Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 75_ingin membangkitkan


__ADS_3

Deg Deg Deg


Sedikit lagi jantung Kaisar Alex akan melompat dari sarangnya. Pikirannya pun mulai bertanya-tanya, apa yang dia harus lakukan? apakah dia harus berbalik? apakah Permaisuri akan menanyakan wajahnya? apakah Permaisuri akan jijik melihatnya? semua pertanyaan itu mulai berputar di kepalanya. Darahnya seakan berdesir, ingin dia berbalik tapi hatinya ada rasa ketakutan.


"Yang Mulia," Kaisar Alex berniat melepaskan tangan Anastasya yang memegang lengannya.


Anastasya menarik lengan Kaisar Alex sekuat tenaga, tubuh Kaisar pun terjatuh di atas tubuh Anastasya. Ia memperhatikan bola mata Kaisar Alex yang sedang menggenang.


"Kenapa Yang Mulia menghindari hamba?"


Anastasya mengelus pipi Kaisar Alex yang tidak memakai topeng, ia meraba dagu Kaisar Alex yang telah di tumbuhi bulu-bulu halus. Dulu Kaisar Alex memanjakan tubuhnya, wajahnya bersih dan halus menambah pesonanya. Dan sekarang wajahnya tidak terawat lagi, tapi tidak mengurangi pesonanya.


"Permaisuri," Kaisar Alex menangis di dekapan Anastasya. Sementara Anastasya mengelus punggung Kaisar Alex. Hatinya begitu terharu sekaligus khawatir.


"Kenapa Yang Mulia melakukannya? kenapa Yang Mulia tidak pulang, tidak menemui hamba."


Kaisar Alex semakin dilanda bersalah, "Aku, aku," Kaisar Alex menjeda, tubuhnya semakin bergetar, "Aku takut Permaisuri akan jijik melihat ku."


"Jijik kenapa Yang Mulia?"


Kaisar Alex mendonggakkan wajahnya, mereka saling menatap. Kedua tangannya, ia gerakkan ke wajah Kaisar Alex yang memakai topeng.


Ia membuka topeng itu dengan hati-hati


dan

__ADS_1


Anastasya membulatkan matanya, melihat luka bakar separuh di wajah Kaisar Alex.


"Yang Mulia sebenarnya ada apa?" Kaisar Alex yang masih dalam tangisannya, ia menceritakan semuanya seraya sesegukan. Baru kali ini dirinya menunjukkan kelemahan pada orang lain. Selama ini dirinya hanya ingin di lihat sebagai orang kuat, walaupun memiliki kelemahan dalam hati dan sekarang ia tidak bisa lagi berpura-pura. Ia ingin menunjukkan kelemahannya pada sang istri.


"Pasti Yang Mulia mengalami kesakitan yang luar biasa," ucap Anastasya menerawang saat Kaisar Alex ingin menyembuhkan lukanya.


"Sedikit, tapi tidak sesakit berjauhan dengan mu."


Anastasya terkekeh geli mendengarkan jawaban Kaisar Alex. "Kenapa Permaisuri tertawa? apa Permaisuri tidak merindukan ku?"


Kaisar Alex yang merasa jengah, ia bangun dari tubuh Anastasya dan memilih duduk di sampingnya.


"Berarti aku tidak bisa bertemu dengan Pangeran Gabriel,"


Kaisar Alex mendekik, Bagaimana mungkin Permaisurinya masih menanyakan Pangeran Gabriel di saat hatinya hanya ingin Permaisurinya melihatnya seorang.


"Aku akan memilih keduanya, karna kalian adalah satu jiwa. Aku tidak bisa memilih di antara kalian, bagaimana pun juga kalian adalah suami ku."


Kaisar Alex menatap Anastasya, sedangkan Anastasya yang merasa di tatap. Ia mengerti Kaisar Alex begitu khawatir takut kehilangannya.


"Aku ingin membangkitkan nya kembali,"


Anastasya menggenggam tangan Kaisar Alex, "Tidak perlu Yang Mulia. Bagi ku sama saja."


"Tapi aku rasa semua ini tidak adil Permaisuri. Dialah yang menjaga Permaisuri sudah sepantasnya aku berbagi dengan jiwa ku yang lain. Setidaknya aku menghargainya selama aku mengabaikan Permaisuri. Dia lah yang selalu menemani Permaisuri, Dia lah yang selalu melindungi Permaisuri sampai titik terakhir."

__ADS_1


"Apa Yang Mulia bisa membagi ku dengan nya?"


Kaisar Alex menggeleng, "Setidaknya Permaisuri harus berbuat adil dengan kami."


Kapan lagi aku buat harem cogan batin Anastasya ingin melompat kegirangan


"Jika hal itu bisa membahayakan Yang Mulia, maka tidak perlu." ucap Anastasya, ia tidak ingin membahayakan tubuh Kaisar Alex.


"Aku akan mencari caranya Permaisuri. Baiklah aku harus pergi dulu menemui Ketua."


Kaisar Alex mencium kening Anastasya dan menuju lukisannya. Ia menurunkan lukisannya, lalu masuk.


Sesampainya di depan Ketua, Kaisar Alex duduk di ranjangnya. Ia melihat ke arah pria paruh baya itu, "Apa aku bisa membangkitkan dirinya kembali?"


Sang Ketua terhentak, "Tidak mungkin Yang Mulia, tindakan itu bisa membahayakan Yang Mulia."


"Aku hanya ingin dia bangkit, dia juga jiwa ku."


"Yang Mulia,"


"Setidaknya ada yang lain, yang bisa menjaga Permaisuri. Kamu tau sendiri kan, kondisi ku seperti ini. Wajah ini mengerikan, mau di taruh mana wajah Permaisuri jika mereka semua tau wajahku." ucapnya menghembuskan nafas pelan.


"Yang Mulia," lagi-lagi Ketua ingin menasehati. Bahwa semua ini tidak akan mudah.


"Turuti saja perintah ku, kapan kau bisa memulai ritualnya. Aku tidak butuh bantahan mu."

__ADS_1


"Kapan saja, asalkan Yang Mulia siap. Tapi hamba mohon, Yang Mulia harus memikirkan lagi." ucap Ketua menunduk hormat dan berlalu pergi.


__ADS_2