
Duke Rachid tidak terima ia tidak ingin Putri Maya bebas berdua dengan Arnoz begitu saja. "Tapi Permaisuri hamba ..."
Brak
"Beraninya kamu menolak perintah Permaisuri." Bentak Kaisar Alex yang tidak terima dengan penolakan Duke Rachid.
Duke Rachid tidak mau kalah, "Yang Mulia hamba hanya tidak ingin Putri Maya bersama dengan laki-laki lain." ucapnya dengan tangan mengepal.
Permaisuri Anastasya juga tak mau kalah. "Itu semua salah mu. Jika kamu tidak bisa menghargainya sekecil apa pun. Duke tidak akan bisa menjaganya atau mencegahnya untuk pergi." bentak Permaisuri Anastasya, "Dan kami berhak memutuskan hubungan mu dengan Putri Maya, tapi karna kami masih menghargai mu. Setidaknya kami menunggu Putri Maya menyelesaikan Akademiknya. Semua keputusan ada di tangan Putri Maya. Dan aku ingatkan jaga batasan mu dengan Hilda, jangan sampai menyesal."
"Yang Mulia, hamba hanya kasihan dengan Hilda." tegas Duke Rachid. Ia kasihan mengingat Hilda yang masih di salahkah.
"Apa yang kamu lihat belum tentu kebenaran Duke? apa kamu sudah menghilangkan kepercayaan mu pada Putri Maya? Dimana hati mu untuknya. Aku tidak terima Putri Maya di salahkan." ucap Permaisuri Anastasya dengan suara meninggi.
"Dan aku juga tidak terima, sekalipun kamu teman ku semenjak kecil." timpal Kaisar Alex.
__ADS_1
Permaisuri Anastasya beberapa kali harus menghembuskan nafas kasarnya, hanya demi menahan amarah dengan laki-laki di depannya ini.
"Kamu sudah beruntung Duke, pergilah. Selesaikan rumor ini. Lebih cepat lebih baik, jangan sampai kami memutuskan semuanya hari ini." sanggah Kaisar Alex mengancam.
Akhirnya Duke Rachid menyerah, ia sudah berusaha agar tetap bisa bertemu dengan Putri Maya. Namun hasilnya, tidak disangka justru sebaliknya.
Apakah ini terjangan angin untuk hubungan kami batin Duke Rachid dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa sadar arah kaki Duke Rachid berhenti di depan taman yang Putri Maya sukai. Ia mendonggakkan wajahnya, melihat jendela kamar Putri Maya. Di situlah ia melihat Putri Maya berteriak memanggilnya, gadis mungil memperlihatkan giginya yang ompong menggunakan gaun putih.
Duke Rachid tersenyum, ia duduk tepat di samping Putri Maya kecil.
"Paman tau, hal yang paling Maya sukai dari Paman," ucap Putri Maya tersenyum.
"Wajah paman lebih tampan dari Ayahanda. Paman orang yang kuat seperti Ayah. Maya yakin, Paman bisa menjaga Maya seumur hidup Paman dan tidak akan pernah memarahi Maya. Paman tidak akan pernah mengecewakan Maya. Maya tidak sabar ingin menjadi pengantin kecil Paman."
__ADS_1
Duke Rachid terkekeh, ia mengacak poni Putri Maya. "Is, Paman. Maya kan tidak cantik lagi." ucap Putri Maya kesal.
"Putri Maya masih kecil, harus fokus dengan pelajaran tidak perlu membahas masalah pengantin." ucap Duke Rachid gemas, ia mencubit pelan Putri Maya.
"Tapi Paman menyukai Maya kan," ujar Putri Maya menatap lekat Duke Rachid.
Putri Rachid berjongkok, ia mengelus lembut Putri Maya, lalu mencubit hidung mancungnya. "Ya, Paman sangat menyukai Putri Maya. Putri Maya bidadari kecil Paman."
Putri Maya kecil langsung memeluk Duke Rachid. "Berjanjilah Paman tidak akan meninggalkan Maya. Jika kelak Paman membuat Maya menangis. Maya tidak akan pergi dari hidup Paman. Dan saat itu, mungkin Maya tidak bisa kembali lagi pada Paman." tuturnya Putri Maya kecil seraya melepaskan pelukannya.
"Hah, Paman janji, tidak akan membuat Putri Maya menjauh. Bahkan Paman akan sangat menyayangi Putri Maya. Paman akan siap siaga menjaga malaikat kecil Paman." ucap Duke Rachid.
Putri Maya mengangkat jari kelingkingnya, "Berjanjilah Paman." lirih Putri Maya.
Duke Rachid terkekeh, ia mengaitkan jari kelingkingnya. "Ya, Paman janji sayang." ucap Duke Rachid tersenyum.
__ADS_1