Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
S4 : Sebuah Lukisan


__ADS_3

"Tuan," Seru Viscount Elca. Lelaki yang merenung seharian itu mendonggakkan wajahnya. Wajahnya tampak sembab, ia memijat pelipisnya.


"Apa ada pekerjaan yang membuat tuan merasa pusing?" tanya Liera dengan wajah khawatir. Ia tau, lelaki di depannya tengah bersedih. Bahkan terlihat air matanya yang masih menggenang. Hidungnya pun tampak memerah.


"Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?"


Apa yang harus dia lakukan, agar laki-laki di depannya terbuka. Hatinya mulai bergetar, wanita mana yang tak sakit melihat suaminya memikirkan wanita lain.


Sebesar itu kah rasa cintanya, apa kah dia harus menyerah?


Hatinya bimbang, sudah beberapa bulan sebelum suaminya Kekaisaran seberang. Tapi masih belum bisa mendapatkan hatinya. Akankah dia harus menyerah atau tidak. Hatinya .enginginkannya, selama bisa bersama dengan lelaki yang ia cintai, walaupun tidak mendapatkan cintanya tidak masalah baginya.


"Kenapa bukan pelayan yang mengantarkannya? kamu tidak perlu repot seperti ini." Tuturnya.


"Tuan belum sarapan. Aku khawatir tuan akan sakit. Sebaiknya tuan istirahat."


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku. Apa kamu sudah sarapan?" tanya Viscount Elca.

__ADS_1


"Sudah tuan." Ujar Liera tersenyum seraya melihat Viscount Elca yang mengambil sepotong roti.


Viscount Elca memakan roti yang di olesi dengan selai strowbery itu, bukannya manis malah pahit saat sepotong roti itu menyatu ke dalam mulutnya. Ia meraih segelas susu yang berada di sampingnya, bukannya manis malah semakin pahit. Rasa pahit di mulutnya mengikuti rasa pahit di hatinya.


Viscount Elca pun menaruh kembali roti itu. Lalu menghela nafas. Beberapa bulan ini, ia merasa tidak enak makan dan tidur pun berkurang. Rasa semangat untuk hidup tak lagi ia rasakan.


"Tuan," Viscount Elca menatapnya dengan malas.


"Apa ada sesuatu yang ingin tuan berbagi? sepertinya tuan ada sesuatu yang tuan pikirkan." Ujar Liera.


"Sudahlah, aku sibuk. Sebaiknya kamu istirahat. Tidak baik untuk bayi dan dirimu." Viscount Elca kembali menunduk, seolah ia tengah fokus pada kertas di depannya. Sebenarnya tidak, pikirannya sedang tertuju ke tempat lain. Ia melirik ke arah laci, ujung lukisan itu terselip. Tangannya gatal, ingin mengambil lukisan itu. Namun Liera masih berada di sampingnya.


Sementara Liera, ia merasa janggal dengan Viscount Elca yang meliriknya. Kemudian matanya mengikuti lirikan Elca yang tertuju pada sebuah leci dan ujung kertas yang terselip. Ia penasaran apa isi kertas itu, karena merasa tidak enak hati, ia memilih meninggalkan Viscount Elca.


"Tuan, aku permisi dulu." Ujar Liera.


Viscount Elca menyandarkan lehernya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu mengambil kertas di laci itu.

__ADS_1


"Huft, syukurlah. Aku kira lukisan ini sobek." Viscount Elca pun membuka gulungan itu dan merabanya, merasakan kehangatan yang ia rasakan. Viscount Elca memejamkan matanya, membayangkan jika dirinya sedang meraba wajah Michelia. Semakin dalam ia berkhayal semakin dalam ia merasakan detak jantungnya bergendrang. Dalam mimpinya, ia mendekat dan mendekat hingga bibir itu sedang menyatu. Namun sebuah suara berhasil membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.


"Elca," seru seorang laki-laki. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Duke Elios.


"Tidak ada Ayah. Aku hanya sedang bersantai."


Duke Elios melihat ke arah lukisan itu. "Kamu menginginkannya, ayah akan melamarnya untuk mu. Ayah akan berbicara dengan Duke Rachid."


"Tidak perlu Ayah biar Elca saja yang mengatakannya."


Duke Elios menepuk bahunya, "Baguslah Nak. Cinta harus di perjuangkan." Ujar Duke Elios dengan bangga. "Untuk urusan Liera, biar Ayah yang akan mengurusnya. Ini semua keegoisan ayah. O iya, acara ulang tahun Anabella sebentar lagi. Ayah bermaksud mengundang mereka. Jadi persiapkan mental mu."


"Ah, aku lupa." Viscount Elca menepuk dahinya, bisa-bisanya ia lupa hari ulang tahun adiknya. Ia kembali menggulung kertas itu, memasukkannya ke dalam laci, ke tempat semula.


"Baiklah Ayah aku akan menyiapkan hadiah untuk adik."


"Ayo, Ayah juga ingin membelikan sesuatu untuk adik mu." Ujar Duke Elios bergegas pergi di ikuti Elca.

__ADS_1


Setelah kedua laki-laki itu keluar dari kediaman Viscount. Seorang wanita diam-diam memasuki ruangan kerja Viscount Elca. Dengan gugupnya, ia mendorong kursi rodanya menuju meja kerja Viscount Elca. Ia yakin, kertas itu bukan kertas biasa. Dengan tangan gemetar ia membuka laci itu. Perlahan dengan menelan ludahnya, ia membuka gulungan itu.


__ADS_2