
Tak terasa pesta pun telah usai. Kini semua keluarga Duke Rachid dan Pangeran Almeer tengah membaringkan tubuhnya di kamar masing-masing yang telah Duke Elios siapkan untuk mereka.
Sementara Michelia mendengarkan langkah seseorang yang mendekatinya. Saat ia merasakan orang itu semakin mendekat, Michelia langsung menggenggam tangannya. Ia mengeluarkan auranya hingga orang itu meringis kesakitan.
Michelia membuka matanya, ia langsung melepaskan tangan laki-laki itu.
"Viscount." Ujar Michelia melihat ke arah laki-laki yang sedang memegang lengannya.
"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?" mata Michelia beralih ke tangan Viscount. "Dhu, pasti panas kan." Michelia bingung, ia menarik pakaiannya ke atas. Melihat kulit itu memerah. Ada rasa kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak mengeluarkan semua kekuatannya.
Michelia meniup lengan yang memerah itu. "Ini pasti sakit, aku akan memanggilkan Mery." Ujar Michelia yang langsung di cegah oleh Viscount Elca. "Jangan, semua orang akan tau, kalau aku ada di sini. Biarkan saja, ini tidak apa-apa. Hanya merah." Ujar Viscount Elca menurunkan pakaian lengannya.
"Jangan, biarkan aku meniupnya. Bagaimana kalau tambah parah?" Michelia kembali meniup lengan Viscount Elca.
"Terima kasih telah mengkhawatirkan ku,"
__ADS_1
Michelia menghentikan tiupannya, ia mendonggakkan wajahnya. "Kenapa kamu selalu bercanda, lain kali jangan seperti ini." Kilah Michelia, ia tidak mau membahasnya. Ujung-ujungnya akan mengarah pada hubungannya.
"Aku senang kamu mengkhawatirkan ku, seandainya aku mati, apa kamu akan menangis?" tanya Viscount Elca seraya duduk berjongkok. Ia merebahkan kepalanya di atas paha Michelia.
Michelia memejamkan matanya, ia mengelus kepala Viscount Elca lalu menatap manik hitamnya dan menggenggam tangannya, rasanya sangat sulit mengungkapkan semuanya. Sulit untuk membicarakannya. Ia menarik lengan Viscount Luis, menjatuhkan dirinya ke dalam pelukannya. "Lain kali jangan berbicara seperti itu lagi." Ujar Michelia seraya mengelus punggung Viscount Elca. Ia mencium bahunya, menghirup aroma wangi tubuhnya.
Viscount Elca yang terkejut pun tersadar, ia membalas pelukan Michelia dengan erat. Biarkan ia menjadi orang yang egois. "Aku mencintai mu, Nona Michelia."
Michelia melepaskan pelukannya, meskipun dia juga mencintainya. Akan ada masalah, dan tentunya tidak mudah mempertahankan hubungannya ke depannya. "Kita tidak bisa bersama Viscount." Michelia menggenggam tangan laki-laki di depannya. "Akan ada orang yang kita sakiti."
"Tidak bisakah kita bersama, aku, aku tidak mencintainya. Jujur saja, aku menikahinya karena kasihan dan anak di dalam kandungannya bukan anak ku. Aku hanya menjaganya dengan lewat sebuah pernikahan. Aku mohon Michelia, jangan menghindari ku." Ujar Viscount Elca dengan wajah memohon dan air mata yang mulai keluar dari tempatnya.
Ada rasa senang di hati Michelia. Ia salah sangka, ia kira Viscount Elca akan mempermainkannya dan istrinya. Ternyata anak di dalam kandungannya bukanlah darah dagingnya. Seberapa besar rasa cintanya Viscount Elca padanya, hingga Viscount Elca harus menjelaskan semuanya. Akan tetapi tidak bisa di pungkiri, Viscount Elca tetaplah menjadi seorang suami. Ia tidak boleh egois.
"Sebaiknya Viscount kembali ke kamar, jangan sampai ada yang melihat." Kilah Michelia. Ia tidak ada niatan melanjutkan perkataan Viscount Elca.
__ADS_1
"Aku masih merindukan mu," Michelia menghapus pipi yang basah itu. "Besok kita bisa bertemu kembali, sebaiknya Viscount tidur dan jangan lupa obati lengan mu."
"Tapi ... " Viscount Elca tidak berniat meninggalkannya, ia masih di landa beribu-ribu rindu di hatinya.
"Jangan membantah ! atau kita tidak akan bertemu." Tegas Michelia.
"Ba-baiklah, aku akan ke kamar." Ujar Viscount Elca dengan takut. Sekilas ia mendaratkan bibirnya dengan bibir Michelia meskipun hanya saling menempel. Viscount Elca pergi meninggalkan Michelia yang membeku dengan rasa senang di hatinya. Sebelum dia turun dari balkom, Viscount Elca menoleh, ia memberikan senyuman terbaiknya itu.
"Aku mencintai mu."
tok
tok
tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu itu menyadarkan Michelia, ia turun dari ranjangnya menuju ke arah pintu dengan perasaan gugup. Dengan ragu-ragu, Michelia memutar hendle pintu itu. Ia berdoa, semoga tidak ada yang tau kedatangan Viscount Elca ke kamarnya. Setelah pintu itu terbuka, Michelia membuka matanya dengan lebar-lebar.
"Liera," ucap Michelia.