
Setelah kepergian Permaisuri Anastasya, Kaisar Alex langsung berlari kecil melihat Permaisurinya yang mulai menjauh.
Begitupun Elisha ia mengikuti Kaisar Alex.
Sesampainya di depan pintu kamar Permaisuri Anastasya, Kaisar Alex ragu untuk masuk. Ia ingat jika dirinya tak pernah menginjakkan kakinya di tempat itu.
Kaisar Alex menghela nafas, ia masuk ke kamar itu dan mendapati Permaisuri Anastasya yang duduk di sofa berwarna putih. Kaisar Alex menuju ke arah Permaisuri Anastasya yang hanya melihat tangannya memerah dan melepuh, tidak ada kata sakit ataupun menangis.
"Kenapa Permaisuri melakukan hal itu, apa kau sudah gila hah?" bentaknya, rasa khawatir dan amarah bercampur menjadi satu.
"Iya aku gila, puas?" Permaisuri Anastasya mendonggakkan kepalanya, ia menatap Kaisar Alex dengan tatapan kebencian.
"Pergilah," Sambungnya lagi.
Tanpa basa-basi Kaisar Alex menarik lengan itu, ia ingin menyembuhkan Permaisuri Anastasya dengan kekuatan supranaturalnya.
Sedangkan Anastasya menarik lengannya, ia tidak terima jika lengan itu di pegang oleh Kaisar Alex.
"Lepaskan," bentaknya menatap tajam ke arah Kaisar Alex.
"Diam," Kaisar Alex juga membentak.
"Jika Yang Mulia melakukannya lagi. Hamba pastikan luka ini akan kembali." ucap Permaisuri Anastasya dengan nada menekan.
Kaisar Alex menatap Permaisuri Anastasya, "Jika Permaisuri melakukanya, aku juga akan menyembuhkannya kembali."
__ADS_1
"Aku membenci mu Yang Mulia." Permaisuri Anastasya menghilangkan perkataan formalnya, hatinya muak bercampur rasa sakit. Ia membenci laki-laki di depannya itu.
Kaisar Alex tertegun, bagaimana bisa seseorang yang dulu akan mencintainya dengan tulus? kini harus mengatakan hal itu. Hatinya tidak terima, ingin marah tapi melihat matanya ia tidak tega.
"Terserah," ucapnya datar. Kaisar Alex mengeluarkan kekuatannya dan munculah kabut ungu dari telapak tangannya. Sementara Permaisuri Anastasya masih saja memberontak. Ia menarik lengannya.
"Jika Permaisuri memberontak, aku akan memperburuk lukanya."
Perkataan Kaisar Alex membuat Permaisuri Anastasya bungkam. Ia tidak mungkin melihat kulitnya akan menjadi cacat.
"Ck, semenjak kapan Yang Mulia memperhatikan ku, bukankah dulu Yang Mulia menyiramnya dengan teh panas. Apa Yang Mulia tidak ingat? tangan mana yang disiram oleh Yang Mulia."
Kaisar Alex hanya diam ia masih fokus dengan penyembuhan Permaisuri Anastasya. Sedangkan Anastasya merasa jengah, ia menarik kembali tangannya. Pada saat itu pula Kaisar Alex menatapnya tajam.
"Rasanya aku ingin mencongkel matanya," gumam Anastasya yang masih di dengarkan oleh Kaisar Alex.
"Apa Permaisuri sangat membenciku?" tanya Kaisar Alex. Entah mengapa hatinya ingin bertanya. Ia ingin mengetahui jawabannya dari hati paling dalam Permaisurinya.
"Tentu, bahkan sangat membenci. Hingga aku tidak ingin melihat wajahnya lagi."
nyut
Nyeri itulah yang ia rasakan dengan jawaban Permaisuri Anastasya. Kaisar Alex menguatkan hatinya yang mulai retak sedikit demi sedikit.
"Apa Permaisuri tidak mencintaiku?" tanya Kaisar Alex menatap lekat Permaisuri Anastasya. Hatinya ingin mendengarkan jawaban Anastasya. Apa benar hati Permaisurinya telah berubah?
__ADS_1
Permaisuri Anastasya tersenyum miris, "Cinta, cinta itu memang ada," Permaisuri Anastasya menjeda perkataanya membuat Kaisar Alex sedikit lega.
"Tapi cinta itu telah hilang dan berubah menjadi benci,"
Deg
Bak di sambar petir hati Kaisar Alex hancur berkeping-keping. Kaisar Alex mempercepat penyembuhannya dan langsung berdiri. Ia membalikkan badannya hendak melangkah kan kakinya, tapi berhenti.
"Jangan pernah Yang Mulia mengharapkan cinta ku, karna cinta itu telah pergi dengan seiringnya waktu." ucap Permaisuri Anastasya seraya menyunggingkan bibirnya. Kaisar Alex mengepalkan tangannya. Ia melanjutkan langkah kakinya.
Tidak sampai di depan pintu, Kaisar Alex berpapasan dengan Elisha, pelayan Mery dan Tabib istana.
Merekapun menunduk hormat dengan wajah ketakutan saat melihat tatapan tajam Kaisar Alex.
"Elisha persiapkan dirimu nanti malam. Aku akan bermalam dengan mu." ucap Kaisar Alex datar.
Pelayan Mery dan Tabib istana terkejut, ia takut Permaisuri Anastasya bersedih. Bagi Tabib istana dan pelayan Mery hal itu sudah biasa, mengingat jika Permaisuri Anastasya tidak di cintai Yang Mulia. Tapi bagi Elisha itu adalah awal kemenangannya, ia melirik Permaisuri Anastasya yang tersenyum sinis dan tatapannya beralih ke arah tangan Permaisuri Anastasya yang tidak ada kulit merah. Dirinya terkejut, mungkin Kaisar Alex hanya kasihan padanya itulah yang dipikirkan Elisha.
Setelah kepergian Kaisar Alex, Permaisuri Anastasya angkat bicara. Ia hanya ingin istirahat sejenak.
"Mery, tangan ku sudah sembuh. Sekarang pergilah aku ingin istirahat." perintahnya.
Pelayan Mery melihat ke arah tangan Anastasya, namun tidak ada luka sedikit pun. Ia pun mengangguki perintah sang junjungan.
Apa Yang Mulia melakukannya? jika begitu tadi kenapa Yang Mulia batin Mery dengan pikiran berkecambuk.
__ADS_1