
"Maksud Putri, hamba yang tua ini tidak bisa menikah?" tanya Nona Ingrid seraya menggertakkan giginya.
Putri Maya mengangkat sudut bibirnya, "Kapan aku bilang Nona Ingrid tua?" Tanya balik Putri Maya.
Sejenak Nona Ingrid diam, ia sudah kehabisan kata-kata lagi. Ingin sekalinya ia melayangkan tangannya, tapi masih bisa di tahan.
"Aku harap Nona bisa menjaga batasan Nona dengan tunangan ku." ucap Putri Maya dengan nada dingin. "Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari status ku." sambungnya lagi.
Sialan, beraninya dia menekan dengan status batinnya menggeram
"Nona Ingrid kenapa masih disini?" Sebuah suara yang mampu membuat kedua wanita di depannya menoleh.
Putri Maya yang hanya diam saja seraya melirik ke arah Nona Ingrid yang memberikan senyuman pada Duke Rachid.
Menggelikkan batinnya
"Maaf Yang Mulia, saya hanya ingin menyampaikan sebuah surat." tuturnya lembut seraya menunduk.
Duke Rachid menatap Putri Maya yang sudah mulai kesal. "Bukankah tadi aku sudah mengatakan
"Tapi saya,"
"Maaf Nona Ingrid, aku tidak ingin membuat tunangan ku marah dan menimbulkan ke salah pahaman di antara tunangan ku sekaligus pada Yang Mulia Kaisar." Potong Duke Rachid dengan tegas.
__ADS_1
"Paman, ini undangannya." ucap Putri Maya seraya menyodorkan undangan ke arah Duke Rachid. Ada ras keraguan di hati Duke, jika ia tidak menerima sama saja dia merendahkan martabat seorang bangsawan dan jika dia menerima sudah jelas Putri Maya akan mendiaminya lagi. Sejenak ia berfikir harus apakan surat undangan itu tiba-tiba otaknya tak butuh lama.
"Kenapa kalian diam? cepat ambil suratnya." perintah Duke Rachid menatap dingin ke arah kedua Kesatrianya itu.
Dengan sigap salah satu dari kedua Kesatria mengambil dan lansung menunduk kembali.
"Baiklah Nona Ingrid, aku harus menemani tunangan ku lebih dulu." Duke Rachid memeluk pinggang Putri Maya dan berlalu pergi.
Bibir Nona Ingrid bergetar, ia tidak terima di perlakukan seperti ini. Ia harus mendapatkan cintanya dengan cara halus, bagaimana pun caranya.
"Ayo kita pergi." ucapnya dengan menahan amarah.
Sedangkan di sisi lain.
"Sayang." bujuk Duke Rachid, ia sudah paham jika Putri Maya sedang marah.
"Kenapa Paman tidak mengusirnya?" tanya Putri Viola.
"Sayang jangan marah," Duke Rachid kembali membujuk Putri Maya, ia mencoel pipi Putri Maya, berniat untuk menggodanya. Di iringi senyum mautnya.
"Jangan tersenyum, Paman jelek sekali."
Duke Rachid masih merelakan senyumannya, walaupun hatinya menangis darah karna tusukan Putri Maya.
__ADS_1
"Sayang jika Paman mu ini jelek, lalu kenapa Tunangan ku ini tidak mau jauh dari Pamannya semenjak kecil, bukankah saat waktu kecil, Putri Maya selalu mengatakan tampan?"
Putri Maya berdecak pinggang, "Itu karna aku masih kecil dan terlalu polos. Andai saja aku tau, aku tidak akan."
"Jangan mengancamkan ku dengan meminta membatalkan pertunangan." potong Duke Rachid dengan tajam. Perkataan Putri Maya membuat pikirannya berfikir macam-macam.
Putri Maya mengkerutkan dahinya hingga membuat kedua alisnya menyatu.
"Kapan aku akan bilang akan membatalkan pertunangan?" tanya Putri Maya.
Duke Rachid memejamkan matanya, ia langsung memeluk Putri Maya. "Syukurlah jika Putri tidak mengatakan hal itu. Aku mohon jangan sampai perkataan itu keluar dari mulut Putri. Aku takut Putri," lirihnya dengan suara bergetar.
Putri Maya tersenyum, ia membalas pelukan Duke Rachid. "Paman tenang saja, aku tidak akan pernah membatalkan pertunangan ini. Aku akan selalu ada di samping Paman." balas Putri Maya.
"Maka dari itu, aku mohon Putri menjaga hati Putri." Duke Rachid melepaskan pelukannya, tanpa sadar air mata turun membasahi pipinya. Hatinya begitu takut saat teringat Putri Maya akan meninggalkannya.
"Aku takut Putri akan berubah, apalagi sebentar lagi Putri akan kembali ke akademik."
Putri Maya mengacak rambut Duke Rachid, "Jika pun aku jauh, tapi hati ku dekat di hati Paman. Tenang saja Paman, aku akan menjaga hati ku dengan baik. Begitu pula dengan Paman."
"Apa sebaiknya Putri tidak usah melanjutkan Akademik? langsung saja kita menikah."
"Aku juga ingin menikah Paman, tapi belum waktunya." jawab Putri Maya, ia berjinjit lalu mencium lembut bibir Duke Rachid. Membuat wajahnya memerah bak kepiting rebus.
__ADS_1