
"Uwaa ... Acak ayo teruscan .."
Putri Viola menghentikan mendorong ayunan itu, "Sudah Adik berhentilah, kita harus membersihkan diri." Ucap Putri Viola dengan wajah lesu, ia tidak tahan dengan lengket di tubuhnya.
"Emma ayo kita kesana," ucap Pangeran Abigail yang melangkah kan kakinya, ia mengikuti arah suara itu.
Emma merasa ragu, ia tidak suka bersama mereka. Lebih lagi, ia takut Pangeran Abigail merasa dekat dan melupakan dirinya.
"Tapi Pangeran .."
"Emma, kita tidak boleh seperti itu pada tamu, setidaknya kita harus menghargainya."
"Huft, baiklah Pangeran," Emma menuntun Pangeran Abigail turun dari tangga.
Setelah mendekat ke arah suara itu, "Apa Putri Viola dan Putri Maya senang berada di istana ini?"
Seketika semua orang di sana menoleh, "Ya, kami senang. Apa ini ayunan untuk Pangeran?"
"Iya," jawabnya seraya tersenyum seraya mendekat ke arah Putri Viola.
"Apa Pangeran ingin bermain ayunan?" tawarnya dengan ramah."
Semua yang orang mendengarkan perkataan Putri Viola merasa terharu, mereka tidak menyangka Pangeran Abigail selalu di acuhkan oleh putri dan putra para bangsawan, kini memiliki seorang teman, apa lagi dia seorang Putri.
"Pangeran," Emma yang berdiri di sampingnya menahan lengan Pangeran Abigail, "Pangeran harus istirahat, dan sebentar lagi Pangeran harus meminum obat." sanggah Emma melirik ke arah Putri Viola.
"Emma aku sudah lelah minum obat, biarkan aku .."
__ADS_1
"Tapi Pangeran.."
Putri Viola merasa bersalah, ia tidak enak melihat lirikan dari Emma, "Maaf saya tidak tau," timpal Putri Viola.
Mira menahan geram, bisa-bisanya Emma menahan Putri Viola untuk bermain dengan Pangeran Abigail.
"Emma, kamu ikut Aku. Aku perlu bantuan Mu,"
"Tapi Mir..."
Segera pelayan Mira menarik tangan Emma dan meninggalkan Putri Viola dan Putri Maya, serta Pangeran Abigail dan yang lainnya. Mereka masih melihat Emma dan pelayan Mira yang mulai menjauh.
"Emm, Putri masalah tadi, maaf."
"Acak, udah Acu bilang, dia itu idak uca ama Acak."
"Putri Maya," Putri Viola menatap tajam ke arah Adiknya.
"Maaf atas sikap Adik Saya Pangeran." Putri Viola merasa canggung sendiri."O, iya Pangeran, tadi kan dia mengingatkan Pangeran untuk minum obat, bagaimana jika hamba mengantarkan Pangeran ke ruangan Pangeran," Putri Viola merasa tidak enak karna percakapan tadi, mau tidak mau ia harus menawarkan diri.
"Bo, boleh." jawab Pangeran Abigail, hatinya malas meminum obat. Sudah seminggu ini dia berhenti meminum obat, baginya, walaupun meminum obat tidak akan menyembuhkan penyakitnya itu, tapi setelah Putri Viola menawarkan diri, justru dia bertambah semangat untuk meminum obat.
"Ayo," Putri Viola menggandeng lengan Pangeran Abigail, ia tidak merasakan apa pun, yang ia rasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Setelah di antar oleh Alban dan Arnod, Putri Viola dan Pangeran Abigail masuk ke dalam kamarnya. Putri Viola melihat sekeliling kamar itu, warna tembok ber cat biru, dua lukisan Pangeran Abigail dengan Kaisar Alex dan Permaisuri Flavia dan satu lagi lukisan dirinya dengan sang Adik. Lemari bercat putih, vas bunga mawar, laci dan ranjang yang lumayan besar.
Pangeran Abigail meraba meja kecil di samping tempat tidurnya, ia mengambil sebuah obat di kotak kecil itu.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Putri Viola, melihat dua bungkus obat berwarna putih dan kuning.
"I, iya."
"Adik sebaiknya kamu mandi dulu nanti Kakak akan menyusul."
"Oh, baiklah Acak"
Tinggallah kedua orang itu beserta pelayan Mery dan Ana serta kedua pengawal Kekaisaran Emerald.
Putri Viola memberikan dua obat di tangannya, begitu pun Pangeran Abigail menerima dengan senang hati obat itu, ia memakan obat pemberian Putri Viola.
Setelah memakan obat, Putri Viola mengambil segelas air di atas meja lalu memberikannya pada Pangeran Abigail.
"Baiklah, Saya harus membersihkan tubuh dulu. Sebaiknya Pangeran beristirahat dan sampai jumpa makan malam nanti." ucap Putri Viola tersenyum, ia hendak pergi, tapi langkahnya berhenti ketika Pangeran Abigail memanggilnya, "Putri Viola bolehkah kita berteman,"
Putri Viola tersenyum, "Kita sudah berteman Pangeran." ucapnya lembut dan melanjutkan langkah kakinya.
"Pangeran,"
Pangeran Abigail melihat ke arah suara itu, "Alban kenapa kamu masih disini?"
"Pangeran sepertinya Emma tidak suka dengan kedekatan Pangeran dan Putri Viola, hamba tadi melihatnya wajahnya yang menahan amarah saat Pangeran bersama Putri Viola, sebaiknya Pangeran berhati-hati."
Pangeran Abigail tersenyum, ia menunduk.
"Mungkin ia hanya merasa asing, baiklah Aku akan beristirahat, setelah makan malam jemput Aku." perintahnya.
__ADS_1
"Baik, Pangeran." ucap Alban berlalu pergi.
Putri Viola gumam Pangeran Abigail seraya memegang dadanya yang berdetak kuat, ia merasa senang dengan kedekatannya. Sejenak ia melupakan perkataan Emma yang menjadikannya ragu.