
Setelah selesai keliling sungai semi serta puas dengan pemandangannya. Kaisar Alex dan Anastasya memutuskan pulang. Tak terasa mereka sampai ke istana pada malam harinya.
"Hormat hamba, Yang Mulia dan Permaisuri." ucap Hector yang sedari tadi menunggu kedatangan junjungannya.
"Ah, Iya bagaimana dengan Putri Viola apa dia rewel?" tanya Anastasya melihat ke arah Hector.
"Putri Viola sangat patuh Permaisuri, semenjak kepergian Permaisuri dan Yang Mulia, Putri Viola tidak rewel, tapi Tuan Kendrix, Arnoz dan Elisha berkunjung kemari Permaisuri,"
Seketika Kaisar Alex menatap tajam ke arah Hector, "Kenapa membiarkan mereka masuk ke istana? bagaimana jika Putri Viola di celakai?" bentak Kaisar Alex dengan suara meninggi.
Hector pun hanya menunduk ketakutan, badannya sudah gemetar merasakan aura dingin yang menyelimuti tubuhnya itu.
"Yang Mulia," seru Anastasya mengelus tangan Kaisar Alex, "Tidak akan terjadi apa-apa dengan Putri Viola," sambungnya lagi, sebisa mungkin ia menenangkan Kaisar Alex agar emosinya tidak meledak.
"Kenapa Permaisuri sangat mempercayainya?" bentak Kaisar Alex, ia berlari menuju ke kamar Putri Viola. Kaisar Alex menaiki tangga utama dengan berlari, kekhawatiran mulai menjalar di hatinya. Sesampainya disana Kaisar Alex melihat Putri Viola di gendongan pelayan Mery, ia juga melihat Kendrix, Arnoz, dan Elisha.
__ADS_1
"Yang Mulia," seru mereka serempak yang terkejut melihat kedatangan Kaisar Alex. Seketika aura di ruangan itu mencengkam.
"Yang Mulia," Anastasya menarik lengan Kaisar Alex, ia memasuki kamar Kaisar Alex yang tak jauh dari kamar Putri Viola.
"Kenapa Permaisuri menarik ku? bagaimana jika terjadi sesuatu pada Putri kita?" Kaisar Alex tidak sadar jika dirinya membentak Anastasya.
"Yang Mulia," seru Anastasya dengan lembut, ia tidak akan ikut terpancing emosi. Karna ia tau kekhawatiran Kaisar Alex.
"Duduklah, Yang Mulia harus meredakan amarah Yang Mulia,"
"Hemz, satu minggu hamba tidak akan memberikan jatah," ancam Anastasya.
Seketika Kaisar Alex duduk di sofa itu, ia mengusap wajahnya dengan pasar. Sekuat mungkin ia menahan amarahnya.
Anastasya menggenggam tangan Kaisar Alex, "Hamba tau Yang Mulia khawatir, tapi tolong. Elisha sudah berubah Yang Mulia."
__ADS_1
"Jangan terlalu mempercayainya Permaisuri, sampai mayatnya busuk pun aku tidak percaya." ucap kaisar Alex menatap Anastasya.
"Hamba sudah memberikan Mantra Kutukan padanya, hamba tidak tau Mantra itu masih berlaku apa tidak. Karna hamba sekarang tidak memiliki simbol itu,"
Kaisar Alex terkejut, ternyata Permaisurinya mengancam Elisha dengan Mantra Kutukan, rupanya dia tidak tau hal itu. Semenjak dirinya luka parah, tidak ada yang berani keluar dari ruang rahasianya. Ketua dan pengawal setia nya hanya fokus pada pengobatannya itu. Tetapi ia juga merasa bersalah saat Anastasya mengingat simbol itu.
"Maaf Permaisuri, andai saja aku tidak membangkitkan Pangeran Gabriel. Mungkin simbol itu, masih ada di tubuh Permaisuri."ucap Kaisar Alex dengan wajah sendu. Siapa pun orang pasti berharap di dalam tubuhnya mempunyai simbol, semua orang juga tau, saat seseorang memiliki simbol. Mereka akan dianggap berharga.
"Sudahlah hamba tidak ingin membahasnya, hamba hanya ingin Yang Mulia menenangkan pikiran dan hati Yang Mulia. Baru kita menemuinya."
Segera Kaisar Alex memeluk Anastasya, "Maaf Permaisuri, aku tidak sadar tadi marah-marah dengan mu." lirihnya. Hatinya kembali tenang saat dirinya berada dalam pelukan hangat Anastasya.
"Apa Yang Mulia sudah baikan? mari kita menemuinya,"
Kaisar Alex mengangguk, ia menggenggam tangan Anastasya agar terlepas dari amarahnya.
__ADS_1
#Hey kak, saya pengen lanjutkan season 2nya. Apa perlu yaa saya lanjutkan di novel ini sajaš¤ tapi lok season 2 nya sudah keluar dari novel, cuman berkisah Putri Viola sajaš¤