
"Tunggu Pangeran, jangan memukulinya lagi." Ujar Duchess Caroline sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini semua salah ku, aku sebagai ibunya tidak bisa menjaganya dengan baik. Akan tetapi, apakah perasaanya salah mencintai orang lain. Tidak ada yang bisa menumbuhkan cinta Pangeran."
Ia bersyukur mencari udara malam dan menemukan hal mengerikan seperti saat ini. Bagaimana jadinya jika ia tak keluar malam. Mungkin hati Viscount Luis akan hancur melihat putranya menangis.
Pangeran Almeer melepaskan kerah baju Viscount Elca. "Tidak salah, tapi tempatnya salah. Aku menghargai Duchess, karena mengingatkan ku pada Ibu ku yang begitu menyayangi anak-anaknya. Tetapi aku mohon, jangan teruskan hubungan ini. Aku tidak ingin, Adik ku sakit hati."
"Pangeran !" Semua orang menoleh ke asal suara. Mereka melihat seorang wanita tersenyum di atas kursi rodanya. "Suami ku tidak bersalah, jangan menyalahkan perasaanya."
Pangeran Almeer tertawa mengejek, baru saja dia meminta hal gila dan sekarang muncul di permukaannya, ya permukaannya bukan di depannya. "Terbuat apa hati mu? membiarkan suami mu berkeliaran." Pangeran Almeer menyilangkan kedua tangannya di dada, ia menatap Liera sambil menggigit bibir bawahnya. "Apa kamu membiarkannya menikah? lalu menyusun rencana, menjadikan adik ku sebagai lelucon." Tuduh Pangeran Almeer.
"Pangeran beribu maaf, tapi nyonya tidak akan seperti itu." Jawab sang pelayan. Ia tidak terima majikannya di tuduh begitu saja. Ia tau, hatinya sudah sakit dan hancur. Ia bertahan hanya demi menjalankan kewajibannya sebagai orang istri.
__ADS_1
"Lalu maksud mu adik ku bersalah, pelayan seperti mu tau apa?" ejek Pangeran Almeer. Melihat matanya saja, ia tau pelayan itu tidak menyukai dirinya dan juga adiknya. Sepertinya menyimpan sebuah benci.
"Sudahlah, anggap saja hari ini, hari terakhir. Tidak akan ada lagi yang mengungkitnya." Pangeran Almeer membalikkan tubuhnya ke kanan. Ia menatap ke arah pelayan tadi, kemudian menunjuknya. "Jangan sampai kamu melukai adik ku. Aku tidak akan membiarkannya, simpanlah rasa benci mu itu." Pangeran Almeer menatap semua orang.
"Permaisuri Anastasya dan Yang Mulia Kaisar Alex tidak akan menerima penghinaan."
"Maafkan putra ku Pangeran." Ujar Duke Elios tiba-tiba menghentikan langkah Pangeran Almeer. Ia tidak menyangka melihat semua ini, melihat putranya dan Liera terjatuh karena kecerobohannya. Seandainya dulu ia tak menyanggupi kedua suami istri itu tidak akan saling menyakiti. "Aku lah yang salah."
"Aku yang salah."
"Aku tidak menyangka, aku kagum pada orang tua seperti kalian. Meminta maaf atas kesalahan putranya."
__ADS_1
"Aku tidak akan mengungkitnya lagi, tapi tolong jangan memaksa adik ku. Biarkan dia mencintai orang lain."
Viscount Elca merasakan dadanya semakin panas. Tidak akan bisa bagi dirinya melihat wanita di cintainya bersama orang lain. Lebih baik ia tidak bisa melihat dari pada harus menerimanya. "Lebih baik aku buta dari pada aku harus melihatnya." Lirih Viscount Elca mengeluarkan air matanya.
"Kakak !" pekik Anabella.
"Aku akan rela di ceraikan oleh Viscount Elca. Asalkan dia bisa menikah dengan Nona Michelia." Seketika semua orang terkejut. Lain halnya dengan pelayannya, ia sama sekali tidak menerima pengorbanan majikannya.
Pangeran Almeer menghembuskan nafas kasarnya. "Lihatlah ! betapa egoisnya dirimu Viscount? ada cinta begitu besar di hatinya. Setidaknya kamu menghargainya. Cobalah untuk mencintainya." Ujar Pangeran Almeer.
"Sadarlah, cintanya begitu besar," ujar Pangeran Almeer berlalu pergi.
__ADS_1