Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
S4 : Nyonya Viscountess


__ADS_3

"Michelia masuklah ke kamar mu, bersihkan tubuh dan beristirahatlah. Ayah akan berbicara dengannya." Ujar Duke Rachid.


Air mata Michelia menggenang, ia berlari menaiki anak tangga itu. Hatinya hancur sekaligus rindu, ia tidak tau ada tujuan apa Viscount Elca mendatanginya. Mungkinkah dia akan memberi tau dirinya. Bahwa dia hidup bahagia dan memiliki seorang anak.


Michelia menutup pintu kamarnya, tubuhnya merosot. Ia bertekuk lutut menangis tersedu-sedu.


"Viscount !"


Sementara Viscount Elca masih diam menatap jejak Michelia. Ada rasa lega di hatinya, melihatnya ceria. Mungkinkah ia masih mencintainya atau sudah.


"Aku datang kesini hanya ingin memberikan surat dari Liera untuk Michelia. Dan.."


"Hah, aku bukannya menjadi orang egois. Aku tidak ingin menyakiti putri ku." Ujar Duke Rachid. Hatinya meringis ketakutan.


Memarahi Michelia, hukumannya sangat besar baginya. Ia tidak bisa menyentuh istrinya. Duchess Maya selalu membuatnya tak berkutik.


"Aku sudah bercerai dengannya jadi aku ingin .."


"Kamu ingin kembali padanya," seru seorang wanita seraya menuruni anak tangga.


"Duchess." Viscount Elca menunduk, memberikan hormatnya.


"Sayang, kenapa kamu turun. Istirahatlah," ujar Duke Rachid menghampiri Duchess Maya. Ia mengelus perutnya yang kelihatan buncit itu.

__ADS_1


Ia menuntun Duchess Maya menghampiri Viscount Elca.


"Aku tidak melarang mu untuk bertemu dengannya Viscount," Duchess Maya menunduk. Selama ini ia merasakan begitu sedihnya Michelia. Ia melewati hari-harinya dengan senyuman luka. Bahkan ia sudah pernah mengatakan untuk menjodohkannya, berharap Michelia merubah perasaannya. Namun perasaan itu begitu melekat. Ia takut, sangat takut Michelia tidak kunjung menikah dan Viscount Elca bahagia dengan orang lainnya.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Duchess Maya.


"Benar, selama ini aku menuruti semua keinginannya. Bahkan menjaga Liera dengan baik walaupun aku enggan. Tapi aku percaya, suatu saat Nona Michelia akan kembali pada ku."


"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?"


"Benar Duchess." Viscount Elca berdiri, ia membungkuk hormat. "Ijinkan aku bersama putri mu, Yang Mulia Duke dan Duchess. Ijinkan aku menjaganya dan menjadikannya sebagai Viscounter."


"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pergilah, temuilah dia di taman. Berbicaralah padanya." Ujar Duchess Maya seraya berdiri. Ia melangkah ke kamarnya untuk kembali beristirahat. Selama satu Bulam ini ia merasa pusing dan mual. Duke Rachid pun mengerti kondisi istrinya, ia memapah tubuhnya ke kamarnya.


"Aku bisa berbuat apa? mereka saling mencintai. Sebagai orang tua seharusnya kita mendukungnya. Berdoa agar kelak mereka bisa menjadi sebuah kelurga yang harmonis. Aku tidak bisa mengekangnya, kita harus menoleh pada masa lalu kita. Aku pernah berfikir melepaskan mu dan memilih Arnod. Tetapi perasaan itu tidak bisa di bohongi. Begitu pun takdir ku yang memilih mu."


Duke Rachid menggendong tubuh Duchess Maya, ia memberikan ciuman hangat di kening sang istri. Para pelayan yang melihatnya pun menunduk, sudah biasa baginya. Namun hatinya sesak, mereka yang hidup tanpa kekasih hanya memandangnya dengan lapang dada.


Sedangkan disisi lain.


Michelia yang sudah membersihkan diri, ia merias dirinya begitu elegan. Betapa senangnya dia akan bertemu dengan Viscount Elca. Tak henti-hentinya ia menceramahi Mery agar tatanan rambutnya tidak ada yang salah sedikit pun. Selama ini ia tidak pernah memperhatikan dirinya dan mulai sekarang ia akan memperhatikan dirinya, ia tidak ingin tampil jelek di depan Viscount Elca.


Michelia keluar dari kamarnya dengan berjalan tergesa-gesa. Sepanjang jalan senyum tak pernah berhenti. Ia menghentikan langkahnya, mengedarkan pandangannya. Tidak ada sosok laki-laki ia cari.

__ADS_1


"Dimana dia?"


Sesuatu yang melingkar di perutnya, seperti tersengat listrik ia membeku. Merasakan aroma yang pernah ia kenali, jantungnya semakin berdetak lebih cepat.


"Aku merindukan mu," sebuah ucapan yang membuatnya seperti di hujani ribuan bunga mawar.


Michelia melepaskan lingkaran tangan di perutnya, ia memutar tubuhnya dan memeluk laki-laki di depannya. Melingkarkan tangannya ke lehernya. "Aku sangat merindukan mu,"


"Bagaimana kabar mu, apa kamu makan dengan teratur?"


"Ya, aku makan dengan teratur, aku tidak mau sakit. Aku takut sakit dan tak bisa bertemu dengan mu." Ujar Michelia.


"Begitu pun aku, aku sangat merindukan mu." Viscount Elca melepaskan pelukannya. " Ada surat dari Liera untuk mu, aku tidak tau isinya apa dan hanya menyampaikan surat itu untuk mu." Ujar Viscount Elca. Ia meraih tangan Michelia agar duduk di depannya. Lalu mengeluarkan sebuah surat dari saku jas dalamnya.


Dengan perasaan berkecambuk, Michelia membuka surat itu. Ia membaca setiap bait di dalam kertas itu. Menekan perasaanya sekuat-kuat. Hanya tulis tangan paling bawah ia rasakan begitu sedihnya "Aku minta maaf, tolong jaga Putra Ku,"


Viscount Elca berjongkok di depan Michelia, "Setelah ini aku tidak tau, kamu mempercayai ku atau tidak. Tapi satu hal yang jelas, hati ini tidak akan berubah. Aku mohon, jadilah nyonya Viscountess." Ujar Viscount Elca. Ia meraih sesuatu di saku celana. Sebuah kotak kecil berwarna merah dan terlihat jelas Cincin dengan mutiara berbentuk hati berwarna putih.


"Nona Michelia, apakah kamu bersedia menjadi istri dan ibu untuk anak-anak ku?" tanya Viscount Elca.


Michelia tersenyum, ia mengangguk dan menyodorkan jarinya. Cincin itu pun memasuki jari manisnya. Lalu tangan yang berkulit putih itu yang telah di hiasi oleh cincin di cium oleh Viscount Elca.


Kini pengorbanan mereka membuahkan hasil, tidak ada lagi yang memisahkannya kecuali maut dari sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2