Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 81_Itu, sudah takdir Ku,


__ADS_3

Disisi lain,


Pangeran Gabriel memandang sang bulan, tangannya bersendekap ke bagian belakangnya. Malam hatinya harus merasa bahagia atau tidak, yang jelas hatinya harus merasakan kebahagian itu.


"Hormat hamba, Pangeran." ucap pelayan Mery, Pangeran Gabriel sengaja memanggil pelayan Mery karna ada sesuatu yang harus ia sampaikan.


Pangeran Gabriel masih saja melihat ke arah langit, tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kau sudah datang, aku hanya ingin mengatakan. Besok siapkan minuman hangat untuk Yang Mulia dan Permaisuri." ucapnya hendak pergi.


Tepat Pangeran Gabriel melangkahkan kakinya lima langkah. Tiba-tiba dada nya merasakan sakit. Pangeran Gabriel memegang dadanya. Nafasnya tidak beraturan, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.


"Pangeran," pelayan Mery memegang lengan Pangeran Gabriel.


Namun karna dadanya semakin sakit, Pangeran Gabriel pingsan, tepat saat itu Hector dan Isak melihatnya, merkea berniat mengawasi istana. Tapi hal lain membuatnya berlari dengan keterkejutan.


Hector dan Isak segera memapah tubuh Pangeran Gabriel, sementara pelayan Mery langsung memanggil Dokter istana.


Setelah Dokter istana memeriksa keadaan Pangeran Gabriel, dia melihat ke arah Hector dan Isak.


"Sebaiknya aku harus menyampaikan hal ini kepada Yang Mulia dan Permaisuri." ucapnya.


Hector dan Isak mengangguk, "Isak jaga Pangeran, aku akan menemui Permaisuri dan Yang Mulia." ucap Hector seraya menepuk bahu Isak, lalu berlari kecil menuju kamar utama.


Sesampainya disana, Hector mengetuk pintu kamar Kaisar Alex seraya berteriak kecil, tapi mampu di dengarkan oleh Kaisar Alex dan Anastasya.


Kedua insan itu pum lansung membuka kedua matanya. Mereka masih diam mengumpulkan nyawanya masing-masing. Setelah di rasa berkumpul Kaisar Alex menuju ke lemarinya, mengambil baju tidurnya yang masih kelihatan rapi.


"Yang Mulia," seru Anastasya.


"Tunggu di sini saja Permaisuri, mungkin hanya urusan istana." ucap Kaisar Alex.


krek

__ADS_1


Pintu Kaisar terbuka, memperlihatkan wajah Hector yang sudah panik.


"Ada apa? kenapa kau tidak tau waktu, Hah!" bentak Kaisar Alex.


"Maaf Yang Mulia, tapi Pangeran Gabriel pingsan."


"Apa !" Kaisar Alex membulat secara sempurna, dia langsung bergegas pergi ke arah kamar Pangeran Gabriel.


Sesampainya disana dia sudah melihat, Dokter istana, Ketua istana, Isak dan pelayan Mery.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kaisar Alex yang melihat wajah Pangeran Gabriel pucat pasi.


"Hamba butuh bicara dengan Yang Mulia." timpal Ketua istana.


Semua orang disana mengerti, mereka menunduk hormat, pamit undur diri.


"Katakan sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kaisar Alex menatap tajam ke arah Ketua istana.


"Pangeran Gabriel tidak bisa bertahan Yang Mulia."


"Jangan bicara sembarang, selama ini dia sudah bertahan. Bahkan di jiwa ku," ucap Kaisar Alex dengan dingin.


"Ampun Yang Mulia, simbol itu telah memudar. Sudah waktunya Yang Mulia merelakannya." jelas Ketua istana.


"Apa maksud mu?" teriak seorang wanita dengan amarah merah padam.


"Permaisuri,"


Saat melihat Kaisar Alex yang keluar tergesa-gesa. Anastasya merasa curiga, entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa tidak enak. Hingga ia memutuskan untuk menyusul Kaisar Alex. Namun saat ia sampai, ia harus mendengarkan kenyataan pahit.


"Katakan dengan jelas," bentak Anastasya. Yang ia rasakan sekarang bukan lagi kesakitan daerah intimnya, tetapi kesakitan di ulu hatinya.


Hanya kebisuan yang keluar dari mulut Ketua, ia menunduk, tidak berani melihat ke arah Anastasya. Kaisar Alex pun melepaskan cengkramannya dengan kasar. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

__ADS_1


Melihat Ketua istana yang hanya diam, air mata Anastasya lolos terjatuh.


Dengan langkah berat, Anastasya menuju ke arah Pangeran Gabriel, ia mengusap pipi Pangeran Gabriel dengan lembut, "Bangun, bangun Pangeran. Semua ini hanyalah bohong. Aku yakin kau hanya berpura-pura tidur. Heh, kau sudah berjanji akan bersama dengan kita. Bahkan kau sudah menyepakati perjanjiannya."


Hiks


Hiks


Hiks


"Bangunlah, jangan seperti ini. Kau seorang Pangeran yang tidak lemah. Kenapa harus terjadi..." lirih Anastasya yang menangis sesegukan, ia menenggelamkan kepalanya di dada Pangeran Gabriel.


"Permaisuri.."


Anastasya mendonggakkan kepalanya, "Maaf membuat mu menangis, tolong jangan menangis. Aku tidak apa-apa, mungkin kesehatan ku akhir-akhir ini buruk." lirih Pangeran Gabriel tersenyum lembut, walaupun dirinya tau, hidupnya tidak akan lama lagi. "Padahal aku sudah berdoa satu bulan lagi kita akan merasakan kebersamaan." goda Pangeran Gabriel. Ia ingin Anastasya tersenyum.


Anastasya menggeleng pelan, "Tidak, jangan berbicara apa pun. Aku tidak ingin kehilangan mu dan Yang Mulia. Bagiku kalian adalah suami ku," Anastasya mengecup kening Pangeran Gabriel.


"Itu, sudah takdir Ku. Terimakasih karna telah mencintai Ku,"


Anastasya menggeleng pelan, "Kamu harus kuat, apapun akan aku lakukan demi mempertahan kan mu,"


"Boleh aku meminta sesuatu,"


Anastasya mengangguk pelan, "Aku ingin menghabiskan hidupku dengan mu di sisa umurku," ucap Pangeran Gabriel.


"Permaisuri, hanya ada satu cara.."


Anastasya menoleh, melihat ke arah Ketua istana.


"Permaisuri harus mengorbankan simbol Permaisuri..."


"Tidak,"

__ADS_1


Secara langsung Pangeran dan Kaisar Alex menjawab. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Permaisurinya itu.


#Maag kak, author dah niat mau nyatuin jiwa mereka. Biar cepet tamat hehe..


__ADS_2