
Pada malam harinya,
Terlihat wanita cantik memakai baju tidur berwarna putih polos. Rambutnya di biarkan bergerai. Hingga rambut hitam pekat itu terbawa angin. Sinar bulan purnama menerpa wajahnya. Menambah kesan akan kecantikannya yang tak pernah hilang walaupun tanpa make up sekalipun.
"Permaisuri,"
Wanita itu yang tak lain Permaisuri Anastasya menoleh ke asal suara itu. Terlihat wajah di balik topeng itu tersenyum lembut ke arahnya.
"Permaisuri, angin malam tidak baik untuk kesehatan Permaisuri." ucap Pangeran Gabriel seraya melepaskan jaket hangatnya lalu memakaikannya ke tubuh Anastasya.
"Aku tidak akan sakit Pangeran, hanya saja aku ingin menikmati cuaca malam ini. Bukankah bulannya indah,"
Anastasya mendonggakkan wajahnya melihat ke arah bulan di balik awan itu.
"Bulan akan cemburu melihat kecantikan Permaisuri," ucap Pangeran Gabriel yang masih fokus melihat wajah Anastasya.
"Rupanya Pangeran pandai menggoda,"
Pangeran Gabriel menggenggam tangan Anastasya. Desiran hangat mulai menjalar di darah Anastasya. Hatinya sejuk, nyaman dan tenang saat tangan kokoh itu menggenggam erat tangannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap tajam ke arah mereka. Langkah kakinya yang begitu tergesa-gesa menandakan ia tidak bisa menaham kecemburuannya. Ingin melepaskan ikatan tangan itu.
Laki-laki itu pun memegang bahunya, memutar badannya dan
bruk
"********, beraninya kau menggenggam tangannya. Beraninya kau menyentuhnya." bentaknya seraya menarik kerah baju Pangeran Gabriel.
"Heh, aku juga berhak memilikinya,"
Sementara Anastasya terkejut bukan kepalang. Melihat saudara yang bertengkar saling baku hantam. Ia hanya membulatkan mulutnya. Perkelahian yang tak bisa ia pisahkan. Anastasya melihat kanan kiri. Tidak ada satu orang pun disana. Saat Anastasya keluar kamar ia menyuruh Mery untuk tidak mengikutinya. Sementara pengawal setia Kaisar Alex tidak terlihat sedikit pun.
"Bagaimana ini?" Anastasya bingung sendiri, "Yang Mulia, Pangeran Gabriel berhenti, stop !"teriak Anastasya melihat mereka yang saling memukul.
Anastasya berdacak pinggang," Kaisar Alex, Pangeran Gabriel berhenti. Kenapa kalian tidak mengeluarkan pedang kalian atau kekuatan kalian. Sekalian kalian saling menusuk biar cepat selesai." Anastasya mengeluarkan unek-unek dan berteriak yang kedua kalinya. Pita suaranya pun sudah tidak mendukung untuk berteriak kembali.
Seketika Pangeran Gabriel dan Kaisar Alex menghentikan baku hantam itu, "Pangeran Gabriel, aku adalah Permaisuri sekaligus istri saudara mu. Jadi aku mohon Pangeran Gabriel menjaga sikap Pangeran Gabriel," ucap Anastasya datar, ia menyesali perbuatannya tadi hingga baku hantam itu tak bisa di hindari.
"Dan untuk Yang Mulia, tolong jaga sikap Yang Mulia. Jangan mengekang hamba untuk bersama siapapun. Hamba juga tidak ikut campur urusan Yang Mulia dengan Elisha. Hamba hanya ingin hidup tenang. Jika kalian tidak bisa membuat ku tenang, biar aku yang pergi dari istana ini."
__ADS_1
Anastasya menggelengkan kepalanya, ia hendak pergi. Namun tangannya langsung digenggam oleh Pangeran Gabriel menyuruhnya pergi bersama meninggalkan Kaisar Alex.
Pangeran Gabriel tidak akan menyerah begitu saja. Karna dirinya juga memiliki hak atas Anastasya. Sementara Kaisar Alex diam membeku, ia menatap nanar punggung Pangeran Gabriel dan Permaisurinya yang mulai menjauh.
"Tidak, ini tidak benar. Aku juga berhak memilikinya." lirih Kaisar Alex, ia pun berlari, menghampiri ke arah mereka dan langsung memeluk Permaisuri Anastasya dari belakang.
"Jangan pergi, aku mohon aku tau. Aku salah." lirih Kaisar Alex.
Anastasya diam membeku, lengan kanannya di genggam erat oleh Pangeran Gabriel. Sementara tubuhnya di peluk erat oleh Kaisar Alex. Seketika hatinya menghangat. Anastasya tidak tau alasannya apa? tapi perasaan itu sama.
"Hentikan, aku juga berhak memilikinya. Karna aku juga suaminya." bentak Pangeran Gabriel yang tidak terima.
Pangeran Gabriel membuka topengnya, Anastasya terkejut. Wajah itu mirip dengan Kaisar Alex. Bahkan aura yang ia keluarkan sama. Mata emas itupun juga sama. Anastasya menoleh ke arah Kaisar Alex yang sudah melepaskan pelukannya. Kaisar Alex hanya menunduk. Ia tidak tau harus memulai bercerita dari mana, yang ia takutkan Permasurinya bertambah benci pada dirinya.
"Yang Mulia bisakah, Yang Mulia jelaskan. Apa maksud semua ini." Anastasya menatap tajam ke arah Kaisar Alex.
Kaisar Alex masih diam tak bergeming. Sementara Pangeran Gabriel tersenyum menyeringai, "Dulu sewaktu Ayahanda menjodohkan Permaisuri dan kaisar Alex. Kaisar Alex bersikukuh tidak mau menikah dengan Permaisuri dan Kaisar Alex memberikan syarat agar mau menikah dengan Permaisuri yaitu menyatukan kedua jiwa kita. Sehingga kelak jika Kaisar Alex tidak mencintai Permaisuri dan menemukan cinta sejatinya, Kaisar Alex menyuruh hamba jiwa bayangannya yang menjadi suami sah Permaisuri. Dan sekarang Kaisar Alex menyakiti Permaisuri berarti perjanjian itu..."
Perkataan Pangeran Gabriel membuat Anastasya menatap tajam Kaisar Alex. Apa dia pikir dirinya barang seenaknya saja membuang.
__ADS_1
"Permaisuri itu..."
"Hentikan, hamba tidak butuh penjelasan Yang Mulia. Jika pun Yang Mulia mengelak berbagai macam alasan. Tapi nyatanya semua perkataan Pangeran Gabriel benar kan," ucap Anastasya datar dan berlalu pergi.