Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_julukan Putri Maya


__ADS_3

Season 3 nya masih di bumbui dengan Putri Viola ya🤭


Ke esokan harinya..


Terlihat seorang gadis duduk di bawah pohon sambil membaca sebuah buku, ia menikmati sentihansemilir angin yang menerpa tubuhnya. Sesekali ia mengerutkan dahinya dan mengkerucutkan bibirnya.


"Hais ini buku apa sih, aku mah gak ngerti sama sekali." desis gadis itu seraya melemparkan buku itu ke sembarang arah. Dengan sigap pelayan itu menangkap buku majikannya.


"Putri ini namanya buku resep," tutur pelayan itu yang tak lain pelayan Ana. Sedari tadi ia hanya melihat dan diam. Ia tau junjungannya itu hanya menggerutu tidak jelas.


"Siapa bilang itu buku gambar, anak kecil pun juga tau." ucap Putri Maya seraya memutar bola matanya. Sedari tadi ia memahami buku resep yang pernah ia minta pada Ibunya, ia ingin menghadiahkan untuk Duke Rachid namun sama saja dia tidak mengerti.


"Jelas saja Putri tidak mengerti, seharusnya buku resep ini harus di praktekkan Putri. Jika Putri hanya membacanya bagaimana bisa menjadi kue." ucap pelayan Ana membuat Putri Maya sejenak berfikir. "Kenapa Putri tidak membelinya saja." sambungnya lagi.


Putri Maya melirik ke arah pelayan Ana, "Hais, jika beli namanya buka spesial."


"Gini saja Putri, bagaimana jika pesan sebuah kue, dan nanti di atas kue itu berikan nama untuk kesayangan Ku, Duke Rachid. Begitu,"


"Semenjak kapan aku menyuruh Duke Rachid menjadi kesayangan mu?" pekik Putri Maya membuat hantaman petir ke tubuh pelayan Ana.

__ADS_1


Pelayan Ana hanya menunduk lesu, bagaimana pun menjelaskannya. Ujung-ujungnya juga dia akan kalah.


"Lalu kapan Putri akan menemui Duke? Putri kan tau sendiri Nona Ingrid selalu ada cara untuk menemui Duke." ujar pelayan Ana berusaha mengingatkan junjungannya.


"Kenapa aku tidak kepikiran ulet tempel itu ya ? hem,"


"Baiklah, kita harus ke rumah Duke." ucap Putri Maya beranjak berdiri dan berdecak pinggang.


"Aku ikut Putri,"


"Basmi ulet tempel." ucap Putri Maya dengan semangat yang kuat. "Ayo." sambungnya lagi.


"Kakak," sapanya dengan lembut. "Em, Iya aku baru dengan jika Kakak Ipar sudah sembuh."


Pangeran Abigail tersenyum, ia merangkul pinggang Putri Viola, "Berkat Kakak mu, Kakak Ipar mu sembuh."


"Jangan seperti ini." Putri Viola merasa tidak nyaman melihat tatapan Putri Maya dari bawah ke atas.


"Kenapa aku jadi ngeri ya lihat kemesraan Kakak?"

__ADS_1


"Ngeri,"


"Iya kak Ngeri, karna hati ku ngenes lihat kalian bermesraan." cibir Putri Maya.


Seketika Pangeran Abigail dan Putri Viola saling pandang dan tertawa, "Lalu Duke Rachid mau kamu kemanakan? bukankah dia tunangan mu."


Putri Maya mengangguk, wajah terlihat murung, "Ulet tempel itu masih dekat dengannya kak. Ingin sekali aku menendangnya ke lautan." ucap Putri Maya.


"Ulet tempel," ucap Putri Viola dan Pangeran Abigail serempak.


"Sudahlah kak, Adik mu ini harus pergi. Karna ulet tempel akan selalu menempel di ketiak. Jadi Adik mu ini. Harus secepatnya memusnahkannya dari muka bumi." ucap Putri Maya seraya mengepal tangan kanan dan menaruhnya di dada kiri. Ia pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di benak pikiran Putri Viola dan Pangeran Abigail.


Membuat mereka hanya saling pandang.


"Apa maksudnya ulet tempel?" tanya Putri Viola menatap punggung Putri Maya yang sudah mulai menjauh.


"Putri kan tau sendiri, Emma saja di bilang Nenek Garang." sanggah Mery.


Seketika Pangeran Abigail dan Putri Viola tertawa lepas. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah siapa lagi yang akan mendapatkan julukan mematikan dari Putri Maya.

__ADS_1


Putri Maya menaiki kereta istana, sebelum pergi ke rumah Duke ia mampir ke toko Ibunya untuk membeli beberapa kue sebagai hadiah kedatangannya. "Ana bawakan semua macam kue untuk Duke dan para pelayan." perintahnya. Ana pun turun dari kereta kuda dan lansung menuju ke toko kue tersebut. Selang beberapa saat Ana datang dengan membawa tiga buah keranjang yang berukuran sedang.


__ADS_2