
"Anabella, ada apa?" tanya Pangeran Almeer. Dia melihat kekasihnya itu tampak murung dengan wajah di tekuk. Biasanya, dia akan berantusias jika menyangkut kedatangannya. Pangeran Almeer berjongkok, dia menatap setiap sudut mata Anabella. "Sayang, katakan. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada, aku hanya merindukan kakak."
"Sama, aku juga merindukan adik ku. Rencananya hari ini aku ingin mengajak mu ke sana." Tutur Pangeran Almeer. Ia merasa terjadi sesuatu pada adiknya. Dan memutuskan untuk menemuinya, apalagi Duchess Maya memintanya menemui Michelia yang juga merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap." Ujar Anabella seraya membalikkan badannya.
"Tidak usah, kamu sudah cantik."
Anabella menunduk, ia tersenyum dengan wajah memerah menahan malu. Dulunya dia kebal dengan sikap dinginnya dan sekarang dia harus kebal dengan godaannya. Di lihat siapa pun, Pangeran Almeer yang dingin bak es beku itu memiliki sisi lembut, membuat siapa saja akan betah berlama-lama dengannya termasuk dirinya.
"Sayang,"
"I, iya." Gugup Anabella.
"Pangeran," sapa Duke Elios dan Duchess Caroline. "Maaf kami baru menemui Pangeran."
"Tidak masalah, Duchess. Aku berniat mengajak Anabella menemani ku untuk menemui adik ku."
__ADS_1
Duchess Caroline menelan ludahnya, jika semua orang tau. Dia tidak bisa menolak lagi bantuan keluarga Kekaisaran. Mereka tidak enak, karena ini menyangkut Deros yang bukan anggota asli dari Kekaisaran.
"Ba-baiklah, berhati-hati lah di jalan." Duke Elios menimpali. Semoga saja, Michelia dan Viscount Elca tidak mengatakannya. Ia merasa enggan dan sungkan menerima bantuan mereka.
Sementara di sisi lain.
Seorang wanita dengan memakai topi di kepalanya. Tanpa rasa malunya, dia memasuki kediaman Viscount. "Maaf nyonya, anda siapa?" tanya salah satu penjaga gerbang.
"Aku ibu dari Deros," Kedua penjaga itu saling menatap. "Nyonya di larang memasuki kediaman Viscount."
"Untuk apa mereka melarang ku bertemu dengan putra ku." Bentaknya. "Aku berhak menemuinya."
"Maaf nyonya tidak boleh masuk." Penjaga itu pun mencegah Liera dengan badannya yang kekar.
Dengan wajahnya yang terselimuti dendam. Dia memasuki halaman luas itu. "Dimana putra ku ?" tanya Liera.
"Apa maksud mu menyebarkan rumor seperti ini Liera?" tanya balik Michelia. Semua kejadian ini pasti ulahnya.
Liera tersenyum dengan raut sedih. "Jangan menuduh ku Viscountess Michelia. Sakit sekali hati ku saat di tuduh seperti ini." Ujarnya dengan sok polos dan pura-pura tidak. Padahal memang kenyataannya, dia lah orangnya. Rencana yang sangat apik sebelum menculik harta berharganya.
__ADS_1
"Jangan pura-pura Liera, siapa lagi kalau bukan ulah mu. Dulu dengan mudahnya kamu memolesi wajah mu dengan senyum lugu mu itu."
Liera menghapus air mata palsunya, dia menyeringai kejam. Dari awal dia memang tidak menyayangi putranya itu. Dia hanya menjadikannya sebagai tameng untuk mengikat Viscount Elca dan keluarganya. Dia sangat senang, ayahnya mau menuruti permintaan di saat terakhir hidupnya.
"Benar, dari awal aku memang tidak mencintai anak itu. Sudah lama aku ingin membunuhnya, seandainya bukan karena Viscount, aku sudah membunuhnya. Semua orang pun sekarang sudah tau, anak haram itu adalah anak ku. Putra ku, putra kandung ku yang menjijikkan."
plak
Viscountess Michelia sangat geram, tangannya sangat gatal ingin menamparnya. Bahkan ingin melenyapkannya.
"Astagah, Nyonya." Pekik seorang wanita di ambang pintu. Dia menyaksikan Michelia menampar Liera hingga jatuh tersungkur. Sementara Michelia juga terkejut dengan kedatangan dua wanita bangsawan. Dia menatap ke arah Liera yang tersenyum licik. Ternyata dia sudah masuk ke perangkapnya.
"Apa salah ku, Viscountess? aku tau, aku meninggalkannya, tapi bukan berarti aku tidak boleh menemuinya. Jangan melarang ku, aku mohon aku sangat menyayanginya." Ujarnya seraya bersimpuh di kaki Michelia. Rencana pertamanya berjalan mulus dan rencana keduanya. Tidak salah dia menyewa seorang bangsawan yang akan membuat Michelia semakin malu dan namanya akan terjatuh di kalangan para bangsawan.
"Aku tidak menyangka, Viscountess melakukan kekerasan pada nyonya Liera. Bagaimana pun keadaanya, dia tetaplah anak dari tuan muda Deros." Ujar salah satu bangsawan di balik kipasnya.
"Sebaiknya kita pergi, memang benar Viscountess Michelia kejam. Tidak memperbolehkan anak dan ibu bertemu. Bahkan melakukan kekerasan pada ibunya."
Michelia diam bukan berarti dia menyerah, percuma dia menjelaskan apa pun. Karena kedua wanita itu hanya melihat dia menampar Liera. Percuma saja dia berteriak, meyakinkan sementara dia tidak memiliki bukti.
__ADS_1
"Nyonya tidak pernah melakukan kekerasan, jika bukan karena kesalahan dari nyonya Liera" Pekik Mery tak terima tuduhan atas majikannya.
"Kamu hanya seorang pelayan, kami tidak buta." Ujar kedua wanita itu tersenyum sinis.