex tetap bertahan dengan tubuhnya yang merasakan perih. Lebih perih dari hatinya yang sekarang terbakar amarah.
Hahaha
"Dimata hukum aku juga menikahinya, bukankah wajah kita mirip? ah, aku tidak sabar ingin menyentuhnya."
"Diam," teriak Kaisar Alex menghempaskan tubuhnya ke tembok dan berlalu pergi.
Matanya panas, telinganya panas dan hatinya juga panas. Badan Kaisar Alex terasa terbakar.
__ADS_1
Sesampainya di kamarnya, kaisar Alex masuk ia mendapati Elisha yang tidur di ranjangnya.
"Keluar Elisha," ucapnya datar.
"Yang Mulia hamba.."
"Keluar Elisha," bentak Kaisar Alex memotong perkataan Elisha.
Elisha pun yang merasakan ketakutan, ia pergi dengan hati kecewa. Kaisar Alex duduk di tepi ranjangnya, ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Perkataan Anastasya dan dirinya sendiri yang tak lain Pangeran Gabriel terus berputar di otaknya. Kaisar Alex melangkah kan kakinya menuju kamar mandi. Ia menenggelamkan tubuhnya di bathtub yang di penuhi aroma mawar.
Tak terasa matahari telah menyapa. Burung pun telah meninggalkan sarangnya bermaksud mencari makan untuk anak-anaknya. Bahkan para bunga di istana telah mekar menyambutnya sang matahari. Butiran putih telah turun tak terasa musim dingin telah tiba.
Sementara di ruangan terlihat wanita cantik memakai gaun berwarna hijau muda dengan lipatan kuning di bagian perutnya. Rambutnya yang kriting gantung di biarkan terurai.
"Hormat hamba Permaisuri, Duke Rachid telah datang." ucap salah satu pelayan.
"Terimakasih Mery," ucap Permaisuri Anastasya tersenyum.
Sesampainya di depan kamar, Permaisuri Anastasya melihat Duke Rachid, Enzo dan Enzi yang telah berpakain rapi. Duke Rachid sempat terpana melihat Permaisuri Anastasya yang tampil sederhana namun elegan, tidak mengurangi aura kecantikannya.
"Oh, Enzo dan Enzi juga ikut. Baiklah, Ayo." ucapnya Permaisuri Anastasya tersenyum.
Duke Rachid segera sadar, ia mengikuti Permaisuri Anastasya yang menggandeng tangan Enzo dan Enzi.
Kereta istana pun berjalan melewati pintu depan istana.
"Permaisuri sungguh cantik," puji Enzi tampa berkedip melihat Anastasya di depannya.
__ADS_1
"Siapa dulu, kan Ibundanya Enzi dan Enzo." jawab Anastasya terkekeh.
Selama di dalam kereta hanya ada suara tertawa yang memecahkan keheningan. Sesekali Duke Rachid tersenyum mendengarkan candaan di dalam kereta. Sedari tadi ia berjalan menaiki kuda di samping mereka. Hingga dia mendengarkan godaan Permaisuri Anastasya.
Tak terasa kereta istana telah sampai di kota. Permaisuri Anastasya turun dari dalam kereta kuda di ikuti Enzo dan Enzi. Ia celingak celinguk kanan kiri melihat orang berlalu lalang. Sudah lama dia tidak keluar istana semenjak Kaisar datang dan hari ini dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk berjalan-jalan.
"Permaisuri, Ayo." ucap Duke Rachid tersenyum hangat. Ia menyambut tangan Permaisuri Anastasya memasuki sebuah toko di depannya.
"Duke apa ini tokonya?" tanya Permaisuri Anastasya melihat toko yang lumayan luas dan berlantai dua.
"Benar Permaisuri. Hamba sudah bernegosiasi dengan pemilik toko ini dan toko ini telah resmi menjadi milik Permaisuri hanya saja hamba tidak tau toko ini cocok atau tidak, jika tidak cocok hamba bisa mencarikan yang lain." tutur Duke Rachid.
"Baiklah, Ayo kita masuk kedalam." ucap Anastasya melangkahkan kakinya masuk kedalam toko itu.
Anastasya melihat sekeliling toko itu, dinding toko itu dan rak toko itu. Tak lupa Permaisuri Anastasya memeriksa lantai yang ia tapaki. Ia mengelap lantai itu dengan jari telunjuknya. Hasilnya memuaskan sangat bersih...
"Baiklah, aku akan memulai besok. Apa Duke telah menemukan koki?" tanya Anastasya yang masih memperhatikan sekeliling toko.
"Untuk masalah itu Permaisuri tidak perlu khawatir." jawab Duke Rachid.
Permaisuri Anastasya melangkah kan kakinya menuju lantai atas, ia berdiri di balkom atas melihat orang yang keluar masuk kedalam toko. Anastasya masih saja melihat sekitarnya tanpa berkedip. Hingga tatapan itu tertuju ke seseorang yang berpakain compang camping.
Orang itu......
#Baca komenan kakak, semuanya pengen Kaisar Alex menderita. Pengen Anastasya pergi. Pengennya Anastasya sama Kaisar Alex, Pengenya Anastasya sama Pangeran Gabriel, Ekhem semuanya butuh proses kak. Gak mungkin pas author ngasik tiba2 Anastasya bahagia yang ada malah End. Inikan masih Bab berapa kak🤭 hem hem.
Dan kenapa author ngasik lambat, kapan bahagianya? inikan ceritanya masuk dunia novel kak. 🤧🤧🤧
__ADS_1
Oea maaf kakak gak bisa balas komen satu2, maunya balas komen tapi jempolnya dah kriting🤭